Menu

Dark Mode
Perkuat Aksi Iklim dan Konservasi Hayati, Indocement Tanam Pohon Lokal ​Kota Bogor Juara Umum POPWILDA 2026 China Klaim Ada ‘Ikan Mata-mata’ yang Pantau Perairannya China Perketat Ekspor Indium untuk Chip AI, Ini Fakta-faktanya Microsoft Akan Cabut Dukungan Office 2021, Catat Tanggalnya! Norwegia Larang Anak SD Pakai AI Agar Tak Lupa Baca Tulis

Headline

Umat Islam yang Berkurban Diprediksi Tetap Tinggi

badge-check


					Umat Islam yang Berkurban Diprediksi Tetap Tinggi Perbesar

image

Meski harga hewan kurban mengalami kenaikan cukup signifikan, namun niat dan minat umat Muslim untuk berkurban diprediksi tetap meningkat tahun ini.

Menurut Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor mencatat ada peningkatan titik pemotongan dan jumlah pemotongan hewan kurban antara 10-15 persen.

Hal ini disampaikan perwakilan dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, Siti Farika ketika menjadi narasumber pelatihan penyembelihan hewan kurban yang diselenggarakan IPB dan Pemkab Bogor di Bogor, Minggu (13/9/2015). 

Menurut dia, kenaikan harga ternak, bisa saja membuat masyarakat bergeser dari berkurban hewan besar (sapi/kerbau) menjadi kambing/domba. Selain itu, bisa juga masyarakat memilih sapi dengan ukuran yang lebih kecil.

“Selama 4 tahun terakhir, terjadi peningkatan 10-15 persen, baik dari segi jumlah hewan yang dipotong maupun titik pemotongan,” ucapnya. Oleh karena itu, diperlukan tenaga penyembelih dan penanganan hewan kurban yang kompeten agar daging layak dikonsumsi.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Srihadi Agung Priyono mengakui penanganan proses penyembelihan hewan kurban yang dilakukan di tengah masyarakat masih belum baik. “Yang kita dampingi sudah relatif baik. Tapi, kan, pendampingan kita terbatas. Begitu juga pendampingan dari dinas terkait,” ucap Srihadi.

Misalnya di tahun 2014 ada 2.738 titik penyembelihan di Kabupaten Bogor. Sementara, pendamping dari IPB hanya 600 orang untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Ketua Panitia Pelatihan, Deni Widaya Lukman menambahkan masyarakat harus mengelola limbah hewan kurban dengan bijak saat musim kekeringan seperti ini. Apalagi, sumber air untuk mencuci daging sangat terbatas. Dia juga melihat, kecenderungan masyarakat untuk mencuci daging kurban di sungai. Padahal, debit sungai saat ini sedang berkurang.

Oleh karena itu, dia menyarankan panitia penyembelihan hewan kurban membuat septictank atau lubang khusus pembuangan limbah. Dengan demikian, limbah tidak menyebarkan penyakit. Lubang tersebut setidaknya harus memiliki kedalaman 2 meter. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 50 orang perwakilan DKM di Kota dan Kabupaten Bogor. (Deni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Perkuat Aksi Iklim dan Konservasi Hayati, Indocement Tanam Pohon Lokal

22 June 2026 - 18:19 WIB

PKK Kelurahan Cipete Utara Dukung Gerakan RT/RW Sadar BPJS Ketenagakerjaan

11 June 2026 - 15:30 WIB

Sinergi Tanpa Batas: BPJS Ketenagakerjaan, Jasa Raharja, dan Polri Perkuat Kolaborasi Demi Layanan Prima Korban Kecelakaan Kerja

10 June 2026 - 14:41 WIB

Resmi Pertamax Naik Jadi Rp 16.250

10 June 2026 - 07:19 WIB

Wamenaker: Kerja di Hari Libur Nasional Wajib Bayar Lembur

26 May 2026 - 21:12 WIB

Trending on Headline