JAKARTA – Rezim Iran kini melancarkan operasi perang elektronik yang agresif dengan mengacak sinyal (jamming) GPS untuk melumpuhkan terminal satelit Starlink, sebuah langkah putus asa demi memblokir satu-satunya celah komunikasi independen yang tersisa di tengah penumpasan berdarah yang telah menewaskan sedikitnya 646 demonstran.
Serangan teknis yang dimulai sejak Kamis lalu ini secara spesifik menargetkan sistem navigasi pada perangkat penerima sinyal untuk mencegah bocornya bukti kekejaman aparat ke dunia luar, mengingat pemerintah telah memberlakukan pemadaman internet total (blackout) sebagai strategi utama untuk meredam eskalasi protes yang dipicu oleh krisis ekonomi.

Dikutip dari independent.co.uk (14/1/2026), Mahsa Alimardani, Spesialis Represi Digital dari organisasi Witness, mengungkapkan bahwa gangguan sinyal ini terjadi secara masif sejak awal pemadaman, berdampak langsung pada kinerja sekitar 50.000 hingga 100.000 terminal Starlink yang diperkirakan beroperasi di negara tersebut.
Meskipun serangan ini tidak sepenuhnya efektif terbukti dengan masih adanya rekaman video kekerasan yang berhasil diunggah para ahli menegaskan bahwa Starlink belum bisa menjadi solusi instan bagi 90 juta populasi yang terisolasi.
Wacana penggunaan teknologi direct-to-cell (satelit langsung ke ponsel) sebagai alternatif juga menghadapi hambatan besar karena membutuhkan investasi mahal dan pembelian spektrum frekuensi radio untuk memintas operator lokal, sebuah langkah jangka panjang yang mustahil dieksekusi cepat dalam situasi darurat ini.
Efektivitas pemadaman total ini berakar pada sentralisasi infrastruktur telekomunikasi yang dibangun sistematis oleh Teheran pasca-kerusuhan 2009, di mana Garda Revolusi (IRGC) kini menguasai 51% saham perusahaan telekomunikasi negara dan memegang kendali penuh atas seluruh gerbang internet (gateways) nasional.
Struktur kepemilikan ini memungkinkan rezim untuk memutus akses secara total hanya dengan satu perintah kepatuhan kepada penyedia layanan internet (ISP), sebuah taktik “opsi terakhir” yang menurut analis mencerminkan ketakutan mendalam pemerintah akan hilangnya kendali atas rakyatnya sendiri.
Karena meskipun Starlink dipancarkan melalui satelit tetapi tetsap saja sumber internetnya berasal dari stasiun bumi provider ISP lokal. Artinya, kalaupun jaringan GPS tidak diganggu jamming, tetap saja sumber internet di atas langit Iran terputus jika provider lokal tersebut diminta pemerintah menghentikan pasokan internet ke Starlink.
Seperti diketahui, aksi demo besar di Iran didukung oleh bazaaris yang dahulu pada 1979 Revolusi Iran justru menjadi pendukung utama gerakan massa meruntuhkan rezim Reza Phalevi. Siapa bazaaris di Iran? (SF)
Sumber: idnfinancials.com














