Google mengalami hari terburuk di pasar saham dalam lebih dari setahun terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (AI) dan kepergian dua peneliti tingkat tinggi ke perusahaan pesaing dalam beberapa hari terakhir.
Saham perusahaan induknya, Alphabet, ditutup turun sekitar 5% pada hari Senin waktu Amerika Serikat, berkinerja lebih buruk dibanding perusahaan raksasa teknologi lainnya. Ini merupakan penurunan paling tajam sejak anjloknya saham sekitar 7% pada Mei 2025.

Pekan lalu, Wakil Presiden Teknik Google yang juga salah satu pimpinan proyek AI Gemini, Noam Shazeer, mengumumkan meninggalkan perusahaan untuk bergabung dengan perusahaan pesaing, OpenAI. Kepergian Shazeer terjadi kurang dari dua tahun setelah ia kembali ke Google.
Agustus 2024, Google membawa kembali Shazeer dan rekannya, Daniel De Freitas, ke unit DeepMind AI sebagai bagian kemitraan dengan startup Character.AI, yang didirikan keduanya setelah meninggalkan Google di 2021. Kepergian ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Google meluncurkan produk AI baru, termasuk Gemini 3.5 Flash dan agen AI Gemini Spark, pada konferensi pengembang tahunan I/O.
Kemudian John Jumper, Vice President DeepMind, mengumumkan meninggalkan perusahaan setelah sembilan tahun mengabdi untuk bergabung dengan perusahaan pesaing, Anthropic.
Jumper, yang memenangkan Hadiah Nobel bersama Demis Hassabis dari Google tahun 2024, sangat dikenal sebagai salah satu pencipta AlphaFold, AI terobosan yang telah memprediksi lebih dari 200 juta struktur protein, memangkas waktu riset biologi dan medis hingga bertahun-tahun.
Penurunan saham juga terjadi tak lama setelah wawancara Wall Street Journal dengan CEO Microsoft, Satya Nadella. Dikutip dari detikINET, dia menyerukan agar industri tidak terlalu bergantung pada ‘Raksasa-raksasa AI’ dan menyebutkan bahwa pasar AI kini telah menjadi sebuah komoditas.
Alphabet menghabiskan dana raksasa untuk AI, termasuk menghimpun USD 141 miliar dalam bentuk utang dan ekuitas sejak bulan Oktober. Perusahaan terus berupaya membuktikan bahwa ekosistem AI-nya yang terintegrasi secara vertikal mampu menghasilkan keuntungan.
Jika model AI menjadi lebih murah dan mudah digantikan satu sama lain, seperti yang disebut Nadella, investor mungkin akan mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar tersebut membangun keunggulan kompetitif yang bertahan lama atau sekadar menambah tekanan pada margin keuntungan.
Di saat yang bersamaan, para pengguna Google pada hari Senin juga melaporkan adanya gangguan pemadaman layanan pada Gmail dan YouTube.
Sumber: detik.com















