Menu

Dark Mode
Program Kerja 2026 Ditetapkan, Pramuka Kota Bogor Makin Tancap Gas Ketua DPRD Adityawarman Adil Apresiasi Sinergi TNI dalam Pembangunan Jembatan Garuda Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah Sidak Pasar Gembrong dan Jambu Dua, Komisi II DPRD Kota Bogor Soroti Kenaikan Harga dan Akses Angkot ​DPRD Kota Bogor dan Disnaker Bahas Persiapan THR, Siapkan Posko Pengaduan Terima Pemuda Al-Irsyad, Adityawarman: Salut untuk Pemuda yang Beraktualisasi di Bidang Sosial

Kabar Lifestyle

Blokade Chip Nvidia Tak Mempan, AI China Makin Mandiri

badge-check


					AI Foto: Getty Images/Prae_Studio Perbesar

AI Foto: Getty Images/Prae_Studio

Upaya Amerika Serikat untuk memblokir akses China terhadap chip AI mutakhir gagal melumpuhkan China. Malah, langkah ini justru membuat China lebih mandiri dan menarik para investor.

Dilaporkan Reuters, investor global kini mengalihkan lebih banyak modal ke perusahaan teknologi China. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran atas besarnya ‘gelembung’ atau bubble AI di Wall Street yang dicemaskan pecah.

Meski AI besutan perusahaan teknologi China sedikit tertinggal di belakang kemampuan perusahaan AS, investor tidak lantas menganggap mereka sebagai sekadar ‘Rencana B’. Laporan Reuters menunjukkan meningkatnya permintaan saham teknologi China didorong oleh ambisi pemerintah Beijing mencapai kemandirian teknologi.

Laporan UBS Global Wealth Management awal bulan ini memberi peringkat ‘paling menarik’ bagi sektor teknologi China, peringkat tertinggi dalam penilaian kelas aset global mereka. Peneliti UBS mencatat para penyandang dana teknologi tertarik oleh dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah China, kemandirian teknologi, dan monetisasi AI yang cepat.

“Sektor teknologi China meningkatkan inovasi secara besar-besaran pada tahun 2025, dengan kemajuan signifikan di seluruh rantai nilai AI. Model AI baru China telah menunjukkan kepemimpinan teknologi, dan kebijakan yang suportif memperkuat ketahanan ekosistemnya,” tulis laporan tersebut yang dikutip detkINET dari Futurism.

Firma investasi institusional seperti Ruffer dari Inggris mulai meningkatkan investasi di raksasa teknologi China seperti Alibaba. Di saat yang sama, mereka menjalankan strategi untuk sengaja membatasi paparan terhadap raksasa teknologi papan atas AS.

“Meski AS tetap menjadi pemimpin dalam AI garis depan, China cepat memperkecil jarak. Celah keunggulannya mungkin tak selebar atau sedalam yang dipikirkan banyak orang. Lanskap kompetitif sedang bergeser,” kata Gemma Cairns-Smith, spesialis investasi di Ruffer.

Perubahan sikap ini terjadi setelah bertahun-tahun kebijakan perdagangan anti China oleh Presiden Joe Biden dan Donald Trump. Upaya yang dimaksudkan untuk membatasi akses perusahaan teknologi China ke chip AI buatan Nvidia mencapai puncaknya pada masa pemerintahan kedua Trump.

April lalu, Trump memberlakukan pembatasan perdagangan baru penjualan chip AI Nvidia tertentu ke China. Ini termasuk chip H20, yang sebelumnya sudah diturunkan performanya oleh Nvidia khusus untuk pasar China demi mematuhi tuntutan hukum AS. China membalas dengan melarang perusahaan teknologi papan atas mereka mengimpor chip Nvidia, memberi dorongan besar bagi produsen chip domestik.

Trump lalu membatalkan keputusan terkait chip H20 pada awal Desember, meskipun kerusakannya mungkin sudah terjadi. China malah diprediksi semakin kuat dalam industri chip dan AI.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah

10 March 2026 - 22:37 WIB

Printer 3D Bambu Lab Resmi Masuk Indonesia

7 March 2026 - 21:26 WIB

Vidi Aldiano Meninggal, Netizen Berduka Cita

7 March 2026 - 21:20 WIB

Senjata AI Ini Jadi Kunci Serangan AS ke Iran, Bisa Hantam 1000 Target

7 March 2026 - 21:16 WIB

AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

7 March 2026 - 21:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle