Menu

Dark Mode
Startup Ini Bikin Tempat Tinggal di Bawah Laut Ala Bikini Bottom Krisis Iklim Bisa Bikin Manusia Makin Kesepian Apple Uji Chip Memori China Buat Respons Krisis Pasokan Datangi Mapolresta, Kabag Hukum dan HAM Pemkot Bogor Adukan Dugaan Pencemaran Nama Baik Launching Layanan Fertilitas Embria, Pemkot Bogor Dorong Pengembangan Teknologi Kesehatan Nvidia Suntik Firmus, Pabrik AI 170.000 GPU di Batam Dikebut

Kabar Dunia

Pulau Terapung di Samudra Pasifik Ini Punya Pemerintahan Sendiri

badge-check


					Pulau Terapung di Samudra Pasifik Ini Punya Pemerintahan Sendiri Perbesar

KETIKA Anda, dan banyak khalayak lainnya, berusaha bertahan hidup dengan bekerja sesuai aturan yang berlaku, sebuah alternatif ruang hidup berbentuk pulau terapung, tengah diusahakan pembangunannya oleh gabungan kelompok filantropis, akademisi dan investor.

Salah satu sosok yang menonjol dalam konsep di atas adalah Nathalie Mezza-Garcia, seorang ilmuwan politik yang mewujudkan kembali konsep “seavangelesse”, yakni istilah untuk penginjil yang mendukung hidup di luar sistem konvensional.

Dikutip dari CNBC pada Senin (21/5/2018), Mezza-Garcia berbicara tentang apa yang dia lihat sebagai masalah dengan pemerintah, dan mengapa dia percaya startup teknologi harus pergi ke kepulauan Pasifik.

Wanita penganut seavangelesse ini adalah bagian dari tim peneliti pada proyek pulau terapung Blue Frontiers karya Seasteading Institute.

Proyek tersebut merupakan program percontohan dalam kemitraan dengan pemerintah Polinesia Prancis, berisi 300 rumah yang dibangun di sebuah pulau dengan sistem pemerintahan sendiri.

Menariknya, pulau ini juga menganut sistem mata uang mandiri berjuluk Varyon.

“Begitu kita bisa melihat bagaimana pulau pertama ini bekerja efektif, maka kita akan memiliki bukti konsep untuk merencanakan pulau-pulau lainnya sebagai pusat hunian masa depan, yang terbebas dari ancaman perubahan iklim,” kata Mezza-Garcia.

Proyek Blue Frontiers didanai melalui donasi filantropis dan juga penjualan token mata uang Varyon.

Pulau percontohan ini diharapkan akan selesai pada 2022 mendatang, dengan menelan biaya hingga US$ 50 juta, atau setara Rp 709 miliar.

“Ada signifikansi untuk proyek yang diujicobakan di Kepulauan Polinesia ini, yakni wilayah di mana tanah bertumpu pada karang dan akan hilang seiring naiknya permukaan laut,” kata Mezza-Garcia.

Selain menawarkan hunian bagi “pengungsi iklim”, pulau-pulau mandiri tersebut juga dirancang sebagai pusat bisnis yang berada di luar pengaruh peraturan pemerintah.

“Ini berarti ada stabilitas, di luar pengaruh geopolitik, masalah perdagangan dan fluktuasi mata uang. Saya pikir, ini inkubator yang sempurna,” lanjut Mezza-Garcia.

Ditambahkan oleh Mezza-Garcia, proyek ini juga sangat sesuai bagi mereka yang kecewa oleh pemerintah konvensional.

Menurutnya, pemerintah di bawah skema pulau terapung hanya akan ada sebagai penyedia layanan, dan “komunitas terapung” dapat mengatur sendiri.

***

Sumber : CNBC

Foto : liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sekolah Terluar Terbantu Internet Gratis Pemerintah, Tapi…

13 June 2026 - 14:28 WIB

Tak Mau AI Lepas Kendali, Pemerintah Pastikan Perpres AI Terbit Tahun Ini

12 June 2026 - 19:31 WIB

Elon Musk Jadi Manusia Pertama di Dunia dengan Kekayaan Rp 8.311 Triliun

5 October 2025 - 10:50 WIB

Orang-orang Abad ke-20 Santap Daging Gajah Mamut Jadi Steak

3 October 2025 - 11:15 WIB

Ilmuwan Prediksi Alam Semesta Bakal Mengalami Kiamat Kosmik

2 October 2025 - 11:16 WIB

Trending on Kabar Dunia