Teknologi telematika pada armada transportasi kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pelacak lokasi kendaraan.
Dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), sistem ini bahkan mampu memantau perilaku pengemudi secara langsung mulai dari kelelahan, gangguan konsentrasi, hingga penggunaan ponsel saat berkendara.

Country Manager Cartrack Indonesia Carmen Calisto mengatakan teknologi terbaru yang mereka gunakan menggabungkan kamera berbasis AI dan perangkat telematika untuk memberikan visibilitas penuh terhadap aktivitas kendaraan di jalan.
“Dengan teknologi kami, kami tidak hanya memiliki kamera bertenaga AI yang mendeteksi kejadian mengemudi berbahaya seperti gangguan konsentrasi atau kelelahan, tetapi juga telematika yang mendeteksi mengebut, pengereman mendadak, hingga cara kendaraan berbelok,” ujar Carmen dalam wawancara dengan CNN Indonesia Business, Kamis (5/3).
Salah satu fitur utama teknologi ini adalah kemampuan kamera AI untuk memantau kondisi pengemudi secara real-time. Sistem dapat mengenali tanda-tanda microsleep, distraksi, hingga penggunaan ponsel yang berpotensi memicu kecelakaan.
“Kamera AI kami mendeteksi perilaku pengemudi, kelelahan, gangguan konsentrasi, penggunaan ponsel semua hal yang telah terbukti menjadi penyebab kecelakaan yang sangat tinggi,” kata Carmen.
Ketika sistem mendeteksi risiko, pengemudi akan langsung mendapatkan peringatan saat itu juga. Peringatan ini bisa berupa suara, tampilan di layar, hingga getaran pada kursi pengemudi.
“Begitu kamera mendeteksi lingkungan berisiko tinggi, sistem otomatis memberi peringatan secara real-time menggunakan audio dan juga getaran kursi sehingga pengemudi bisa langsung mengoreksi perilakunya,” jelasnya.
Tak hanya pengemudi, manajer armada juga mendapatkan notifikasi secara langsung sehingga dapat mengambil tindakan seperti meminta pengemudi beristirahat.
Selain kamera, perangkat telematika berbasis AI juga mengumpulkan berbagai data perilaku berkendara. Data tersebut kemudian diolah menjadi sistem penilaian atau scorecard yang bisa digunakan perusahaan untuk mengevaluasi performa pengemudi.
“Kami mengambil semua data itu dan memasukkannya ke dalam kartu skor yang memiliki tolok ukur sehingga pelanggan dapat melihat peningkatan dari waktu ke waktu,” ujar Carmen.
Data tersebut kemudian digunakan perusahaan untuk melakukan pembinaan terhadap pengemudi berbasis bukti video.
“Dengan bukti berbasis video ini, perusahaan bisa mengadakan sesi coaching dengan pengemudi. Ketika pengemudi melihat langsung kesalahan mereka, perubahan perilaku biasanya terjadi lebih cepat,” kata Carmen.
Untuk mendorong perubahan perilaku, Cartrack juga mengubah sistem scorecard menjadi papan peringkat yang bersifat gamifikasi. Pendekatan ini membuat pengemudi berlomba-lomba meningkatkan performa berkendara mereka.
Tak hanya pengemudi, manajer armada juga mendapatkan notifikasi secara langsung sehingga dapat mengambil tindakan seperti meminta pengemudi beristirahat.
Selain kamera, perangkat telematika berbasis AI juga mengumpulkan berbagai data perilaku berkendara. Data tersebut kemudian diolah menjadi sistem penilaian atau scorecard yang bisa digunakan perusahaan untuk mengevaluasi performa pengemudi.
“Kami mengambil semua data itu dan memasukkannya ke dalam kartu skor yang memiliki tolok ukur sehingga pelanggan dapat melihat peningkatan dari waktu ke waktu,” ujar Carmen.
Data tersebut kemudian digunakan perusahaan untuk melakukan pembinaan terhadap pengemudi berbasis bukti video.
“Dengan bukti berbasis video ini, perusahaan bisa mengadakan sesi coaching dengan pengemudi. Ketika pengemudi melihat langsung kesalahan mereka, perubahan perilaku biasanya terjadi lebih cepat,” kata Carmen.
Untuk mendorong perubahan perilaku, Cartrack juga mengubah sistem scorecard menjadi papan peringkat yang bersifat gamifikasi. Pendekatan ini membuat pengemudi berlomba-lomba meningkatkan performa berkendara mereka.
Sumber: cnnindonesia.com













