Kementerian Keamanan Negara China mengklaim badan intelijen asing menggunakan metode baru yang inovatif untuk memantau perairannya. Salah satunya dengan mengerahkan hewan laut yang dilengkapi sensor untuk menjadi mata-mata.
Dalam postingan di WeChat, kementerian tersebut memperingatkan adanya ‘perang rahasia tidak terlihat’ yang terjadi di perairan sekitar China. Badan intelijen asing dituduh diam-diam sedang mengumpulkan data sensitif menggunakan berbagai perangkat mata-mata baru untuk membuat peta bawah laut yang mengancam keamanan nasional China.

China mengklaim salah satu teknik spionase yang digunakan adalah hewan laur besar, termasuk ‘ikan mata-mata’ dan ‘kura-kura mata-mata’, yang ditemukan membawa sejumlah sensor saat berenang di perairan China.
Hewan-hewan tersebut diklaim mengumpulkan data lingkungan yang sensitif, seperti suhu air, salinitas, dan arus laut secara real-time, yang kemudian dikirimkan ke luar negeri menggunakan satelit.
Namun, postingan Kementerian Keamanan Negara China tidak memberikan informasi spesifik tentang di mana hewan-hewan itu ditemukan, atau siapa yang memasang sensor di hewan-hewan tersebut.
Kementerian Keamanan Negara China juga mengaku menemukan pelampung yang ditempatkan oleh lembaga penelitian kelautan luar negeri yang dilengkapi sensor meteorologi, yang memungkinkan mereka melacak tanda akustik kapal selam China secara real-time.
Kementerian tersebut juga menyebutkan jenis ‘glider gelombang’ baru yang ditenagai gerakan ombak dan tenaga surya, yang diklaim ditempatkan oleh pihak asing untuk mengirimkan data lingkungan kelautan terkait militer dan informasi terkait aktivitas kapal, seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (21/6/2026).
China sering mengklaim adanya upaya spionase di perairan sekitarnya, termasuk Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan. Pada tahun 2024, China mengklaim menemukan mercusuar yang tersembunyi di dasar laut yang dapat memandu transit kapal selam asing.
Pemerintah China menawarkan bonus sebesar 50.000 yuan sampai 500.000 yuan (Rp 131 jutaan sampai Rp 131 miliar) kepada nelayan yang berhasil menemukan perangkat mata-mata di perairannya.
Sumber: detik.com















