Menu

Dark Mode
Mitos dan Fakta Ikan Oarfish yang Kerap Dikaitkan dengan Bencana Komdigi Panggil Meta Buntut Peretasan dan Suspend Massal Akun WhatsApp AI Grok Bicara dengan Kalimat Aneh, Bikin Pengguna X Geger Kabel Laut Bertambah, Harga Internet RI Bisa Makin Murah? AI Bikin Kebutuhan Data Center RI Melonjak, Telkom Genjot Capex Lupakan Mars, Venus Justru Bisa Jadi Tujuan Manusia

Kabar Lifestyle

Lupakan Mars, Venus Justru Bisa Jadi Tujuan Manusia

badge-check


					Lupakan Mars, Venus Justru Bisa Jadi Tujuan Manusia (Foto: Getty Images/iStockphoto/buradaki)
Perbesar

Lupakan Mars, Venus Justru Bisa Jadi Tujuan Manusia (Foto: Getty Images/iStockphoto/buradaki)

Mars selama ini menjadi kandidat utama tujuan manusia setelah Bulan. Namun, ada sebuah gagasan yang menawarkan pilihan yang tidak kalah menarik, Venus.

Sekilas, Venus terdengar seperti pilihan yang buruk. Permukaannya memiliki suhu sekitar 465 derajat Celsius, tekanan atmosfernya sangat tinggi, dan awannya mengandung asam sulfat. Namun, ada satu wilayah Venus yang justru memiliki kondisi jauh lebih bersahabat bagi manusia: atmosfer pada ketinggian sekitar 50-60 kilometer di atas permukaan.

Dikutip dari IFLScience Dr Alfredo Carpineti yang memiliki latar belakang astrofisika, menilai eksplorasi Venus dengan manusia layak dipertimbangkan. Permukaan Venus memang sangat ekstrem. Namun, semakin tinggi dari permukaannya, kondisi atmosfer berubah drastis.

Pada ketinggian 50-60 kilometer, suhu dan tekanan atmosfer Venus berada pada kisaran yang jauh lebih mirip kondisi Bumi. Atmosfer Venus yang didominasi karbon dioksida juga dapat memberikan perlindungan tertentu dari radiasi.

Karena itu, alih-alih mendarat di permukaan, manusia secara teoritis dapat membangun habitat terapung di atmosfer Venus. Konsepnya bukan berarti manusia benar-benar hidup bebas di awan. Habitat harus berupa struktur tertutup dengan atmosfer yang dapat dihuni manusia.

Gas di dalam habitat yang lebih ringan daripada atmosfer Venus juga secara prinsip dapat memberikan daya apung. Konsep kota terapung seperti ini sebenarnya sudah lama dibahas dalam kajian eksplorasi Venus.

Ada alasan lain yang membuat Venus menarik, jaraknya dari Bumi. Pada konfigurasi terdekat, Venus dapat berada sekitar 38 juta kilometer dari Bumi. Mars, dalam konfigurasi terdekatnya, berjarak sekitar 56 juta kilometer.

Jendela peluncuran menuju Venus juga muncul kira-kira setiap 19 bulan, sedangkan kesempatan peluncuran menuju Mars sekitar setiap 26 bulan. Beberapa wahana robotik bahkan telah membuktikan perjalanan menuju Venus dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.

Venera 1 mencapai Venus dalam 97 hari, sementara Venus Express milik ESA membutuhkan 153 hari untuk mencapai orbit Venus. Namun, jarak bukan satu-satunya faktor penentu. Jalur penerbangan, kebutuhan energi, posisi planet dan desain misi tetap menentukan berapa lama perjalanan sebenarnya.

Masalah Serius Mars dan Venus
Mars memang memiliki permukaan padat yang memungkinkan manusia mendarat dan membangun habitat. Namun, planet merah juga memiliki lingkungan yang sangat berbeda dari Bumi.

Atmosfer Mars sangat tipis sehingga perlindungan terhadap radiasi relatif rendah. Suhu permukaannya juga sangat dingin dan air dalam bentuk cair tidak stabil di permukaan. Carpineti bahkan menyoroti persoalan lain: debu Mars dan kandungan kimia tanahnya dapat menjadi tantangan bagi manusia serta sistem pertanian di sana.

Sementara itu, gravitasi Mars hanya sekitar 38% gravitasi Bumi. Paparan gravitasi rendah dalam jangka panjang berpotensi menjadi persoalan kesehatan bagi manusia. Venus memiliki gravitasi sekitar 90% gravitasi Bumi, sehingga secara teori lebih dekat dengan kondisi gravitasi yang dialami manusia di planet asalnya.

Bukan berarti Venus tiba-tiba menjadi tujuan yang mudah. Habitat terapung harus menghadapi angin sangat kencang. Pada ketinggian yang dianggap relatif bersahabat tersebut, kecepatan angin dapat mencapai sekitar 210-370 kilometer per jam. Selain itu, awan Venus mengandung asam sulfat yang sangat korosif.

Artinya, material habitat harus mampu bertahan dalam lingkungan kimia yang ekstrem. Persoalan lain adalah bagaimana manusia memperoleh makanan, air, energi dan berbagai kebutuhan hidup selama berada jauh dari Bumi.

Carpineti mengakui tantangan tersebut. Namun, menurutnya, teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasinya juga berpotensi bermanfaat di Bumi. “Kita perlu mencari solusinya sekarang dan di sini, di Bumi,” tulisnya.

Misalnya, teknologi untuk membuat struktur tahan badai atau sistem produksi pangan dengan sumber daya terbatas dapat memiliki manfaat langsung di Bumi. Untuk saat ini, tidak ada konsensus ilmiah bahwa Venus lebih layak daripada Mars sebagai tujuan manusia.

Mars masih menjadi salah satu target utama eksplorasi berawak karena permukaannya relatif lebih mudah diakses dan berbagai teknologi pendukungnya terus dikembangkan. Gagasan Venus lebih tepat dipandang sebagai alternatif yang layak dipelajari, terutama konsep habitat terapung di atmosfernya.

Justru bagian paling menarik dari ide ini adalah manusia tidak harus ‘menaklukkan’ permukaan Venus yang mematikan. Mereka bisa tinggal puluhan kilometer di atasnya, di lapisan atmosfer yang kondisinya jauh lebih bersahabat. Dengan kata lain, jika manusia suatu hari benar-benar mengirim misi berawak ke Venus, tujuannya mungkin bukan mendarat di Venus, melainkan terbang dan hidup di atasnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mitos dan Fakta Ikan Oarfish yang Kerap Dikaitkan dengan Bencana

26 August 2026 - 21:31 WIB

Komdigi Panggil Meta Buntut Peretasan dan Suspend Massal Akun WhatsApp

26 August 2026 - 21:26 WIB

AI Grok Bicara dengan Kalimat Aneh, Bikin Pengguna X Geger

26 August 2026 - 21:21 WIB

Kabel Laut Bertambah, Harga Internet RI Bisa Makin Murah?

26 August 2026 - 21:18 WIB

AI Bikin Kebutuhan Data Center RI Melonjak, Telkom Genjot Capex

26 August 2026 - 21:15 WIB

Trending on Kabar Lifestyle