Menu

Dark Mode
Fakta-fakta dan Spesifikasi Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia Daftar Inovasi BRIN Dipamerkan ke Prabowo: Genteng Hingga Nuklir Pertama di Dunia: Ilmuwan Ciptakan Virus Pakai AI Ahli Ungkap Penampakan Permukaan Matahari Terbaru, Begini Bentuknya Basmi 96 Ular Piton, Pemburu Ini Bawa Pulang Rp 179 Juta AI Permudah Hacker Cari Celah Keamanan, Begini Cara Melawannya

Kabar Lifestyle

Rusia Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Raksasa Antariksa

badge-check


					Rusia Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Raksasa Antariksa
(Foto: Wikimedia Commons)
Perbesar

Rusia Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Raksasa Antariksa (Foto: Wikimedia Commons)

Bayangkan malam hari tiba-tiba berubah terang tanpa lampu. Gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah itu ternyata pernah diuji Rusia lebih dari 30 tahun lalu melalui proyek cermin raksasa di antariksa bernama Znamya. Kini, konsep serupa kembali menarik perhatian sebagai solusi untuk penerangan malam dan peningkatan produksi energi surya.

Pada 1993, Rusia menguji Znamya 2, sebuah cermin reflektif berdiameter sekitar 20 meter yang dibawa wahana kargo Progress M-15 setelah menyelesaikan misinya di stasiun luar angkasa Mir. Ketika cermin dibentangkan di orbit, permukaannya memantulkan sinar Matahari ke Bumi dan menghasilkan berkas cahaya selebar sekitar 5 kilometer dengan tingkat kecerahan yang mendekati cahaya bulan purnama.

Cahaya tersebut melintas dari Prancis selatan hingga Rusia barat dengan kecepatan sekitar 8 kilometer per detik. Meski banyak wilayah tertutup awan, sejumlah pengamat di darat sempat melihat kilatan terang yang menyapu langit.

Proyek Znamya dipimpin insinyur Rusia Vladimir Syromyatnikov. Awalnya, teknologi itu dirancang sebagai layar surya (solar sail) untuk mendorong wahana antariksa menggunakan tekanan cahaya Matahari. Namun, konsep tersebut kemudian diubah menjadi cermin orbit yang memantulkan sinar Matahari ke permukaan Bumi.

Tujuan awalnya adalah memberikan penerangan bagi wilayah terpencil di Siberia, kawasan Arktik, hingga lokasi bencana atau proyek konstruksi yang membutuhkan cahaya tambahan pada malam hari.

Keberhasilan uji coba pertama mendorong Rusia menyiapkan proyek lanjutan Znamya 2.5 pada 1999. Cermin baru ini berdiameter 25 meter dan diperkirakan mampu menghasilkan cahaya setara lima hingga sepuluh kali terang bulan purnama.

Namun, eksperimen itu gagal setelah cermin tersangkut antena wahana Progress saat dibentangkan. Setelah beberapa kali upaya penyelamatan tidak berhasil, wahana akhirnya diarahkan masuk kembali ke atmosfer dan proyek Znamya dihentikan. Rencana membuat versi yang lebih besar, Znamya 3, pun dibatalkan.

Meski proyek Rusia berhenti, gagasan menggunakan cermin di antariksa kembali hidup. Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Reflect Orbital, tengah mengembangkan satelit dengan cermin reflektif besar untuk mengarahkan cahaya Matahari ke lokasi tertentu setelah Matahari terbenam.

Perusahaan tersebut menyebut teknologinya dapat dimanfaatkan untuk proyek konstruksi, operasi pencarian dan penyelamatan, penanggulangan bencana, hingga membantu pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan energi lebih lama setiap hari.

Menurut Reflect Orbital, satelit demonstrasi pertamanya dirancang membawa cermin berukuran sekitar 18 × 18 meter yang mampu memantulkan cahaya dengan intensitas setara sinar bulan ke area berdiameter sekitar 5 kilometer di permukaan Bumi.

Meski menjanjikan berbagai manfaat, konsep cermin antariksa juga memunculkan kekhawatiran. Para astronom menilai pantulan cahaya buatan berpotensi mengganggu pengamatan langit malam, sementara ilmuwan lingkungan mengingatkan perlunya kajian lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap satwa nokturnal dan ekosistem.

Meski demikian, proyek Rusia pada 1993 membuktikan bahwa gagasan mengubah malam menjadi terang bukan sekadar khayalan. Dengan kemajuan teknologi satelit dan material ringan saat ini, konsep tersebut berpeluang kembali diwujudkan dalam skala yang lebih besar di masa depan.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Fakta-fakta dan Spesifikasi Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia

7 August 2026 - 15:13 WIB

Daftar Inovasi BRIN Dipamerkan ke Prabowo: Genteng Hingga Nuklir

7 August 2026 - 15:08 WIB

Pertama di Dunia: Ilmuwan Ciptakan Virus Pakai AI

7 August 2026 - 15:00 WIB

Ahli Ungkap Penampakan Permukaan Matahari Terbaru, Begini Bentuknya

7 August 2026 - 14:57 WIB

Basmi 96 Ular Piton, Pemburu Ini Bawa Pulang Rp 179 Juta

7 August 2026 - 14:53 WIB

Trending on Kabar Lifestyle