Menu

Dark Mode
Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak HPN 2026 Banten Siap Digelar, PWI Pusat dan Panitia HPN Konsolidasi Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

Kabar Lifestyle

Segmen Kesehatan Pria Jadi Target Baru Startup Telehealth

badge-check


					Foto: Getty Images/PeopleImages Perbesar

Foto: Getty Images/PeopleImages

Jakarta – Segmen kesehatan pria mulai menarik perhatian pelaku industri healthtech di Indonesia. Di tengah rendahnya tingkat kunjungan pria ke layanan kesehatan primer dan meningkatnya tekanan hidup urban, muncul ceruk pasar yang selama ini relatif kurang tersentuh oleh layanan kesehatan konvensional.

Berbagai data menunjukkan tantangan struktural dalam kesehatan pria. Sekitar 35,6% pria dewasa di Indonesia dilaporkan mengalami disfungsi ereksi, sementara lebih dari separuh pekerja di kawasan Jabodetabek menghadapi tekanan mental berat. Di saat yang sama, tren obesitas dan penurunan kadar testosteron di wilayah perkotaan turut memperbesar beban kesehatan kelompok usia produktif.

Kondisi tersebut menciptakan paradoks, seperti kebutuhan kesehatan tinggi, namun utilisasi layanan rendah. Bagi industri digital health, kesenjangan ini membuka peluang pasar yang signifikan, terutama melalui pendekatan layanan jarak jauh yang mengutamakan privasi, efisiensi waktu, dan personalisasi.

Pria usia 30-55 tahun dinilai sebagai segmen strategis. Kelompok ini umumnya memiliki daya beli, melek digital, dan terbiasa dengan layanan berbasis aplikasi, namun kerap enggan mengakses layanan kesehatan secara tatap muka-terutama untuk isu yang dianggap sensitif seperti kesehatan seksual dan mental.

Telehealth hadir sebagai solusi yang relevan secara perilaku konsumen. Model konsultasi jarak jauh dinilai mampu menurunkan hambatan psikologis sekaligus mengakomodasi gaya hidup urban yang serba cepat. Bagi startup healthtech, perubahan ini menandai pergeseran penting dari reactive care menuju preventive dan managed care berbasis data.

Sjati.com, platform kesehatan digital yang berfokus pada kesehatan pria, melihat peluang tersebut sebagai ruang untuk membangun layanan terintegrasi yang tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mendorong keterlibatan pengguna secara berkelanjutan.

Pasar telehealth Indonesia saat ini semakin kompetitif, dengan pemain besar yang menawarkan layanan kesehatan umum maupun spesifik. Namun, segmen kesehatan pria masih relatif niche, terutama yang menggabungkan konsultasi medis, farmasi terstandarisasi, serta manajemen privasi dalam satu ekosistem.

Sjati memposisikan diri bukan sekadar sebagai marketplace produk kesehatan, melainkan sebagai platform berbasis medis (medical-first platform). Teknologi digital dan AI dimanfaatkan untuk membantu proses skrining awal, namun keputusan klinis tetap berada di tangan dokter berizin-sebuah pendekatan yang dinilai penting untuk menjaga kredibilitas dan keberlanjutan bisnis di sektor yang sangat diatur.

“Kepercayaan menjadi mata uang utama di layanan kesehatan digital. Tanpa kepatuhan medis dan regulasi, pertumbuhan jangka panjang akan sulit dicapai,” ujar Delonix, Marketing Director Sjati.

Pendekatan ini juga berpotensi menekan risiko reputasi dan regulasi yang kerap membayangi startup healthtech, khususnya di segmen kesehatan pria yang rentan disusupi produk tidak terstandarisasi.

Dalam konteks industri, kepatuhan terhadap regulasi BPOM dan etika medis mulai dipandang sebagai competitive advantage. Startup yang mampu membangun rantai pasok farmasi terverifikasi, rekam medis elektronik terenkripsi, serta mekanisme pelaporan efek samping dinilai lebih siap untuk skala bisnis jangka panjang dan kolaborasi dengan institusi kesehatan formal.

Sjati menyebut regulasi justru menjadi fondasi penting untuk menciptakan pasar yang sehat dan berkelanjutan, sekaligus membedakan pemain serius dari penyedia layanan oportunistik.

Dengan meningkatnya literasi digital, penetrasi smartphone, serta tekanan hidup urban yang terus naik, layanan kesehatan pria berbasis telehealth diperkirakan akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan berikutnya di sektor healthtech Indonesia.

Lebih dari sekadar layanan kuratif, peluang ke depan dinilai terletak pada pengembangan long-term health management, mulai dari pemantauan kesehatan hormonal, kesehatan mental, hingga edukasi preventif berbasis data.

“Telehealth memberi peluang untuk mengubah cara pria memandang kesehatan-dari sesuatu yang reaktif menjadi investasi jangka panjang,” kata Delonix.

Sumber; detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein

4 February 2026 - 13:19 WIB

Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek

4 February 2026 - 13:16 WIB

Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya

4 February 2026 - 13:14 WIB

Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak

4 February 2026 - 13:11 WIB

Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

3 February 2026 - 11:47 WIB

Trending on Kabar Lifestyle