Menu

Dark Mode
Wabah Purba Habisi Pemburu-Pengumpul Siberia 5.500 Tahun Lalu AI Mulai Gantikan Kolom Pencarian Saat Belanja Online Peringkat Kecepatan Internet Indonesia di Dunia Terbaru Anjlok Meteorit dari Mars Dibelah, Ada Temuan Mengejutkan Sepekan IPO, Harga Saham SpaceX Kini Terus Merosot Tim Sepakbola Kota Bogor Tampil Gemilang di Popwilda 2026

Kabar Lifestyle

Wabah Purba Habisi Pemburu-Pengumpul Siberia 5.500 Tahun Lalu

badge-check


					Salah satu kerangka yang ditemukan. (Foto: Live Science) Perbesar

Salah satu kerangka yang ditemukan. (Foto: Live Science)

Kelompok manusia pemburu pengumpul di Siberia menjadi korban wabah pes mematikan sekitar 5.500 tahun yang lalu. Menurut studi baru, ini menandai bukti tertua penyakit pes yang diketahui hingga saat ini.

Tim peneliti yang menyelidiki sisa-sisa dari Zaman Batu mengidentifikasi DNA kuno belasan individu yang berasal dari strain Yersinia pestis yang belum diketahui sebelumnya. Bakteri inilah penyebab pes paru (pneumonik), pes bubo (bubonik), dan pes septikemik.

Penyakit yang menginfeksi pemburu pengumpul ini, kemungkinan besar pes paru, diperkirakan menular dari marmot liar dan meluluhlantakkan kelompok-kelompok keluarga di sekitar Danau Baikal, menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature.

DNA kuno itu mengungkap keberadaan gen unik pengode protein yang memicu respons imun masif. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa anak paling rentan meninggal akibat penyakit tersebut.

Penemuan dua wabah pes mematikan pada kelompok pemburu-pengumpul prasejarah ini menantang asumsi lama yang menyebut epidemi pertama kali terjadi setelah bangkitnya sektor pertanian.

“Kami mendapatkan hasil sangat mengejutkan bahwa kami menemukan banyak sekali kasus pes di sini, jauh lebih awal dari yang kami perkirakan,” kata penulis utama studi Ruairidh Macleod, peneliti genomik kuno di University of Oxford.

Pes memainkan peran sangat penting dalam sejarah manusia dan terus menginfeksi hingga hari ini. Namun saat ini, kasus Y. pestis yang terdeteksi lebih awal sudah dapat diobati menggunakan antibiotik.

Menurut penulis studi Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner University of Copenhagen, memahami bagaimana penyakit ini berevolusi sangatlah penting untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana Y. pestis dapat berubah di masa depan.

Wabah Pes Prasejarah
Berbagai penelitian menunjukkan wabah pes membinasakan peradaban jauh sebelum terjadinya Maut Hitam (Black Death), epidemi yang menyapu Eropa abad ke-14 dan menewaskan sekitar 25 juta orang atau setara 25% hingga 33% total populasi Eropa Barat masa itu.

Sebagai contoh, wabah pes berulang telah teridentifikasi pada periode antara 5.300 hingga 4.900 tahun lalu pada kelompok petani dari wilayah yang sekarang Skandinavia. Namun, apakah galur pes awal ini mematikan atau sekadar menyebabkan penyakit ringan masih didebatkan.

Kini, pemeriksaan mendalam terhadap DNA kuno kelompok pemburu-pengumpul yang dimakamkan di empat permakaman di sepanjang tepi Sungai Angara yang mengalir dari Danau Baikal, memberi bukti terbaik bahwa galur pes prasejarah bersifat mematikan dan mengakibatkan kematian massal.

Peneliti menyadari jumlah anak yang tidak wajar tingginya dimakamkan dalam rentang waktu singkat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Macleod dan timnya pun turun tangan untuk melihat apakah DNA kuno dapat menguak misteri ini.

Peneliti mengekstraksi DNA kuno dari gigi 46 individu di keempat permakaman. Mereka memeriksa apakah ada di antara individu-individu tersebut yang berkerabat. Yang mengejutkan, teridentifikasi bakteri Y. pestis dalam jumlah besar pada 18 individu.

Kasus-kasus ini mencakup dua wabah penyakit berbeda, satu berlangsung dari sekitar 5.596 hingga 5.341 tahun yang lalu dan wabah lainnya kemungkinan berlangsung 5.126 hingga 4.926 tahun lalu.

Beberapa makam berisi sisa kerangka sejumlah individu terinfeksi yang dikuburkan di saat bersamaan, mengindikasikan mereka tewas selama wabah yang sama. Satu makam merupakan tempat peristirahatan tiga gadis muda yang berkerabat dekat, sementara makam lainnya berisi keponakan dan bibinya.

“Pasti ada penyintas yang mengenal orang-orang ini ketika mereka masih hidup, mengetahui identitas mereka, serta mengetahui hubungan biologis mereka, sehingga bisa menguburkan para korban di liang lahad yang sama,” urai Macleod.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

AI Mulai Gantikan Kolom Pencarian Saat Belanja Online

20 June 2026 - 13:13 WIB

Peringkat Kecepatan Internet Indonesia di Dunia Terbaru Anjlok

20 June 2026 - 13:10 WIB

Meteorit dari Mars Dibelah, Ada Temuan Mengejutkan

20 June 2026 - 13:07 WIB

Sepekan IPO, Harga Saham SpaceX Kini Terus Merosot

20 June 2026 - 13:04 WIB

Apa Penyebab Tubuh Pegal Saat di Ruangan Ber-AC? Ini Kata Dokter

18 June 2026 - 12:57 WIB

Trending on Kabar Lifestyle