Menu ✖

Dark Mode
Internet Lumpuh Total, Layanan Bank dan Penerbangan Langsung Disetop NASA Soroti Karhutla Papua, Lonjakan Emisi Cetak Rekor Satu-satunya Primata Berbisa yang Lama Hilang Muncul Lagi di Indonesia Remaja Ajaib Usia 17 Tahun Tembus Jajaran Peneliti AI Elite Dunia Engsel iPhone Duo Bermasalah dan Bikin Layar Patah, Penyebabnya Apa? Microsoft Mau Borong Xbox yang Ada di Pasaran, Buat Apa?

Kabar Lifestyle

Remaja Ajaib Usia 17 Tahun Tembus Jajaran Peneliti AI Elite Dunia

badge-check


					Nathan Chen. (Foto: Vnexpress) Perbesar

Nathan Chen. (Foto: Vnexpress)

Remaja genius peneliti AI asal China berusia 17 tahun, yang turut mengembangkan teknologi yang mampu bersaing dengan model-model terkemuka Amerika Serikat, meninggalkan startup Moonshot AI setelah kurang dari setahun.
Nathan Chen mengumumkan di media sosial pada 15 Oktober bahwa ia baru-baru ini meninggalkan perusahaan yang berbasis di Beijing di balik chatbot Kimi tersebut. Ia bergabung dengan Moonshot pada usia 16 tahun saat masih SMA.

Kepergiannya terjadi beberapa bulan setelah Moonshot merilis Kimi K3, AI yang menghebohkan Silicon Valley karena menyaingi sistem terkemuka AS dengan biaya jauh lebih rendah. Selama masa kerja yang singkat, ia berkontribusi pada inovasi utama AI Moonshot, termasuk penelitian yang mengundang pujian Elon Musk dan mantan peneliti OpenAI Andrej Karpathy.

Pengumumannya memicu spekulasi soal langkah selanjutnya, terutama setelah peneliti dari perusahaan AI AS termasuk Anthropic, berminat menemuinya. Di antaranya Sholto Douglas, peneliti Anthropic yang menanyakan apakah Chen masih berencana kuliah di Carnegie Mellon University dan mengundangnya ke San Francisco untuk bertemu dengan peneliti lainnya.

Chen mengonfirmasi di X bahwa ia berencana untuk bepergian ke San Francisco. Ketika netizen bertanya apakah ia akan bergabung dengan Anthropic, ia menjawab tidak, menepis spekulasi tersebut.

Lahir tahun 2009 di Shenzhen, Chen menempuh jalur tidak biasa untuk masuk industri AI, tanpa medali kompetisi atau kualifikasi universitas yang sering dikaitkan dengan para ilmuwan muda jenius.

Ia mulai mengeksplorasi AI tahun 2024 saat masih SMA, belajar autodidak melalui makalah penelitian dan menggunakan chatbot Gemini dari Google untuk memahami konsep-konsep rumit.

Mei 2025, ia menerbitkan blog yang menjelaskan teknik AI yang menarik perhatian Yang Songlin, peneliti yang saat itu mengejar gelar doktor Massachusetts Institute of Technology. Postingan tersebut juga menarik perhatian kepala Tilde Research, startup AI AS, yang menghubunginya mengenai pekerjaan perusahaan tersebut.

Dua bulan kemudian, Chen bepergian sendirian ke Palo Alto, California, untuk magang tujuh minggu di Tilde Research. Ia bekerja bersama para peneliti AI berpengalaman, dan kadang menghabiskan hingga 15 jam sehari di kantor.

Sekembalinya ke China, ia awalnya berharap melanjutkan tahun terakhirnya di SMA, namun malah ditawari bergabung dengan Moonshot AI. Ia bergabung dengan tim peneliti Kimi, membantu mengembangkan teknologi untuk membuat model AI perusahaan lebih cepat dan efisien.

Maret tahun ini, Chen jadi salah satu dari tiga penulis yang berkontribusi sama besar dalam makalah penelitian berjudul Attention Residuals, bersama peneliti senior Su Jianlin dan Zhang Yu. Karya mereka memperkenalkan teknik meningkatkan cara model AI memproses informasi, yang lalu diterapkan ke Kimi K3 milik Moonshot dan menarik perhatian internasional.

Meski mendapat pengakuan, Chen yang lulus dari SMA bulan Juni, menolak disebut jenius. Dalam wawancara dengan China Newsweek, ia mengimbau orang-orang tidak mengidolakannya, serta menekankan penelitian tersebut adalah hasil kerja tim.

Ia bukan remaja ajaib AI China pertama yang menarik perhatian internasional. Tu Jinhao, mantan pemagang DeepSeek, ikut menulis penelitian tentang model AI R1 yang inovatif dari perusahaan tersebut saat masih SMA di Shanghai. Ia memulai studi sarjana di University of Wisconsin-Madison pada September 2025.

Kepergian Chen dari Moonshot terjadi di tengah persaingan sengit antara perusahaan teknologi China dan AS dalam memperebutkan talenta AI. Rekan kerja di Moonshot, Du Yulun, mengaku menyayangkan keputusan Chen tapi mendukung keinginannya mengeksplorasi peluang baru selagi muda.

Dikutip detikINET dari VN Express, Chen belum mengonfirmasi apakah ia akan melanjutkan studi ke jenjang universitas atau terus bekerja di bidang penelitian AI.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Internet Lumpuh Total, Layanan Bank dan Penerbangan Langsung Disetop

26 October 2026 - 20:54 WIB

NASA Soroti Karhutla Papua, Lonjakan Emisi Cetak Rekor

26 October 2026 - 20:46 WIB

Satu-satunya Primata Berbisa yang Lama Hilang Muncul Lagi di Indonesia

26 October 2026 - 20:15 WIB

Engsel iPhone Duo Bermasalah dan Bikin Layar Patah, Penyebabnya Apa?

26 October 2026 - 20:08 WIB

Microsoft Mau Borong Xbox yang Ada di Pasaran, Buat Apa?

26 October 2026 - 20:02 WIB

Trending on Kabar Lifestyle