Menu

Dark Mode
Bocah 9 Tahun Bikin Museum dan Sabet Guiness World Record Fakta Unik Tata Kota Barcelona Kotak-kotak, Ini Sejarahnya Keputusan MK: Kuota Harus Bisa Dipakai Sampai Habis Potensi Ekonomi Digital Indonesia Kalau Didukung AI Sentuh Rp 66 Triliun Terungkap, Gates Foundation 30 Kali Ketemu Epstein, Ada Bill Gates Empat Isu Strategis Jadi Bahasan di Rakorkomwil III Apeksi

Kabar Lifestyle

Lelang Frekuensi 5G Terdampak Gejolak Dolar AS? Ini Kata Komdigi

badge-check


					Ilustrasi jaringan internet yang dipancarkan dari BTS operator seluler. 
(Foto: Tripa Ramadhan)
Perbesar

Ilustrasi jaringan internet yang dipancarkan dari BTS operator seluler. (Foto: Tripa Ramadhan)

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebutkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan mempengaruhi lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang sedang berlangsung saat ini.

Kedua spektrum tersebut disiapkan pemerintah untuk menggenjot kualitas dan kecepatan internet Indonesia yang selama ini masih terbatas, khususnya untuk penggelaran 5G. Spektrum ini juga dinilai cocok untuk memperbaiki koneksi internet RI dari sebelumnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah semakin tertekan oleh penguatan dolar AS. Berdasarkan pantauan saat ini, kurs USD 1 sudah mencapai Rp 18.125. Komdigi mengatakan kondisi pergerakan dolar AS yang menguat tidak mempengaruhi lelang frekuensi.

“Tidak. Tidak ada,” ujar Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital, Kementerian Komdigi, Denny Setiawan di Jakarta, Senin (9/6/2026).

Terdapat tiga operator seluler, yaitu Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XLSmart tengah berebut kedua pita frekuensi tersebut yang dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan internet seluler di Indonesia, baik 4G maupun 5G.

Dalam lelang frekuensi 700 MHz, Komdigi membuka pemanfaatannya di rentang 703-738 MHz (uplink) yang berpasangan dengan 758-793 MHz (downlink) dengan total lebar pita 70 MHz. Sebagai pita frekuensi rendah, spektrum ini punya keunggulan sinyal lebih luas dan kemampuan penetrasi lebih baik ke dalam gedung maupun berbagai kondisi geografis.

Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz merupakan pita frekuensi menengah yang memiliki kapasitas lebih besar untuk menampung trafik data tinggi. Frekuensi ini cocok digunakan di wilayah perkotaan yang padat penduduk dan memiliki kebutuhan internet besar, seperti kawasan bisnis, pusat perbelanjaan, kampus, hingga area industri. Total lebar pita 190 MHz yang dilelang di spektrum ini.

Denny memastikan bahwa seleksi pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz tidak bisa dibagi rata meski jumlah operator seluler saat ini tinggal tiga perusahaan. “Tidak dibagi rata, harus ada kompetisi,” ungkap Denny.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Bocah 9 Tahun Bikin Museum dan Sabet Guiness World Record

24 July 2026 - 11:41 WIB

Fakta Unik Tata Kota Barcelona Kotak-kotak, Ini Sejarahnya

24 July 2026 - 11:38 WIB

Keputusan MK: Kuota Harus Bisa Dipakai Sampai Habis

24 July 2026 - 11:33 WIB

Potensi Ekonomi Digital Indonesia Kalau Didukung AI Sentuh Rp 66 Triliun

24 July 2026 - 11:29 WIB

Terungkap, Gates Foundation 30 Kali Ketemu Epstein, Ada Bill Gates

24 July 2026 - 11:26 WIB

Trending on Kabar Lifestyle