Menu

Dark Mode
Mudik Tenang! BPJS Kesehatan Siagakan Layanan JKN Selama Libur Lebaran 2026 Banu Bagaskara: Kebijakan THR PPPK Paruh Waktu Tidak Adil Danantara Tunjuk Investor Tiongkok untuk Proyek PSEL Bogor Raya Yantie Rachim Serukan Masyarakat Perkuat Semangat Berbagi kepada Anak Yatim Program Kerja 2026 Ditetapkan, Pramuka Kota Bogor Makin Tancap Gas Kwarran Bogor Barat Gelar Ramadan Fest 2026

Kabar Lifestyle

Internet angkasa Starlink lumpuh di atas langit Iran, mengapa?

badge-check


					Foto: AP Photo Perbesar

Foto: AP Photo

JAKARTA – Rezim Iran kini melancarkan operasi perang elektronik yang agresif dengan mengacak sinyal (jamming) GPS untuk melumpuhkan terminal satelit Starlink, sebuah langkah putus asa demi memblokir satu-satunya celah komunikasi independen yang tersisa di tengah penumpasan berdarah yang telah menewaskan sedikitnya 646 demonstran.

Serangan teknis yang dimulai sejak Kamis lalu ini secara spesifik menargetkan sistem navigasi pada perangkat penerima sinyal untuk mencegah bocornya bukti kekejaman aparat ke dunia luar, mengingat pemerintah telah memberlakukan pemadaman internet total (blackout) sebagai strategi utama untuk meredam eskalasi protes yang dipicu oleh krisis ekonomi.

Dikutip dari independent.co.uk (14/1/2026), Mahsa Alimardani, Spesialis Represi Digital dari organisasi Witness, mengungkapkan bahwa gangguan sinyal ini terjadi secara masif sejak awal pemadaman, berdampak langsung pada kinerja sekitar 50.000 hingga 100.000 terminal Starlink yang diperkirakan beroperasi di negara tersebut.

Meskipun serangan ini tidak sepenuhnya efektif terbukti dengan masih adanya rekaman video kekerasan yang berhasil diunggah para ahli menegaskan bahwa Starlink belum bisa menjadi solusi instan bagi 90 juta populasi yang terisolasi.

Wacana penggunaan teknologi direct-to-cell (satelit langsung ke ponsel) sebagai alternatif juga menghadapi hambatan besar karena membutuhkan investasi mahal dan pembelian spektrum frekuensi radio untuk memintas operator lokal, sebuah langkah jangka panjang yang mustahil dieksekusi cepat dalam situasi darurat ini.

Efektivitas pemadaman total ini berakar pada sentralisasi infrastruktur telekomunikasi yang dibangun sistematis oleh Teheran pasca-kerusuhan 2009, di mana Garda Revolusi (IRGC) kini menguasai 51% saham perusahaan telekomunikasi negara dan memegang kendali penuh atas seluruh gerbang internet (gateways) nasional.

Struktur kepemilikan ini memungkinkan rezim untuk memutus akses secara total hanya dengan satu perintah kepatuhan kepada penyedia layanan internet (ISP), sebuah taktik “opsi terakhir” yang menurut analis mencerminkan ketakutan mendalam pemerintah akan hilangnya kendali atas rakyatnya sendiri.

Karena meskipun Starlink dipancarkan melalui satelit tetapi tetsap saja sumber internetnya berasal dari stasiun bumi provider ISP lokal. Artinya, kalaupun jaringan GPS tidak diganggu jamming, tetap saja sumber internet di atas langit Iran terputus jika provider lokal tersebut diminta pemerintah menghentikan pasokan internet ke Starlink.

Seperti diketahui, aksi demo besar di Iran didukung oleh bazaaris yang dahulu pada 1979 Revolusi Iran justru menjadi pendukung utama gerakan massa meruntuhkan rezim Reza Phalevi. Siapa bazaaris di Iran? (SF)

Sumber: idnfinancials.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah

10 March 2026 - 22:37 WIB

Printer 3D Bambu Lab Resmi Masuk Indonesia

7 March 2026 - 21:26 WIB

Vidi Aldiano Meninggal, Netizen Berduka Cita

7 March 2026 - 21:20 WIB

Senjata AI Ini Jadi Kunci Serangan AS ke Iran, Bisa Hantam 1000 Target

7 March 2026 - 21:16 WIB

AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

7 March 2026 - 21:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle