Menu

Dark Mode
Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak HPN 2026 Banten Siap Digelar, PWI Pusat dan Panitia HPN Konsolidasi Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

Kabar Lifestyle

Badai Radiasi Level S4 Hantam Bumi, Terparah dalam Dua Dekade

badge-check


					Foto: Paul Andrew via Daily Mail Perbesar

Foto: Paul Andrew via Daily Mail

Jakarta – Pada hari Senin (19 Januari), Bumi mengalami badai radiasi Matahari terkuatnya sejak Oktober 2003. Menurut Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA, badai ini melampaui intensitas badai cuaca antariksa pada Oktober 2003.

Badai radiasi Matahari terjadi ketika letusan magnetik yang kuat di Matahari, yang sering melibatkan lontaran massa korona (CME), mempercepat partikel bermuatan, terutama proton, hingga kecepatan ekstrem. Partikel-partikel ini dapat mencapai fraksi signifikan dari kecepatan cahaya, memungkinkannya melintasi jarak sekitar 150 juta kilometer antara Matahari dan Bumi dalam waktu puluhan menit atau kurang.

Saat tiba, proton yang paling berenergi dapat menembus pertahanan magnetik Bumi dan bergerak di sepanjang garis medan magnet planet kita menuju wilayah kutub, tempat partikel tersebut menghunjam masuk ke atmosfer bagian atas.

NOAA mengklasifikasikan badai radiasi matahari dalam skala S1 (kecil) hingga S5 (ekstrem) berdasarkan pengukuran satelit GOES terhadap proton berenergi tinggi yang datang. Dikutip detikINET dari Space.com, peristiwa 19 Januari tersebut mencapai level S4 (parah).

Meski terdengar dramatis, badai jenis ini tidak menimbulkan ancaman bagi manusia di permukaan tanah, berkat atmosfer tebal dan medan magnet Bumi yang menyerap radiasi tersebut sebelum mencapai permukaan.

Ini bukanlah “peristiwa tingkat permukaan tanah”, di mana ada partikel berenergi cukup besar untuk dideteksi di permukaan Bumi. Seperti dijelaskan oleh fisikawan cuaca antariksa Tamitha Skov, badai ini memiliki spektrum partikel relatif lunak. Kekuatannya bersejarah, tapi tidak memiliki energi ekstrem yang diperlukan untuk mencapai tanah.

Jauh di atas permukaan, ceritanya sedikit berbeda. Badai radiasi yang parah meningkatkan risiko paparan bagi astronaut serta awak maskapai dan penumpang yang terbang melewati rute kutub, di mana perisai magnet Bumi lebih lemah.

Satelit juga rentan, partikel berenergi dapat mengganggu elektronik di dalamnya, mengacaukan sensor, dan membebani instrumen. Selama badai ini, beberapa pengamat cuaca antariksa melaporkan hilangnya data sementara, yang kemungkinan disebabkan oleh fluks proton intens yang menurunkan kualitas pengukuran wahana antariksa.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein

4 February 2026 - 13:19 WIB

Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek

4 February 2026 - 13:16 WIB

Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya

4 February 2026 - 13:14 WIB

Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak

4 February 2026 - 13:11 WIB

Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

3 February 2026 - 11:47 WIB

Trending on Kabar Lifestyle