Menu

Dark Mode
Eropa Dihantam Gelombang Panas, Apakah Indonesia Bisa Kena? Kena Serangan Siber, Rahasia iPhone 18 Pro Bocor di Dark Web Gerhana Matahari Terlama Abad Ini Ubah Siang Jadi Malam, Kapan? Foto Awan Badai dari ISS Bikin Takjub, Ini Penjelasan Sainsnya Spam Komentar Judol Makin Marak di Medsos, Pakar Desak Platform Bertindak Komisi Eropa Pilih Netral dalam Perdebatan Sengit Soal AC

Kabar Lifestyle

Eropa Dihantam Gelombang Panas, Apakah Indonesia Bisa Kena?

badge-check


					Banyak bangunan modern memiliki kaca besar atau sistem insulasi yang dirancang untuk musim dingin, namun kurang efektif saat musim panas. (Foto: Ed Jones/ AFP) Perbesar

Banyak bangunan modern memiliki kaca besar atau sistem insulasi yang dirancang untuk musim dingin, namun kurang efektif saat musim panas. (Foto: Ed Jones/ AFP)

Gelombang panas ‘memanggang’ Eropa dalam beberapa waktu terakhir. Suhu udara melonjak drastis hingga memecahkan rekor tertinggi di berbagai penjuru benua.

Ini menjadi gelombang panas terparah dalam sejarah, dengan 1.300 orang dilaporkan meninggal dunia. Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan gelombang panas kini menjadi fenomena tahunan dan semakin mengkhawatirkan.

Di Indonesia, cuaca panas juga mulai terasa di sejumlah wilayah seiring meluasnya musim kemarau. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu tertinggi di Papua Barat mencapai 38,6 derajat Celsius pada periode 22-24 Juni 2026.

Apakah Indonesia bisa mengalami gelombang panas?
Menurut BMKG, gelombang panas atau heatwave secara teknis tidak terjadi di Indonesia. Pasalnya, gelombang panas secara umum terjadi di di lintang menengah-tinggi akibat udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas.

Fenomena tersebut ditandai dengan kenaikan suhu yang jauh melampaui rata-rata klimatologis selama beberapa hari berturut-turut. Karakteristik ini tidak ditemukan di Indonesia.

Sebaliknya, Indonesia yang berada di wilayah ekuator memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda. Menurut BMKG, yang umumnya terjadi di Indonesia hanya peningkatan suhu panas harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari, terutama saat musim kemarau.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto, saat masih menjabat sebagai Deputi Bidang Meteorologi, menjelaskan bahwa ada syarat yang harus terpenuhi untuk wilayah yang mengalami gelombang panas, di antaranya adalah suhu rata-rata naik 5 derajat Celsius dan terjadi selama lima hari berturut-turut.

Apa itu gelombang panas?
Merujuk Met Office, lembaga meteorologi Britania Raya, gelombang panas adalah periode cuaca panas ekstrem yang berlangsung lama dibanding dengan kondisi cuaca normal di wilayah tersebut pada waktu yang sama. Fenomena ini terkadang juga disertai dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi.

Gelombang panas paling sering terjadi pada musim panas ketika sistem tekanan tinggi berkembang di suatu wilayah. Sistem tekanan tinggi ini bergerak sangat lambat dan bisa bertahan di satu tempat selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Kenapa bisa ada gelombang panas?
Gelombang panas ini dipicu oleh fenomena meteorologi yang disebut ‘Omega Block’, sebuah pola cuaca yang dinamai berdasarkan bentuk huruf Yunani karena lekukannya di atmosfer.

Udara panas dan kering dari Afrika Utara terjebak di suatu wilayah karena terhimpit oleh sistem tekanan rendah di kedua sisinya, sehingga tidak bisa bergerak. Hal ini mengakibatkan suhu udara melonjak hingga 18 derajat Celsius di atas rata-rata musiman.

Melansir Euronews, negara-negara Eropa sangat rentan terhadap kondisi ini, karne hanya sekitar 20 persen rumah yang memiliki AC, ditambah lagi sebagian besar bangunan di sana dirancang untuk menahan panas (agar hangat sangat musim dingin), bukan melepaskannya.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kena Serangan Siber, Rahasia iPhone 18 Pro Bocor di Dark Web

1 July 2026 - 14:45 WIB

Gerhana Matahari Terlama Abad Ini Ubah Siang Jadi Malam, Kapan?

1 July 2026 - 14:41 WIB

Foto Awan Badai dari ISS Bikin Takjub, Ini Penjelasan Sainsnya

1 July 2026 - 14:37 WIB

Spam Komentar Judol Makin Marak di Medsos, Pakar Desak Platform Bertindak

1 July 2026 - 14:32 WIB

Komisi Eropa Pilih Netral dalam Perdebatan Sengit Soal AC

1 July 2026 - 14:27 WIB

Trending on Kabar Lifestyle