Menu

Dark Mode
Optimalkan Aliran Air 24 Jam, Tirta Pakuan Lakukan Komisioning PKK Kelurahan Cipete Utara Dukung Gerakan RT/RW Sadar BPJS Ketenagakerjaan REKA Bogor Gelar Rekaloka 2026, Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Naik Kelas Sinergi Tanpa Batas: BPJS Ketenagakerjaan, Jasa Raharja, dan Polri Perkuat Kolaborasi Demi Layanan Prima Korban Kecelakaan Kerja Gunung Slamet Dibuka Lagi Hari Ini, Kuota Pendakian Dibatasi Blueberry untuk Kesehatan Tulang, Benarkah Bisa Cegah Osteoporosis?

Kabar Lifestyle

Ngeri! 15.800 Ton Sampah Antariksa Menuju Bumi dengan Kecepatan Tinggi

badge-check


					Ilustrasi sampah luar angkasa. (Foto: Getty Images/janiecbros) Perbesar

Ilustrasi sampah luar angkasa. (Foto: Getty Images/janiecbros)

Keadaan di luar angkasa saat ini sedang tidak baik-baik saja. Puing-puing atau sampah yang melayang di sekitar orbit Bumi begitu banyak, jumlahnya hingga 15.800 ton atau setara dengan pecahan 40 pesawat jumbo.

Menurut data dari Space-Track dan Jaringan Pengawasan Luar Angkasa Amerika Serikat (AS), lebih dari 33 ribu objek yang dilacak saat ini mengorbit Bumi. Kecepatan sampah luar angkasa ini sekitar 28.000 km/jam.

Para ilmuwan menegaskan, bahwa bahkan fragmen terkecil pun dapat merusak pesawat ruang angkasa, satelit, dan stasiun yang beroperasi di orbit Bumi rendah. Penumpukan puing yang semakin meningkat ini menimbulkan kekhawatiran akan reaksi berantai, yang dikenal sebagai Sindrom Kessler.

Sindrom Kessler ialah skenario tabrakan antar objek yang mengakibatkan lebih banyak puing, sehingga meningkatkan kemungkinan kecelakaan di masa mendatang.

Para peneliti mengungkapkan, dari 33.269 objek yang dilacak, 12.550 di antaranya adalah fragmen puing, sedangkan 17.682 merupakan satelit operasional. Ini berarti ada sekitar tujuh objek puing yang terlacak untuk setiap 10 satelit yang saat ini beroperasi di orbit.

“Bahayanya bukan hanya seberapa banyak puing-puing di luar angkasa, tetapi juga kepadatan dan kecepatan puing-puing tersebut,” catat laporan itu.

Insinyur Aerodinamika di Tim Roket Universitas Bath, Emily Sacchi, memperingatkan bahwa situasi tersebut mungkin akan terus memburuk terlepas dari aktivitas peluncuran di masa mendatang.

“Bahkan dalam skenario di mana tidak ada peluncuran lebih lanjut yang terjadi, tingkat puing-puing akan tetap meningkat, karena peristiwa tabrakan dan fragmentasi menghasilkan puing-puing baru lebih cepat daripada objek yang sudah ada yang dapat memasuki kembali atmosfer secara alami,” katanya.

Laporan tersebut mengidentifikasi China, CIS, dan Amerika Serikat sebagai penyumbang terbesar puing-puing di orbit Bumi. Kontribusi China sebagian besar terkait dengan uji coba anti-satelitnya pada 2007, sementara Amerika Serikat mencakup fragmen yang dihasilkan oleh tabrakan tahun 2009 antara Iridium 33 dan Kosmos 2251.

Pemerintah, badan antariksa, dan perusahaan swasta kini berinvestasi besar-besaran dalam teknologi yang dirancang untuk membersihkan puing-puing dari orbit sebelum masalah tersebut semakin memburuk.

Badan Antariksa Eropa mendukung misi ClearSpace-1, yang diperkirakan akan diluncurkan pada 2029, bertujuan untuk menangkap puing-puing antariksa menggunakan lengan robot. Teknologi lain yang sedang dikembangkan meliputi sistem penangkapan magnetik, tali pengikat elektrodinamik, tombak, layar penarik, dan sistem penghapusan puing berbasis laser.

“Lengan robot dan mekanisme seperti cakar dapat diadaptasi lebih dari sekadar pembersihan puing sekali pakai. Teknologi yang sama dapat mendukung inspeksi, perawatan di orbit, pengisian bahan bakar, dan perpanjangan umur, yang membuatnya lebih berkelanjutan secara komersial,” kata Insinyur Propulsi di Tim Roket Universitas Bath, Surabhi Sathish.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa pembersihan puing-puing berskala besar masih sulit secara teknis dan sangat mahal.

“Penghapusan puing secara aktif belum pernah didemonstrasikan pada tingkat komersial,” kata Kepala Bagian Propulsi di Tim Roket Universitas Bath, Hrishi Dave, dilansir Interesting Engineering, Selasa (2/6/2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

REKA Bogor Gelar Rekaloka 2026, Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Naik Kelas

11 June 2026 - 08:57 WIB

Gunung Slamet Dibuka Lagi Hari Ini, Kuota Pendakian Dibatasi

10 June 2026 - 13:03 WIB

Blueberry untuk Kesehatan Tulang, Benarkah Bisa Cegah Osteoporosis?

10 June 2026 - 12:58 WIB

Mengapa Ada Orang yang Tak Suka Mengikuti Berita? Ini Alasannya

10 June 2026 - 12:35 WIB

Nah Loh! Selingkuhan Bill Gates Ternyata yang Kenalkan ke Epstein

10 June 2026 - 12:31 WIB

Trending on Kabar Lifestyle