Menu

Dark Mode
Pinjam Pakai Eks Kantor Imigrasi, Pemkot Bogor Teken Perjanjian Layanan Publik Makin Mudah, Imigrasi dan Dukcapil Buka Layanan di PWI Kota Bogor Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak

Kabar Lifestyle

Iron Beam Resmi Operasional, Era Senjata Laser Taktis Dimulai

badge-check


					Foto: New Atlas Perbesar

Foto: New Atlas

Jakarta – Era senjata laser taktis akhirnya benar-benar dimulai. Pada 28 Desember 2025, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa Iron Beam telah sepenuhnya terintegrasi dan disetujui untuk operasi dalam sistem pertahanan nasional Israel. Pengumuman ini menandai tonggak sejarah penting, karena untuk pertama kalinya senjata laser energi tinggi diadopsi sebagai bagian operasional penuh dari kekuatan militer sebuah negara.

Iron Beam kini berfungsi sebagai lapisan terdalam pertahanan udara Israel, dengan peran utama mencegat ancaman jarak dekat seperti roket, mortir, dan drone. Sistem ini melengkapi pertahanan berlapis Israel yang sebelumnya mengandalkan sistem berbasis rudal, sekaligus membuka babak baru dalam peperangan modern.

Dari Fiksi Ilmiah ke Kenyataan Militer

Gagasan senjata laser sebenarnya bukan hal baru. Sejak penemuan laser oleh Theodore Maiman pada 1960 di Hughes Research Laboratories, potensi militer teknologi ini langsung menarik perhatian publik.

Media kala itu bahkan menyebutnya sebagai “death ray” ala fiksi ilmiah. Representasi senjata laser kemudian semakin populer lewat film-film seperti Goldfinger, yang memperkuat citra laser sebagai senjata masa depan.

Namun, selama puluhan tahun, laser lebih banyak menjadi “solusi yang mencari masalah”. Keterbatasan daya, kesulitan penargetan, dan gangguan atmosfer membuat laser belum praktis dijadikan senjata tempur. Pada era 1960-an hingga 1980-an, penggunaan militer laser sebagian besar terbatas pada sistem penunjuk sasaran dan pengukur jarak.

Perubahan besar baru terjadi dalam dua dekade terakhir. Munculnya laser solid-state berbasis serat optik memungkinkan penciptaan sinar berdaya tinggi dalam ukuran yang lebih ringkas dan efisien. Teknologi ini menggunakan serat kaca yang didoping elemen seperti ytterbium dan erbium, serta memungkinkan penggabungan beberapa laser menjadi satu sinar yang jauh lebih kuat.

Selain itu, sistem penargetan modern kini mampu mengunci sasaran secara cepat dan presisi. Laser referensi digunakan untuk menganalisis kondisi atmosfer di antara senjata dan target, sehingga sinar utama dapat dikoreksi secara real time untuk mengatasi distorsi udara. Kombinasi inilah yang akhirnya membuat senjata laser taktis menjadi sistem yang benar-benar operasional.

Perjalanan Panjang Iron Beam

Iron Beam sendiri bukan proyek instan. Pengembangannya dimulai pada 1996 sebagai proyek kerja sama Amerika Serikat dan Israel. Awalnya, sistem ini dirancang menggunakan laser kimia fluorida deuterium, namun kemudian dialihkan ke laser solid-state bertenaga listrik demi efisiensi dan keamanan.

Pengembangan sistem ini berada di bawah kendali Rafael Advanced Defense Systems, perusahaan pertahanan milik negara Israel. Pada 2024, eskalasi konflik regional mendorong percepatan uji tempur Iron Beam untuk menghadapi ancaman drone dan roket jarak pendek. Hasilnya, sistem ini dinilai siap dan akhirnya disahkan sebagai bagian resmi persenjataan IDF pada akhir 2025.

Mengapa Integrasi Penuh Itu Penting?

Keberhasilan Iron Beam bukan sekadar karena ia mampu menembak jatuh target. Perbedaan besar antara senjata eksperimental dan sistem operasional terletak pada integrasi. Senjata modern harus kompatibel dengan jaringan komando dan kontrol, logistik, pemeliharaan, serta rantai pasok yang kompleks.

Sistem seperti Iron Beam harus tangguh terhadap guncangan, debu, dan kondisi lingkungan ekstrem. Ia juga membutuhkan prosedur keselamatan ketat, mekanisme pemadaman darurat, serta kemampuan perbaikan cepat oleh teknisi lapangan menggunakan suku cadang standar. Semua syarat inilah yang membuat banyak senjata laser sebelumnya tertahan di tahap uji coba.

Dampak Global dan Masa Depan Perang

Saat ini, puluhan negara-termasuk Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, Prancis, hingga Jepang-tengah mengembangkan atau menguji senjata laser taktis mereka sendiri. Daya tariknya jelas: laser bekerja dengan kecepatan cahaya, memiliki “amunisi” nyaris tak terbatas, dan biaya operasional yang sangat rendah per tembakan.

Dalam jangka pendek, senjata laser akan difokuskan untuk melawan drone serta ancaman udara jarak dekat. Namun, dalam jangka panjang, teknologi ini berpotensi mengubah wajah peperangan secara fundamental-sebanding dengan revolusi bubuk mesiu di masa lalu.

Dengan Iron Beam kini resmi operasional, senjata laser bukan lagi sekadar konsep futuristik. Era baru peperangan telah dimulai, dan dunia kini menyaksikan bagaimana teknologi yang dahulu hanya ada dalam fiksi ilmiah perlahan menjadi kenyataan di medan tempur, demikian dilansir dari New Atlas.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein

4 February 2026 - 13:19 WIB

Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek

4 February 2026 - 13:16 WIB

Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya

4 February 2026 - 13:14 WIB

Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak

4 February 2026 - 13:11 WIB

Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

3 February 2026 - 11:47 WIB

Trending on Kabar Lifestyle