Menu

Dark Mode
Fitur Nano Banana Ditarik dari Google Earth Imbas Konten Misinformasi Latih Sistem Pertahanan, China Manfaatkan Model AI Amerika Tantan Sodorkan Program Creative Hub Hingga 1.000 UKW Gratis Rusia Pasang Pengacau Sinyal Starlink untuk Cegah Drone Ukraina Studi Sebut Kelamaan Online Bisa Bikin Bad Mood dan Stres Mengenal Distillation, Metode “Pencurian” yang Dituduh AS ke AI China

Kabar Lifestyle

Fitur Nano Banana Ditarik dari Google Earth Imbas Konten Misinformasi

badge-check


					Google menarik fitur pembuatan gambar Nano Banana 2 dari Google Earth 
setelah pengguna menyebarkan gambar menyesatkan. (Foto: Blog Google)
Perbesar

Google menarik fitur pembuatan gambar Nano Banana 2 dari Google Earth setelah pengguna menyebarkan gambar menyesatkan. (Foto: Blog Google)

Google menarik kembali fitur pembuatan gambar Nano Banana 2 dari Google Earth setelah sejumlah pengguna membagikan gambar menyesatkan yang dibuat dengan teknologi tersebut.

Perusahaan mengatakan fitur itu akan ditarik sambil menyiapkan sistem pengamanan yang lebih kuat.

“Kami melihat orang-orang membagikan tangkapan layar dari gambar yang dihasilkan dan tampaknya melanggar kebijakan kami,” kata Google melalui akun X, Sabtu (1/8).

Google menegaskan gambar buatan AI tersebut tidak muncul di tampilan utama Google Earth yang dapat dilihat pengguna lain.

Setiap gambar juga telah diberi tanda air atau watermark yang menunjukkan konten tersebut dibuat menggunakan AI.

Namun, tangkapan layar dari antarmuka Google Earth dinilai tetap berpotensi digunakan untuk menyebarkan informasi palsu karena layanan tersebut selama ini dipercaya sebagai gambaran kondisi dunia nyata.

“Kami tahu orang-orang memiliki kepercayaan khusus terhadap Google Earth sebagai sumber gambaran dunia yang dapat diandalkan,” kata Google.

Perusahaan mengatakan fitur tersebut telah digunakan para profesional geospasial untuk sejumlah keperluan yang bermanfaat.

Namun, Google juga menemukan gambar hasil generatif yang kemudian dibagikan dan diduga melanggar kebijakannya.

“Karena itu, kami menarik kembali fitur ini di Google Earth sambil berupaya menerapkan sistem pengamanan yang lebih kuat,” ujar perusahaan.

Dikutip dari PCMag, Direktur Eksekutif Humanitarian Research Lab di Yale School of Public Health Nathaniel Raymond memperingatkan fitur itu dapat memperbesar risiko pemalsuan citra satelit.

Ia mengatakan lembaganya hampir setiap hari menghadapi upaya disinformasi yang berkaitan dengan citra dari udara dan informasi sumber terbuka.

Menurut Raymond, Nano Banana dapat membuka peluang pemalsuan data satelit yang berpotensi merugikan kelompok rentan.

Kekhawatiran serupa disampaikan pendiri dan CEO TerraWatch Space Aravind Ravichandran.

Menurut dia, Google Earth telah menjadi salah satu lapisan peta dasar yang paling banyak digunakan dan dipercaya oleh jurnalis, penyelidik, serta masyarakat umum.

Namun, fitur Nano Banana memungkinkan orang membuat tangkapan layar dari antarmuka yang sama dengan informasi palsu.

Ia mencontohkan gambar rekaan berupa kerumunan orang di perbatasan, tank di tengah kota, hingga terminal minyak yang terbakar.

Henk Van Ess dari Digital Digging juga menguji fitur tersebut dengan membuat sejumlah skenario palsu.

Ia mengaku dapat menambahkan pengungsi di dekat perbatasan Meksiko, menempatkan pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran, serta membuat gambaran kecelakaan fatal di sebuah jalan di Amsterdam.

Seluruh objek palsu itu ditempatkan di atas citra satelit asli milik Google.

Merespons unggahan Van Ess, Google mengatakan pihaknya menangani persoalan misinformasi secara serius.

Setiap gambar yang dibuat menggunakan Nano Banana di Google Earth dibekali tanda air digital SynthID.

Google merilis fitur pembuatan gambar Nano Banana 2 ke Google Earth pada Kamis (30/7). Fitur ini memungkinkan pengguna memunculkan kembali bangunan bersejarah hingga menampilkan infografis di atas tampilan citra satelit.

Fitur yang bisa diakses lewat web tersebut memungkinkan pengguna membuat visual di atas citra satelit, foto udara, dan gambar tiga dimensi yang tersedia di Google Earth.

Pengguna cukup memperbesar tampilan ke suatu lokasi, memilih menu Create image, lalu mengetikkan gambaran yang ingin dibuat.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Latih Sistem Pertahanan, China Manfaatkan Model AI Amerika

3 August 2026 - 20:50 WIB

Rusia Pasang Pengacau Sinyal Starlink untuk Cegah Drone Ukraina

3 August 2026 - 20:38 WIB

Studi Sebut Kelamaan Online Bisa Bikin Bad Mood dan Stres

3 August 2026 - 20:26 WIB

Mengenal Distillation, Metode “Pencurian” yang Dituduh AS ke AI China

3 August 2026 - 20:19 WIB

Misteri Ikan Mati Massal di Danau Batur Bali Diungkap BRIN

3 August 2026 - 20:09 WIB

Trending on Kabar Lifestyle