Menu

Dark Mode
Banu Bagaskara: Kebijakan THR PPPK Paruh Waktu Tidak Adil Danantara Tunjuk Investor Tiongkok untuk Proyek PSEL Bogor Raya Yantie Rachim Serukan Masyarakat Perkuat Semangat Berbagi kepada Anak Yatim Program Kerja 2026 Ditetapkan, Pramuka Kota Bogor Makin Tancap Gas Kwarran Bogor Barat Gelar Ramadan Fest 2026 Balkot Ramadan Festival 2026 Resmi Dibuka, UMKM dan Layanan Publik Hadir di Balai Kota

Kabar Lifestyle

Pakar ITB: Lelang 1,4 GHz Komdigi Percepat Internet Cepat hingga Pelosok

badge-check


					Pakar ITB: Lelang 1,4 GHz Komdigi Percepat Internet Cepat hingga Pelosok Foto: Adi Fida RahmanPakar ITB: Lelang 1,4 GHz Komdigi Percepat Internet Cepat hingga Pelosok Foto: Adi Fida Rahman Perbesar

Pakar ITB: Lelang 1,4 GHz Komdigi Percepat Internet Cepat hingga Pelosok Foto: Adi Fida RahmanPakar ITB: Lelang 1,4 GHz Komdigi Percepat Internet Cepat hingga Pelosok Foto: Adi Fida Rahman

Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB), Ian Josef Matheus Edward, menilai lelang frekuensi 1,4 GHz yang tengah dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) agar koneksi merata dan menghadirkan koneksi internet cepat di pelosok Tanah Air.

Sebagai diketahui, kesenjangan akses internet di era digital di Indonesia saat ini masih terasa, terutama kota-kota besar dengan yang area pelosok, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Ian, dari sisi kesiapan teknologi, penggunaan frekuensi ini tidak akan menjadi hambatan bagi para vendor perangkat.

“Frekuensi 1,4 GHz untuk vendor membuat modemnya tidak masalah karena sudah ada yang 2,4 GHz. Tinggal mengganti beberapa komponen. Jika sudah ada pasar dan masif besar, harga CPE-nya akan murah,” ujar Ian kepada detikINET.

Ian menilai, ketersediaan perangkat pelanggan (CPE) juga akan cepat karena ekosistem sudah siap.

“CPE akan tersedia dengan cepat karena sudah dilakukan pengujian kelayakan dengan jaminan SLA minimal 100 Mbps dan ekosistem dengan sendirinya terbentuk,” katanya.

Ia menambahkan, karena lelang frekuensi ini bersifat regional, maka harga penelitian dan harga lelangnya tidak akan mahal. Kondisi tersebut dinilai akan menurunkan kebutuhan investasi awal dan mempercepat pembangunan jaringan.

“Khusus untuk lelang frekuensi karena bersifat regional, maka research price lelangnya tidak akan mahal. Sehingga capex-nya akan murah, sehingga pembangunan akan cepat dan layak untuk sebagai enabler internet fixed broadband 100 Mbps,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan jaringan di frekuensi 1,4 GHz perlu mengutamakan asas manfaat dan pemerataan.

“Kalau saya mengharapkan pembangunan diutamakan pemberian dampak manfaat terbesar lalu yang berkeadilan dan merata,” kata Ian.

Selain itu, kewajiban pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) juga harus menjadi prioritas, dengan tetap menjaga keseimbangan bisnis.

“Kewajiban membangun daerah 3T lebih diutamakan tentu dengan pertimbangan keseimbangan bisnis juga untuk daerah gemuk, sehingga perusahaan tetap sehat dengan fixed wireless access broadband 1,4 GHz,” tuturnya.

Meski begitu, Ian menegaskan bahwa teknologi di pita 1,4 GHz ini sebaiknya berfungsi sebagai pendamping teknologi yang sudah ada, bukan pengganti.

“Yang perlu diperhatikan teknologi ini sebagai pendamping teknologi yang sudah ada baik fixed broadband optik, seluler maupun Wi-Fi. Dengan tujuan percepatan penetrasi dan bandwidth lebar yang sangat baik untuk kecepatan tinggi,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah

10 March 2026 - 22:37 WIB

Printer 3D Bambu Lab Resmi Masuk Indonesia

7 March 2026 - 21:26 WIB

Vidi Aldiano Meninggal, Netizen Berduka Cita

7 March 2026 - 21:20 WIB

Senjata AI Ini Jadi Kunci Serangan AS ke Iran, Bisa Hantam 1000 Target

7 March 2026 - 21:16 WIB

AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

7 March 2026 - 21:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle