Menu

Dark Mode
Ikan Gabus Raksasa Serang Manusia, Gigitan dan Tabrakannya Berbahaya Rezeki Nomplok Sopir Truk Temukan Harta Karun Cincin Emas 48 Gram Kok Bisa, Batu Altar Stonehenge Seberat 6 Ton Pindah 700 Km Lintas Inggris? Arkeolog Gali Kuburan 700 Tahun Milik Ratu Abad Pertengahan, Temukan Kejutan Meteorit di Gurun Sahara Ternyata Dunia yang Hilang Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau, BMKG Ungkap Penyebabnya

Kabar Lifestyle

Ikan Gabus Raksasa Serang Manusia, Gigitan dan Tabrakannya Berbahaya

badge-check


					Foto: Discover Wildlife Perbesar

Foto: Discover Wildlife

Jakarta – Ikan gabus dikenal luas sebagai ikan air tawar yang banyak ditemukan di Indonesia. Namun, ada satu spesies yang memiliki reputasi jauh lebih menyeramkan, yakni ikan gabus raksasa atau giant snakehead (Channa micropeltes).

Meski ukurannya tidak sebesar beberapa ikan air tawar raksasa lainnya, gabus raksasa tetap tergolong predator tangguh. Ikan ini dapat tumbuh hingga panjang sekitar 1,5 meter dengan bobot mencapai 30 kilogram.

Tubuhnya yang memanjang dipadukan dengan ekor besar yang kuat memungkinkan ikan ini melesat dengan kecepatan tinggi dalam jarak pendek. Kemampuan tersebut membuatnya sangat efektif menyergap mangsa, bahkan berani menyerang hewan yang ukurannya lebih besar dari dirinya.

Bisa Hidup di Air Minim Oksigen hingga Bertahan di Darat
Gabus raksasa merupakan spesies asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Semenanjung Malaya. Salah satu keunikan utamanya adalah kemampuan bertahan hidup di berbagai lingkungan perairan tawar.

Di balik insangnya terdapat organ khusus yang disebut suprabranchial chamber. Organ ini berfungsi layaknya paru-paru sederhana yang memungkinkan ikan mengambil oksigen langsung dari udara saat muncul ke permukaan.

Berkat kemampuan tersebut, gabus raksasa dapat hidup di perairan yang miskin oksigen, seperti rawa atau kolam berlumpur. Bahkan, ikan ini juga mampu bertahan cukup lama di daratan.

Posisi sirip perut yang dekat dengan sirip dada membantu ikan tetap stabil saat berada di luar air. Dengan gerakan tubuh berkelok menyerupai ular, gabus raksasa dapat berpindah tempat dalam jarak tertentu.

Secara fisik, bagian punggung ikan dewasa berwarna gelap dengan corak hijau dan merah muda yang terkadang tampak berkilau saat terkena sinar matahari. Sementara itu, bagian perutnya berwarna lebih terang dan dipisahkan oleh garis hitam tebal di sepanjang tubuh.

Predator Rakus dengan Gigi Tajam
Gabus raksasa dikenal sebagai pemangsa oportunis yang tidak pilih-pilih makanan. Mulutnya lebar dengan deretan gigi tajam seperti pisau cukur.

Saat berburu, ikan ini biasanya melakukan serangan mendadak. Dalam beberapa kasus, mangsanya bahkan bisa terpotong menjadi dua akibat gigitan awal yang sangat kuat.

Makanan gabus raksasa sangat beragam, mulai dari ikan lain, amfibi, udang dan krustasea, hingga burung air dan mamalia kecil. Mereka mampu memangsa hewan yang panjang tubuhnya mencapai sepertiga ukuran tubuh mereka sendiri.

Kemampuan bernapas langsung dari udara juga membuat spesies ini populer di kalangan penghobi akuarium. Namun, sifat agresif dan ukurannya yang besar membuat pemeliharaannya tidak mudah.

Benarkah Bisa Menyerang Manusia?
Meski terdengar mengerikan, serangan gabus raksasa terhadap manusia tergolong jarang terjadi. Sebagian besar insiden terjadi karena ikan merasa terancam, terutama saat menjaga telur atau anak-anaknya.

Baik induk jantan maupun betina dikenal sangat protektif. Mereka dapat meluncurkan serangan mendadak ke arah penyelam atau orang yang terlalu dekat dengan sarangnya.

Beberapa laporan menyebutkan penyelam pernah ditabrak begitu keras hingga kehilangan napas untuk sementara waktu. Bahkan ada kasus yang diperdebatkan di Thailand yang mengaitkan tenggelamnya seseorang dengan serangan ikan ini.

Selain tabrakan, gigitan gabus raksasa juga dapat menyebabkan luka robek yang cukup serius. Luka tersebut berisiko mengalami infeksi dan memerlukan penanganan medis.

Jadi Ancaman di Sejumlah Negara
Popularitas gabus raksasa sebagai ikan peliharaan ternyata memunculkan masalah baru. Banyak individu yang lolos dari penangkaran atau sengaja dilepas ke alam liar.

Akibatnya, spesies ini kini ditemukan di sejumlah wilayah di luar habitat aslinya. Di Amerika Serikat, misalnya, gabus raksasa telah tercatat di sedikitnya enam negara bagian.

Kemampuan bertahan hidup di berbagai kondisi lingkungan membuat spesies ini dianggap invasif. Populasinya juga menimbulkan kekhawatiran di beberapa wilayah seperti Sri Lanka dan Taiwan karena berpotensi mengancam ikan lokal.

Bahkan, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat agar berhati-hati jika menemukan gabus raksasa di alam.

Bagi masyarakat Indonesia, keberadaan gabus raksasa mungkin bukan hal asing. Namun melihat ukuran, kekuatan, dan sifat agresifnya saat melindungi anak, ada baiknya tetap menjaga jarak jika bertemu predator air tawar satu ini, demikian dilansir dari Discover Wildlife.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Rezeki Nomplok Sopir Truk Temukan Harta Karun Cincin Emas 48 Gram

8 June 2026 - 15:47 WIB

Kok Bisa, Batu Altar Stonehenge Seberat 6 Ton Pindah 700 Km Lintas Inggris?

8 June 2026 - 15:45 WIB

Arkeolog Gali Kuburan 700 Tahun Milik Ratu Abad Pertengahan, Temukan Kejutan

7 June 2026 - 22:16 WIB

Meteorit di Gurun Sahara Ternyata Dunia yang Hilang

7 June 2026 - 22:09 WIB

Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau, BMKG Ungkap Penyebabnya

5 June 2026 - 14:10 WIB

Trending on Kabar Lifestyle