Anak muda pintar di bidang AI semakin dibayar tinggi. Peneliti AI asal China, Luo Fuli, yang memainkan peran penting dalam mengembangkan model AI inovatif milik DeepSeek, telah mencapai pangkat profesional tertinggi di Xiaomi hanya dalam waktu 10 bulan setelah bergabung dengan raksasa teknologi tersebut.
Luo, 31 tahun, yang memimpin tim kecerdasan buatan MiMo di Xiaomi, dipromosikan ke level 22, tingkat tertinggi dalam sistem peringkat profesional Xiaomi, seperti diberitakan LatePost.

Promosi tersebut dimasukkan dalam daftar kepegawaian internal yang dirilis September, menandai kenaikan luar biasa cepat bagi peneliti yang bergabung dengan Xiaomi pada akhir tahun 2025 itu.
Peningkatan kariernya ini menyusul laporan pendiri Xiaomi, Lei Jun, berusaha merekrutnya akhir tahun 2024 dengan tawaran gaji tahunan 10 juta yuan (Rp 27 miliar), menurut South China Morning Post. Berarti per bulan, ia kemungkinan digaji Rp 2,25 miliar sebelum promosi itu.
Sebelum bergabung dengan Xiaomi, Luo bekerja di startup AI DeepSeek. Ia menjadi kontributor utama DeepSeek-V2, model AI open-source yang dirilis tahun 2024 yang membantu mengukuhkan DeepSeek sebagai penantang para pengembang AI terkemuka Amerika.
Ia mengonfirmasi kepindahan ke Xiaomi November 2025, mengakhiri spekulasi berbulan-bulan tentang kariernya selanjutnya. Di Xiaomi, ia mengawasi pengembangan MiMo, rangkaian model bahasa besar penggerak sistem AI yang mampu memahami dan menghasilkan teks, bernalar, serta melakukan tugas kompleks.
Tanggung jawabnya meluas bulan Juli ketika Xiaomi mereorganisasi pengembangan XiaoAI, asisten virtual AI. Di bawah restrukturisasi tersebut, tim Luo bertanggung jawab mengembangkan model AI dasar.
Lahir tahun 1995 di sebuah keluarga pedesaan di provinsi Sichuan, Luo belajar ilmu komputer di Beijing Normal University sebelum meraih gelar master bidang linguistik komputasi dari Peking University (PKU). Ia mulai dikenal luas tahun 2019 setelah berkontribusi pada delapan makalah yang dipresentasikan di pertemuan tahunan Association for Computational Linguistics, konferensi internasional besar di bidang tersebut.
Terlepas dari pencapaiannya, Luo berulang kali menolak julukan gadis jenius AI dan mengaitkan kesuksesannya dengan kegigihan. “Saya bukan seorang jenius,” katanya dalam profil yang diterbitkan Peking University.
“Rasa ingin tahu tentang masalah-masalah mendasar, eksekusi yang kuat, dan sedikit ketahanan yang keras kepala, itulah yang membawa saya ke posisi ini,” imbuhnya dikutip detikINET dari VN Express.
Di tahun pertamanya di PKU, ia berjuang mempelajari ilmu komputer karena hanya punya sedikit pengalaman dengan komputer sebelumnya. Masalah yang bisa diselesaikan teman sekelasnya dalam tiga menit terkadang makan tiga jam baginya. Melalui usaha keras, ia jadi salah satu mahasiswa terbaik di kelas dalam dua tahun.
Luo membandingkan pendekatannya terhadap pengembangan karier dengan siput, yang menekankan pada kemajuan stabil ketimbang kecepatan. “Saya seperti siput yang tidak mengejar pergerakan tercepat, tapi setiap langkah saya terlihat jelas,” ungkapnya.
Luo, yang suaminya juga bekerja di industri teknologi, mengaku ingin terus memajukan kariernya sembari mempertahankan kehidupan keluarga yang bahagia.
Sumber: detik.com














