Menu

Dark Mode
Donald Trump Ubah Nama AI Jadi SI, Alasannya Tak Terduga Dunia Bersiap Hadapi Petaka Besar, PBB Pertemukan Amerika-China Bos Nvidia Blak-blakan, Yakin AI Tak Bisa Musnahkan Manusia Data Center AI Butuh Listrik Jumbo, Dunia Mulai Khawatir Telkomsel Latih Ribuan Guru Kuasai AI Lewat CSR Terpujilah GURU 2026 Wajah Baru BlackBerry Setelah Tak Lagi Jualan HP

Kabar Lifestyle

Hasil ‘Pemeriksaan Kesehatan’ Planet Sebut Warga Bumi Langgar Batas

badge-check


					Hasil 'Pemeriksaan Kesehatan' Planet Sebut Warga Bumi Langgar  Batas (Foto: NASA) Perbesar

Hasil 'Pemeriksaan Kesehatan' Planet Sebut Warga Bumi Langgar Batas (Foto: NASA)

Bukan hanya manusia yang harus rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, planet yang kita tinggali juga. Seiring dengan perubahan iklim di seluruh dunia yang lebih cepat dari yang diperkirakan, kini tampaknya kita telah mencapai tonggak suram lainnya.

Dalam laporan Planetary Health Check 2026, dari sembilan ‘batas planet’ yang telah diidentifikasi oleh para ilmuwan sebagai hal yang diperlukan agar kehidupan di Bumi dapat berkembang, manusia kini telah melanggar tujuh di antaranya.

Pelanggaran batas ini termasuk perubahan iklim, kerusakan alam, perubahan penggunaan lahan, gangguan siklus air, penggunaan pupuk yang berlebihan, polusi, dan untuk pertama kalinya, pengasaman laut.

Dua masalah yang belum kita atasi ‘hanyalah’ penipisan lapisan ozon dan polusi udara. Laporan yang telah diterbitkan Potsdam Institute untuk Penelitian Dampak Iklim itu mencatat bahwa meskipun kedua masalah ini sebenarnya telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan risiko dari aerosol atmosfer di beberapa bagian dunia.

“Diagnosisnya jelas. Tekanan meningkat di setiap Batas Planet yang sudah berada di luar ruang operasi yang aman,” jelas Boris Sakschewski, penulis utama Planetary Health Check 2026, dikutip dari IFL Science.

“Ini berarti bahwa risiko perubahan berskala besar, berkelanjutan, dan berpotensi tidak dapat dipulihkan semakin meningkat, sementara ruang lingkup kesalahan kita dalam mengatasi masalah ini semakin menyempit,” imbuhnya.

Ini jelas menjadi kekhawatiran bagi siapa pun yang ingin hidup di planet yang sehat dan berkelanjutan. Namun, laporan tersebut juga menekankan bahwa semua ini bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan.

Manusia tahu apa yang dibeberkan sains dan memiliki solusi yang dibutuhkan untuk memperbaiki setiap masalah ini. Yang kita butuhkan adalah kemauan politik dan sosial untuk melakukan sesuatu merespons hal itu.

Dampak global yang sedang terjadi
Konsekuensi dari ketidakseimbangan sistem planet ini telah dirasakan di setiap benua. Selama 12 bulan terakhir, manusia telah menyaksikan serangkaian keadaan darurat lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di Eropa, banyak negara mengalami musim panas terpanas sepanjang sejarah tahun ini, dengan suhu mencapai 48,4 derajat celcius di Sardinia, Italia. Hal ini memicu kebakaran hutan yang melanda Prancis dan Spanyol, sementara banyak negara masih berjuang mengatasi kekeringan.

Akibatnya bukan hanya kerusakan pada pertanian dan rumah-rumah, tetapi juga hilangnya nyawa. Di Jerman saja, diperkirakan hingga 14.000 orang meninggal akibat gelombang panas tahun 2026.

Banjir monsun yang melanda Pakistan pada 2025 diperkirakan telah memengaruhi lebih dari 6,9 juta orang di wilayah tersebut, karena curah hujan yang tinggi dikombinasikan dengan air lelehan gletser menyebabkan sungai meluap dan memicu kerusakan di hilir.

Peristiwa ini kemudian disusul oleh banjir tragis di Nepal-Tibet baru-baru ini pada Agustus 2026. Runtuhnya gletser di Himalaya memicu banjir bandang yang menghancurkan seluruh komunitas di kawasa itu dan menewaskan sedikitnya 1.300 orang.

“Masyarakat di Nepal membayar dengan nyawa mereka atas krisis yang disebabkan oleh emisi bahan bakar fosil ribuan mil jauhnya,” kata Dr. Friederike Otto, seorang profesor ilmu iklim di Imperial College London.

“Ketika pemanasan global menggoyahkan struktur bumi, tidak ada adaptasi lokal yang dapat sepenuhnya melindungi masyarakat rentan di hilir dari skala kehancuran sebesar ini. Tanpa tindakan yang jauh lebih cepat untuk beralih ke emisi bahan bakar fosil nol, kita pasti akan melihat lebih banyak bencana berskala besar seperti ini terjadi di tahun-tahun mendatang,” jelasnya.

Dan sayangnya, situasinya diperkirakan akan semakin memburuk, karena para ilmuwan telah mengamati perkembangan ‘El Nino super’ di lepas pantai timur Amerika. Front cuaca tahun ini diperkirakan akan jauh lebih kuat daripada yang pernah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan ini juga menggarisbawahi hubungan yang tak terpisahkan antara perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Keduanya seringkali diperlakukan sebagai isu terpisah, padahal semakin jelas bahwa keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama.

Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa melindungi dan memulihkan alam sangat penting untuk memberikan kesempatan bagi umat manusia untuk mencapai kondisi iklim yang aman. Ilmuwan menyoroti bagaimana deforestasi hutan hujan Amazon yang terus berlanjut berisiko mengganggu salah satu penyerap karbon terbesar di planet ini, yang selama ini telah melindungi kita dari peningkatan emisi karbon yang semakin parah.

Planetary Health Check 2026 juga menyoroti dasar laut. Dasar laut sebenarnya memainkan peran penting dalam sistem Bumi, namun kita telah menghancurkannya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

“Teknik penangkapan ikan seperti pukat dasar menghasilkan kerusakan jangka panjang. Setiap tahun, 1-2% dasar laut dijarah, dengan beberapa wilayah laut yang paling produktif dan beragam menjadi sasaran paling sering,” demikian pernyataan laporan tersebut.

Ditambah lagi dengan meningkatnya minat industri pertambangan terhadap laut dalam, dan dampak keseluruhan yang akan ditimbulkan terhadap planet ini sama sekali tidak dapat diukur.

Meski krisis yang kita hadapi saat ini sangat besar, laporan tersebut dengan jelas menyatakan bahwa krisis ini bukanlah sesuatu yang tidak dapat diatasi. Dalam kasus lapisan ozon, kita telah membuktikan bahwa tindakan kolektif itu mungkin dilakukan dan berdampak.

“Kita tidak memiliki kemewahan waktu, tetapi kita memiliki pengetahuan, kapasitas, dan solusi untuk mengubah arah,” kata Johan Rockström, salah satu penulis laporan tersebut.

“Mempercepat tindakan untuk kembali ke ruang operasi yang aman di seluruh Batas Planet sangat penting untuk melindungi nyawa dan mata pencaharian, dan untuk mewujudkan janji kemakmuran bersama di masa depan,” tegasnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Donald Trump Ubah Nama AI Jadi SI, Alasannya Tak Terduga

23 September 2026 - 21:52 WIB

Dunia Bersiap Hadapi Petaka Besar, PBB Pertemukan Amerika-China

23 September 2026 - 21:48 WIB

Bos Nvidia Blak-blakan, Yakin AI Tak Bisa Musnahkan Manusia

23 September 2026 - 21:43 WIB

Data Center AI Butuh Listrik Jumbo, Dunia Mulai Khawatir

23 September 2026 - 21:31 WIB

Telkomsel Latih Ribuan Guru Kuasai AI Lewat CSR Terpujilah GURU 2026

23 September 2026 - 21:27 WIB

Trending on Kabar Lifestyle