Menu

Dark Mode
Ment LH Apresiasi Wartawan di Acara Korvey kebersamaan Tabligh Akbar, Momentum Pembinaan Akhlak dan Persaudaraan Insan Pers Apresiasi Turnamen Tenis Meja PWI Kota Bogor di Momen HPN 2026 Satukan Insan Pers, PWI Kota Bogor Gelar Turnamen Tenis Meja Preorder Tecno Camon 50 Dibuka, Bonus Menggoda & Bocoran Spek Duel 50 Menit! Lele Raksasa Nyaris 3 Meter Ditaklukkan

Kabar Lifestyle

Badai Radiasi Level S4 Hantam Bumi, Terparah dalam Dua Dekade

badge-check


					Foto: Paul Andrew via Daily Mail Perbesar

Foto: Paul Andrew via Daily Mail

Jakarta – Pada hari Senin (19 Januari), Bumi mengalami badai radiasi Matahari terkuatnya sejak Oktober 2003. Menurut Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA, badai ini melampaui intensitas badai cuaca antariksa pada Oktober 2003.

Badai radiasi Matahari terjadi ketika letusan magnetik yang kuat di Matahari, yang sering melibatkan lontaran massa korona (CME), mempercepat partikel bermuatan, terutama proton, hingga kecepatan ekstrem. Partikel-partikel ini dapat mencapai fraksi signifikan dari kecepatan cahaya, memungkinkannya melintasi jarak sekitar 150 juta kilometer antara Matahari dan Bumi dalam waktu puluhan menit atau kurang.

Saat tiba, proton yang paling berenergi dapat menembus pertahanan magnetik Bumi dan bergerak di sepanjang garis medan magnet planet kita menuju wilayah kutub, tempat partikel tersebut menghunjam masuk ke atmosfer bagian atas.

NOAA mengklasifikasikan badai radiasi matahari dalam skala S1 (kecil) hingga S5 (ekstrem) berdasarkan pengukuran satelit GOES terhadap proton berenergi tinggi yang datang. Dikutip detikINET dari Space.com, peristiwa 19 Januari tersebut mencapai level S4 (parah).

Meski terdengar dramatis, badai jenis ini tidak menimbulkan ancaman bagi manusia di permukaan tanah, berkat atmosfer tebal dan medan magnet Bumi yang menyerap radiasi tersebut sebelum mencapai permukaan.

Ini bukanlah “peristiwa tingkat permukaan tanah”, di mana ada partikel berenergi cukup besar untuk dideteksi di permukaan Bumi. Seperti dijelaskan oleh fisikawan cuaca antariksa Tamitha Skov, badai ini memiliki spektrum partikel relatif lunak. Kekuatannya bersejarah, tapi tidak memiliki energi ekstrem yang diperlukan untuk mencapai tanah.

Jauh di atas permukaan, ceritanya sedikit berbeda. Badai radiasi yang parah meningkatkan risiko paparan bagi astronaut serta awak maskapai dan penumpang yang terbang melewati rute kutub, di mana perisai magnet Bumi lebih lemah.

Satelit juga rentan, partikel berenergi dapat mengganggu elektronik di dalamnya, mengacaukan sensor, dan membebani instrumen. Selama badai ini, beberapa pengamat cuaca antariksa melaporkan hilangnya data sementara, yang kemungkinan disebabkan oleh fluks proton intens yang menurunkan kualitas pengukuran wahana antariksa.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Preorder Tecno Camon 50 Dibuka, Bonus Menggoda & Bocoran Spek

16 February 2026 - 19:03 WIB

Duel 50 Menit! Lele Raksasa Nyaris 3 Meter Ditaklukkan

16 February 2026 - 18:59 WIB

Hollywood Terancam Punah? AI China Bisa Buat Video Ultra Realistis

16 February 2026 - 18:55 WIB

Arsip Email Epstein Dirangkum Jadi Jikipedia, Akurat Nggak?

15 February 2026 - 21:01 WIB

Pengakuan Spotify: AI Ambil Alih Pengembangan Aplikasi

15 February 2026 - 20:57 WIB

Trending on Kabar Lifestyle