Menu

Dark Mode
Kadispen Kodaeral IV Batam Hadiri Rakornispen TNI 2026 di Cilangkap HoYoverse Gugat Leaker Geshin Impact HomDGCat, Didenda Rp 2,5 Miliar AS Selundupkan Ribuan Terminal Starlink ke Iran Mengenal Titan Durability Andalan Redmi Note 15 Pro+ 5G Satelit Ungkap Realita Megaproyek Kota Futuristik Saudi Rp 33,6 Kuadriliun Kwarcab Kota Bogor Ikuti Rakor dan Bintek Ayo Pramuka

Headline

Tradisi Berdarah Masyarakat di Atlantik

badge-check


					Tradisi Berdarah Masyarakat di Atlantik Perbesar

MASYARAKAT di Kepulauan Faroe, yang berlokasi d antara Norwegia dan Islandia, dikenal cukup selektif dalam menerima orang asing yang datang ke sana.

Maka, suatu keajaiban ketika belum lama ini, masyarakat setempat membiarkan orang luar datang membawa kamera dan sederet pertanyaan.

Dikutip dari News.com.au pada Selasa (3/4/2018), khalayak kerap menganggap masyarakat Kepulauan Faroe sebagai pembunuh paus. Mereka juga kerap disebut sebagai kelompok nelayan yang tidak beperasaan, karena rutin membunuh sekitar 800 ekor paus pada setiap musim panas.

Namun, apa yang ditemukan oleh para pembuat film dokumenter dalam proyek yang berlangsung selama lima tahun, Kepulauan Faroe memiliki lebih banyak cerita dari sekedar pembunuh paus.

Penduduk setempat menyebut tradisi perburuan paus dengan sebutan ‘menggiling’, yang setiap musim panas, selalu menjadikan perairan di sekitarnya penuh dengan darah.

Para paus digiring melewati jalur sempit, menuju sebuah teluk kecil. Di sana, mereka dibunuh secara brutal, namun dianggap biasa oleh masyarakat setempat.

Dilihat dari status adminsitratif, Kepualuan Faroe merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Denmark, yang secara hukum melarang perburuan paus. Namun, masyarakat di sana, telah melakukan tradisi tersebut, jauh sebelum ditaklukkan oleh bangsa daratan Eropa.

Mereka dikenal enggan bercerita dengan orang luar tentang tradisi berdarah tersebut. Namun, seorang sineas film asal Skotlandia, Mike Day, berhasil meyakinkan masyarakat setempat untuk mengizinkan pengambilan gambar. Sesuatu yang mustahil dilakukan sebelumnya.

Dia mengaku tidak akan membuan cerita sensasional, atau fokus pada isu pembantaian. Alih-alih, dia ingin mengenal masyarakat setempat, dan mencari tahu apa alasan yang membuat mereka tertarik melestarikan tradisi kontroversial tersebut.

Debut film dokumenternya, The Island and the Whales, berhasil merekam pemandangan luar biasa dalam tradisi perburuan paus.

Ia memperlihatkan bagaimana ratusan warga berlumuran darah, dari kepala sampai kaki, saat berjibaku membunuh kawanan paus yang telah terjebak di sebuah teluk sempit.

“Sebelumnya, banyak liputan justru menjelekkan dan menyimpulkan sepihak tradisi tersebut, tapi bagi saya, ada cerita yang jauh lebih besar dari sudut pandang masyarakat di sana,” jelas Mike.
***

Sumber : News.com.au
Foto : liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kadispen Kodaeral IV Batam Hadiri Rakornispen TNI 2026 di Cilangkap

13 February 2026 - 17:29 WIB

Kwarcab Kota Bogor Ikuti Rakor dan Bintek Ayo Pramuka

12 February 2026 - 23:44 WIB

Sinergi TNI–Kementerian Percepat Pembangunan Huntara, Huntap dan Infrastruktur di Sumatera

12 February 2026 - 22:58 WIB

Luncurkan Ambulance, Dedie Jenal Apresiasi PWI Kota Bogor

12 February 2026 - 08:24 WIB

PPLI Dukung Program 1 Hektar Hutan Kota Pemkab Bogor

5 February 2026 - 23:26 WIB

Trending on Headline