Butuh 1 M untuk Cangkok Hati

image

Nasib malang menimpa seorang balita bernama Carissa Novalina Putri (5), anak pasangan Nina Nurhaerani (37) dan Angga Sembada (38), warga Kampung Cikaret, Gang Basir, RT 07/04, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan. Sejak pertengahan Maret 2015 lalu, sampai saat ini, bocah cantik ini hanya bisa terbaring lemas di atas kasur karena menderita penyakit Buddchiari Syndrome atau kelainan hati.

Semangat yang besar serta dukungan penuh kedua orangtua nya, membuat Carissa terus bertahan hingga saat ini menghadapi penyakit yang diketahui belum ada obatnya tersebut. Orangtua Carissa, Nina Nurhaeni mengatakan, pertama kali mengetahui anaknya menderita penyakit Buddchiari Syndrome, saat Carissa mengeluh sakit di bagian perutnya dan seketika itu perutnya langsung membesar. Nina menyangka bahwa anak kedua dari tiga bersaudara itu hanya masuk angin atau kembung saja, karena selain sakit perut, Carissa juga tidak bisa mengeluarkan angin (kentut). Namun lama ke lamaan, ternyata perutnya sampai membesar seperti orang yang sedang hamil, sehingga Carissa langsung dibawa ke rumah sakit.

“Tanggal 22 sampai 26 Maret 2015 perutnya langsung membesar seperti orang hamil sampai diameter 65 centimeter. Tanggal 28 sampai 4 april 2015 Carisaa dibawa bolak balik ke RS. PMI, dan saat itu belum diketahui sakitnya apa, dokter hanya bilang ada cairan di perutnya, sehingga dari RS. PMI, Carissa di rujuk ke RSCM Jakarta,” kata Nina di kediamannya.

Lanjut Nina, tanggal 6 sampai 22 April 2015, Carissa dibawa ke RSCM dan langsung dirawat. Saat itu perutnya sangat besar, sampai berdiameter 65 centimeter. Setelah perutnya kempes, tanggal 22 April, Carissa di ijinkan pulang sama dokter dan melakukan berobat jalan. Namun baru 3 hari dirumah, perut Carissa membesar kembali sampai Carissa tidak bisa bernapas. “Sampai saat ini sudah 5 kali Carissa dirawat di RSCM, dan setiap satu bulan harus control rutin dua kali berobat jalan,” ucapnya.

Nina menjelaskan, sekarang Carissa rutin berobat jalan ke RSCM dilakukan untuk mengecek alat pigtail yang dipasang  diperutnya dan melihat totalitas kondisinya, termasuk mengecek kondisi albuminnya.

“Saya mengetahui bahwa anak saya menderita penyakit kelainan hati saat dirawat di RSCM. Sampai saat ini sumber sakitnya belum bisa di obati karena ada sumbatan di pembuluh darah yang ke hati. Kondisi Carissa terlihat sehat, tetapi kalau penyumbatan pembuluh darah tidak terbuka, maka jalan terakhir harus transpalansi hati atau cangkok hati,” jelasnya sambil berurai air mata.

Namun untuk transpalansi hati,
dibutuhkan uang sekitar Rp. 1,250 milyar, sedangkan BPJS Kesehatan hanya mampu mengcover Rp. 250 juta. Jadi harus ada persiapan uang Rp. 1 milyar.

“Saat ini biaya di RSCM menggunakan BPJS, namun kami memiliki kendala diantaranya, kebutuhan untuk biaya ongkos bolak balik ke RSCM dan mempersiapkan dana apabila Carissa sampai di rawat kembali. Kalau sampai di vonis harus transpalansi hati, maka kita harus menyiapkan uang Rp. 1 milyar,” tukasnya.

Nina mengungkapkan, sampai saat ini belum ada perhatian dari pemerintah, karena ia juga belum melaporkan ke Dinkes Kota Bogor terkait penyakit yang diderita anaknya. Walaupun suaminya kerja sebagai PNS di Kelurahan Babakan Pasar, namun untuk kebutuhan pengobatan Carissa tetap membutuhkan uluran tangan bantuan serta perhatian.

“Saya akan focus mengurus Carissa dan mengikuti berobat rutin sebulan dua kali. Memang belum ada perhatian dari dinas kesehatan maupun Pemkot Bogor sampai saat ini,” pungkasnya.|yuda|

print

You may also like...