Menu

Dark Mode
Laba Indocement Kuartal 1 Tahun 2026 Naik 2,1 Persen Berkontur Curam, Panaragan Jadi Pilot Project EWS Siap Hadapi Porprov, Dedie–Jenal Beri Dukungan untuk Cabor Dari Perlindungan hingga Kepedulian: Bukti Nyata Negara Hadir untuk Pekerja Indonesia Bukti Negara Hadir di Tengah Duka, Bpjs Ketenagkerjaan Serahkan Santunan JKK 494 Juta Menaker Pastikan Hak Jaminan Sosial Korban Kecelakaan KA Bekasi Terpenuhi

Kabar Lifestyle

CEO Microsoft Takut AI Bikin Perusahaannya Tutup

badge-check


					Satya Nadella. Foto: Getty Images/Stephen Brashear Perbesar

Satya Nadella. Foto: Getty Images/Stephen Brashear

CEO Microsoft Satya Nadella dihantui kemungkinan perusahaannya gagal mempertahankan relevansi di era kecerdasan buatan atau AI. Berbicara dalam rapat internal baru-baru ini, Nadella menanggapi pertanyaan karyawan tentang perubahan budaya Microsoft. Jawabannya mencerminkan kekhawatiran soal jangka panjang perusahaan.

“Beberapa bisnis terbesar yang telah kami bangun mungkin takkan relevan lagi di masa mendatang,” kata Nadella, menurut The Verge yang dikutip detikINET. Ia menunjuk Digital Equipment Corporation (DEC) sebagai contoh tentang bagaimana bahkan perusahaan teknologi dominan pun dapat cepat gulung tikar jika gagal beradaptasi dengan pergeseran dalam komputasi.

“Industri kami penuh dengan studi kasus perusahaan yang dulu hebat, kemudian menghilang. Saya terhantui oleh salah satu perusahaan bernama DEC,” jelas Nadella. DEC merupakan pemimpin pasar di awal 1970-an, tetapi kemudian disalip pesaing seperti IBM setelah gagal menerapkan perubahan penting seperti arsitektur Reduced Instruction Set Computing (RISC).

Nadella mengungkapkan hubungan pribadinya dengan DEC, di mana komputer pertamanya adalah DEC VAX dan ia pernah berharap bekerja di sana. Ia juga mengingat beberapa insinyur yang membantu membangun sistem operasi Microsoft Windows NT berasal dari laboratorium DEC yang telah ditutup.

Pernyataannya ini menanggapi seorang karyawan di Inggris yang mengatakan budaya Microsoft terasa lebih dingin, lebih kaku, dan kurang empati seperti sebelumnya. Nadella mengakui perusahaan masih perlu bekerja keras untuk membangun kembali kepercayaan dengan karyawan, terlebih dengan adanya ribuan PHK baru-baru ini.

“Saya sangat menghargai pertanyaan dan sentimen di baliknya. Saya menganggapnya sebagai umpan balik bagi saya dan semua orang di tim kepemimpinan, karena pada akhirnya, saya pikir kami dapat melakukan yang lebih baik, dan kami akan melakukan yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Nadella berulang kali menempatkan AI sebagai inti dari strategi masa depan Microsoft, mulai dari kemitraan mendalam dengan OpenAI hingga penyematan fitur AI di Windows, Office, dan Azure. Komentarnya menggarisbawahi betapa pentingnya adaptasi bagi Microsoft jika ingin menghindari nasib perusahaan yang dulunya hebat namun gagal berkembang.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Laba Indocement Kuartal 1 Tahun 2026 Naik 2,1 Persen

6 May 2026 - 22:21 WIB

Ngeri! Buaya Raksasa Masuk Dapur Hotel Mewah, Heboh di Medsos

2 May 2026 - 14:08 WIB

Samsung QLED Q5F 43 Inci Rilis di RI, TV Rp 4 Jutaan 7 Tahun Update

2 May 2026 - 13:50 WIB

50+ Ucapan Selamat Hari Kartini 2026 untuk WhatsApp Status & IG Story

21 April 2026 - 11:22 WIB

Johny Srouji Jadi Bos Hardware Apple, Peran Makin Besar

21 April 2026 - 11:19 WIB

Trending on Kabar Lifestyle