Menu

Dark Mode
Mahkota Binokasih Sampai di Bogor, Disambut Dedie Rachim Laba Indocement Kuartal 1 Tahun 2026 Naik 2,1 Persen Berkontur Curam, Panaragan Jadi Pilot Project EWS Siap Hadapi Porprov, Dedie–Jenal Beri Dukungan untuk Cabor Dari Perlindungan hingga Kepedulian: Bukti Nyata Negara Hadir untuk Pekerja Indonesia Bukti Negara Hadir di Tengah Duka, Bpjs Ketenagkerjaan Serahkan Santunan JKK 494 Juta

Kabar Lifestyle

Fenomena Ajaib Hutan Pulih Sendiri dan Indonesia Disorot Ilmuwan

badge-check


					Ilustrasi deforestasi. Foto: Reuters/Ueslei Marcelino Perbesar

Ilustrasi deforestasi. Foto: Reuters/Ueslei Marcelino

Citra satelit mengungkap fenomena menarik di hutan-hutan dunia. Di tengah laju deforestasi dan krisis iklim, alam menyimpan semacam ‘mode pemulihan otomatis’ yang sangat kuat.

Studi terbaru yang terbit di jurnal Nature menunjukkan, sekitar 530 juta hektar lahan tropis bekas hutan, berpotensi tumbuh kembali secara alami tanpa perlu ditanami ulang, asalkan dibiarkan dan dilindungi.

Jika regenerasi alami ini terjadi, hutan-hutan tersebut bisa menyerap hingga 23,4 gigaton karbon dalam 30 tahun, sekaligus membantu menekan dampak perubahan iklim. Bonusnya, keanekaragaman hayati pulih, kualitas air membaik, dan iklim lokal jadi lebih stabil.

Lebih Terjangkau dan Berkelanjutan

Peneliti menilai regenerasi alami jauh lebih efisien dibanding reboisasi konvensional. Biayanya bisa serendah USD 5 (Rp 84 ribuan) per acre (1 acre = 4.046,86 meter persegi), sementara penanaman pohon aktif bisa menembus USD 10.000 (Rp 168 jutaan) per acre. Hutan yang tumbuh alami juga cenderung lebih beragam dan stabil dalam jangka panjang.

“Penanaman pohon di lanskap yang terdegradasi dapat memakan biaya besar. Dengan memanfaatkan teknik regenerasi alami, negara-negara dapat mencapai tujuan restorasi mereka secara efektif dari segi biaya,” kata Brooke Williams dari Queensland University of Technology dan Institute for Capacity Exchange in Environmental Decisions, dikutip dari Earth.com, Kamis (25/12/2025).

Namun perlu dicatat, pendekatan ini bukan berarti manusia tidak perlu melakukan apa-apa. Upaya sederhana seperti membatasi kebakaran, mengendalikan spesies invasif, atau memasang pagar agar tidak dirusak ternak terbukti dapat mempercepat pemulihan.

Indonesia Masuk Daftar Kunci

Studi ini mengidentifikasi lima negara yang memiliki lebih dari setengah potensi regenerasi ini, yaitu Brasil, Indonesia, China, Meksiko, dan Kolombia. Faktor penentunya antara lain kandungan karbon tanah yang tinggi dan kedekatan dengan hutan yang masih utuh hingga ideal untuk penyebaran benih alami.

Data satelit dari tahun 2000-2015 menunjukkan pertumbuhan kembali paling kuat terjadi dalam radius 300 meter dari hutan yang sudah ada. Tanah dengan kandungan karbon organik tinggi juga menjadi ‘modal utama’ agar hutan cepat bangkit.

Dalam studi ini, para peneliti memanfaatkan citra satelit resolusi tinggi dan kecerdasan buatan untuk membedakan hutan yang tumbuh alami dari hasil penanaman manusia. Hasilnya adalah peta digital detail hingga resolusi 30 meter, yang menunjukkan peluang regenerasi di setiap titik lahan.

Peta ini diharapkan bisa jadi alat penting bagi pemerintah daerah, komunitas, hingga pembuat kebijakan untuk menentukan area prioritas restorasi, sekaligus mengaitkannya dengan ekonomi lokal dan skema kredit karbon.

Tantangan Regenerasi Alami

Meski potensinya besar, hutan muda hasil regenerasi alami masih rentan hilang akibat ekspansi pertanian, pembangunan, atau kebakaran. Peneliti menekankan pentingnya perlindungan jangka panjang, termasuk insentif finansial bagi masyarakat lokal. Sayangnya, banyak skema karbon saat ini belum sepenuhnya mengakomodasi hutan yang tumbuh alami.

Oleh karena itu, menurut Matthew Fagan, ahli sistem lingkungan di University of Maryland, tata kelola lokal yang kuat, kesadaran publik, dan reformasi kebijakan sangat penting untuk melindungi ekosistem muda ini.

“Tanpa perlindungan jangka panjang, janji regenerasi alami dapat memudar secepat kemunculannya,” ujarnya.

Jika sebagian saja dari potensi ini terwujud, regenerasi alami bisa mengurangi hampir 27% emisi karbon global dari lahan terdeforestasi. Dampaknya bukan cuma soal iklim, tapi juga air bersih, tanah yang stabil, hingga kembalinya habitat satwa.

Para peneliti menyimpulkan, di tengah gencarnya kampanye tanam pohon, solusi paling ampuh justru bisa datang dari alam itu sendiri, asal manusia memberi ruang dan perlindungan yang cukup.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Laba Indocement Kuartal 1 Tahun 2026 Naik 2,1 Persen

6 May 2026 - 22:21 WIB

Ngeri! Buaya Raksasa Masuk Dapur Hotel Mewah, Heboh di Medsos

2 May 2026 - 14:08 WIB

Samsung QLED Q5F 43 Inci Rilis di RI, TV Rp 4 Jutaan 7 Tahun Update

2 May 2026 - 13:50 WIB

50+ Ucapan Selamat Hari Kartini 2026 untuk WhatsApp Status & IG Story

21 April 2026 - 11:22 WIB

Johny Srouji Jadi Bos Hardware Apple, Peran Makin Besar

21 April 2026 - 11:19 WIB

Trending on Kabar Lifestyle