Menu

Dark Mode
5 Tanaman Unik dan Aneh di Dunia Website PWI Terkonsolidasi di 38 PWI Daerah, Serentak Dilaunching 1 Oktober 2026 BNN DAN AFP SEPAKAT PERKUAT KEMITRAAN LAWAN ANCAMAN NARKOTIKA LINTAS NEGARA Kota Bogor Perkuat Transformasi Pemerintahan Digital, Dedie Rachim: Basis Pelayanan Publik yang Akuntabel dan Transparan Dedie Rachim Tinjau Sekretariat DPRD Kota Bogor, Dorong Penataan Aset Lebih Optimal Pemerintah Terus Dorong Penurunan Angka Stunting di Daerah

Kabar Lifestyle

Ahli Ungkap Penampakan Permukaan Matahari Terbaru, Begini Bentuknya

badge-check


					Para astronom berhasil menangkap gambar beresolusi tinggi permukaan 
Matahari, menunjukkan pusaran plasma panas. (Foto: via 
REUTERS/NSF/NSO/AURA/MPS)
Perbesar

Para astronom berhasil menangkap gambar beresolusi tinggi permukaan Matahari, menunjukkan pusaran plasma panas. (Foto: via REUTERS/NSF/NSO/AURA/MPS)

Para astronom baru-baru ini mendapatkan gambar beresolusi tinggi yang menunjukkan permukaan Matahari. Gambar tersebut memperlihatkan pola mirip pusaran air pada gas-gas Matahari yang sangat panas.

Untuk bisa mendapat gambar tersebut, para peneliti mengamati Matahari menggunakan Teleskop Matahari Daniel K. Inouye milik National Science Foundation AS yang berlokasi di Hawaii. Mereka mengamati bagian fotosfer Matahari, sebuah lapisan permukaan dengan kedalaman sekitar 100 kilometer (km) yang dapat terlihat dari Bumi.

Foto diam dan video time-lapse itu memperlihatkan pusaran plasma panas yang membesar. Plasma ini merupakan gas yang dipanaskan hingga suhu sangat tinggi, sehingga partikel elektron terlepas dari atomnya dan membentuk cairan partikel bermuatan.

Pusaran yang teramati ini berukuran kecil dalam skala permukaan bintang, dengan diameter mulai dari sekitar 19 km hingga sekitar 170 km.

Para peneliti menyebut, pengamatan ini dapat memberikan wawasan mengenai proses fisik mendasar yang memengaruhi dinamika Matahari dan bintang lainnya. Hal ini termasuk letupan dari permukaan Matahari yang dapat mengganggu operasional satelit, navigasi GPS, jaringan listrik, dan komunikasi global di Bumi.

Pola melingkar dan ikal ini bukan bentuk yang terjadi secara acak, melainkan deteksi pertama dari fenomena instabilitas Kelvin-Helmholtz (KHI) di permukaan sebuah bintang. KHI mengacu pada proses dinamis yang terjadi ketika dua aliran cairan atau gas yang sejajar berinteraksi saat bergerak dengan kecepatan yang berbeda.

“Batas antara kedua aliran tersebut dapat menjadi tidak stabil dan membentuk pusaran mirip gelombang yang membesar hingga akhirnya terpecah, mirip seperti gelombang di danau atau lautan saat kondisi berangin,” kata Friedrich Woger, astronom di National Solar Observatory NSF di Colorado, melansir Reuters, Rabu (5/8).

Woger, yang juga penulis utama studi yang diterbitkan di jurnal Nature ini, menjelaskan bahwa awan berputar yang disebabkan oleh KHI merupakan fenomena meteorologi yang sudah dikenal di Bumi, dan juga pernah teramati di atmosfer planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus.

“Perbedaannya dengan gelombang dan awan yang kita kenal di Bumi adalah bahwa dua cairan yang saling berinteraksi di Matahari merupakan plasma panas, bertemperatur sekitar 5.450° Celsius, yang bergerak di dalam medan magnet yang membantu menciptakan kondisi bagi munculnya instabilitas tersebut,” jelas Woger.

Menurutnya, dengan memilin medan magnet Matahari, KHI menghasilkan energi yang bisa memicu ledakan secara tiba-tiba.

Terobosan besar
Menurut Woger, penemuan KHI di Matahari merupakan sebuah terobosan besar. Hal ini dapat membuka kerangka kerja baru untuk memahami bagaimana Matahari menyalurkan energi ke atmosfernya.

“Matahari dan bintang-bintang sejenis merupakan sistem yang sangat dinamis, ditandai oleh serangkaian peristiwa ledakan cepat di dalam elemen magnetiknya. Bagaimana ledakan-ledakan ini dipicu merupakan salah satu fokus utama dalam fisika matahari modern,” kata David Kuridze, astronom dari National Solar Observatory.

Kemunculan KHI kemungkinan dapat membantu menjelaskan mengapa atmosfer luar Matahari bisa menjadi sangat panas dan bagaimana energi magnetik terakumulasi serta bergerak di permukaan Matahari.

Gerakan memilin secara terus-menerus yang dihasilkan oleh KHI dapat membangun energi yang dibutuhkan secara bertahap untuk memicu pelepasan massa korona dan semburan Matahari.

Pelepasan massa korona adalah gelembung gas raksasa yang terikat dengan garis-garis medan magnet yang dihempaskan dari permukaan Matahari. Sementara itu, semburan Matahari adalah ledakan dahsyat di matahari yang memancarkan cahaya, energi, dan partikel berkecepatan tinggi ke ruang angkasa.

Di samping nilai ilmiahnya, para peneliti juga mengagumi keindahan tampilan Matahari yang baru ini. Menurutnya, gambaran permukaan Matahari ini mengingatkan dengan bentuk langit malam dalam lukisan ‘The Starry Night’ karya Vincent van Gogh tahun 1889.

“Menariknya, para seniman telah lama menangkap intuisi dinamika fluida ini dalam karya mereka. Contoh terkenal adalah lukisan ‘The Starry Night’ karya Van Gogh, di mana struktur pusaran langitnya sangat mirip dengan struktur turbulensi KHI,” kata Kuridze.

“Kemiripan lain juga tampak dalam cetakan blok kayu terkenal karya Hokusai, ‘The Great Wave off Kanagawa’, di mana puncak gelombang yang melengkung menyerupai bentuk ikonik dari lekukan KHI. Hal ini menunjukkan bagaimana geometri mendasar alam beresonansi secara mendalam dengan seni manusia,” lanjut dia.

Sumber: cnnindoesia.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Donald Trump Malah Mau Bikin Pasukan AI Padahal Ilmuwan Minta Setop

21 September 2026 - 20:44 WIB

SpaceX Target Starship Meluncur ke Orbit 28 September

21 September 2026 - 20:38 WIB

Donald Trump Mau Ubah Istilah AI, Siapkan Tiga Usulan

21 September 2026 - 20:34 WIB

Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Kecoak Hybrid’, Bisa Cari Korban Bencana

21 September 2026 - 20:30 WIB

Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas

21 September 2026 - 20:26 WIB

Trending on Kabar Lifestyle