Menu

Dark Mode
Elon Musk: Era AI SpaceX Bisa Hasilkan Rp8.911 Triliun Tahun 2028 200 BTS Alami Gangguan Akibat Gempa NTT, Pemulihan Dikebut Hewan yang Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu Ditemukan di Indonesia Belajar dari Spanyol, Bekas Tambang Raksasa Disulap Jadi Danau Karyawan OpenAI Mengeluh Kerjanya Makin Berat Gara-gara AI Teori Baru di Balik Karamnya Kapal Batavia Andalan VOC

Kabar Lifestyle

Hewan yang Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu Ditemukan di Indonesia

badge-check


					Ikan purba Coelacanth kembali ditemukan di Laut Maluku Utara. 
(Foto: dok istimewa)
Perbesar

Ikan purba Coelacanth kembali ditemukan di Laut Maluku Utara. (Foto: dok istimewa)

Pada 1938, spesies ikan yang sudah dikira punah selama 66 juta tahun ditemukan masih hidup. Kecantikannya membuat orang yang menemukannya terpana.

Begini ceritanya. Pada tahun 1930-an, seorang kurator museum yang bekerja di East London Museum di Afrika Selatan meminta para nelayan untuk memberitahunya jika ada sesuatu yang tidak biasa dalam hasil tangkapan mereka.

Itu adalah permintaan sederhana, namun ternyata berujung pada salah satu penemuan ilmiah terbesar abad itu.

Pada tanggal 22 Desember 1938, ia menerima telepon dari kapten kapal Nerine yang mengabarkan bahwa mereka melihat sesuatu yang ganjil di antara hasil tangkapan sampingan mereka. Marjorie Courtenay-Latimer pun menghentikan pekerjaannya menata pameran fosil reptil, bergegas naik taksi.

Sesampainya di sana, dia begitu terpesona ketika menyingkap lapisan lendir dan menemukan ikan yang dia sebut paling indah yang pernah dia lihat.

“Warnanya biru pucat keunguan dengan bintik-bintik putih samar; seluruh tubuhnya memiliki kilau warna-warni perak-biru-hijau. Ikan itu diselimuti sisik keras, serta memiliki empat sirip yang menyerupai anggota tubuh dan ekor aneh yang mirip ekor anak anjing,” ujarnya kepada The Guardian pada tahun 2004.

Dengan panjang hampir 1,5 meter, ikan misterius itu membuat bingung sopir taksi setempat yang ditugaskan membawanya di bagasi mobil. Ketika Courtenay-Latimer tiba di museum, ketua museum mengabaikan dugaannya bahwa ikan itu adalah sesuatu yang tidak biasa. Malahan, ia beranggapan ikan itu tak lebih dari sekadar ikan rock cod.

Meski tidak yakin, Courtenay-Latimer tidak menemukan jawaban di buku-buku referensi museum. Kamar mayat setempat tidak bersedia membantu menjaga bangkai ikan itu tetap dingin, sehingga ia harus berpacu dengan waktu untuk mengidentifikasinya sebelum pembusukan terjadi.

Dikarenakan tidak dapat menghubungi ahli, ia akhirnya memutuskan untuk membiarkan isi perut ikan dikeluarkan dan tubuhnya diawetkan (taxidermy) guna mencegah pembusukan lebih lanjut.

Baru setelah ikan itu diawetkan, ia mendapatkan titik terang. Setelah beberapa kali gagal terhubung, James Leonard Brierley Smith dari Rhodes University, Grahamstown (sekarang Makhanda), menanggapi suratnya yang menyertakan sketsa kasar spesimen tersebut.

Penasaran, ia datang mengunjungi museum pada 16 Februari 1939. Benar saja, ia mengaku sangat terkejut.

“Meskipun saya sudah bersiap, pemandangan pertama itu menghantam saya bagaikan semburan panas yang membara dan membuat saya merasa gemetar serta aneh; tubuh saya terasa berdesir,” tulis Smith dalam bukunya, ‘Old Fourlegs: The Story Of The Coelacanth’.

“Saya berdiri mematung seolah-olah berubah menjadi batu. Ya, tidak ada keraguan sedikit pun; mulai dari sisik demi sisik, tulang demi tulang, hingga sirip demi sirip, itu benar-benar seekor coelacanth,” demikian bunyi buku tersebut.

Penemuan ini sangat mengejutkan komunitas global sebab coelacanth telah menghilang dari catatan fosil pada masa kepunahan dinosaurus. Para ilmuwan meyakini bahwa hewan itu juga telah punah sekitar 66 juta tahun yang lalu.

Ikan itu lantas diberi nama Latimeria chalumnae, diambil dari nama kurator yang jeli dan sungai di dekat tempat ikan itu ditemukan. Smith berkontribusi dalam pencarian yang mengarah pada penemuan coelacanth kedua 14 tahun kemudian, dan saat ini diperkirakan setidaknya ada dua spesies hidup di lautan, L. chalumnae, dan coelacanth Indonesia L. menadoensis.

Latimeria menadoensis, atau dikenal sebagai ikan raja laut adalah spesies ikan purba langka yang hidup di perairan dalam Sulawesi. Ikan ini pertama kali ditemukan di Manado pada tahun 1997 dan dianggap sebagai fosil hidup yang selamat dari kepunahan massal ratusan juta tahun lalu. Baru-baru ini, dia ditemukan di laut dalam Maluku Utara.

Coelacanth berada dalam kondisi sangat terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature. Ikan ini telah terlihat hidup beberapa kali sejak penemuan Courtenay-Latimer pada tahun 1938, tetapi kita masih memiliki banyak hal untuk dipelajari tentang makhluk purba ini. Demikian melansir IFLScience, Sabtu (15/8/2026).

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Elon Musk: Era AI SpaceX Bisa Hasilkan Rp8.911 Triliun Tahun 2028

15 August 2026 - 17:10 WIB

200 BTS Alami Gangguan Akibat Gempa NTT, Pemulihan Dikebut

15 August 2026 - 17:03 WIB

Belajar dari Spanyol, Bekas Tambang Raksasa Disulap Jadi Danau

14 August 2026 - 21:14 WIB

Karyawan OpenAI Mengeluh Kerjanya Makin Berat Gara-gara AI

14 August 2026 - 21:10 WIB

Teori Baru di Balik Karamnya Kapal Batavia Andalan VOC

14 August 2026 - 21:08 WIB

Trending on Kabar Lifestyle