Menu

Dark Mode
Semangat Bulan Muharram 1448 H di Tengah Tantangan Ekonomi Indonesia Pertamina Pastikan Penyaluran BBM di Seluruh SPBU Jabodetabek Tetap Berjalan Optimal Gerak Jalan Sehat Harkopnas Meriah, Ketua DPRD Bogor Apresiasi Peran Koperasi Di Mana Letak Kota Bizantium yang Hilang? OpenAI Respons Gugatan Apple yang Tuding Pencurian Rahasia Dagang Apple Gugat OpenAI atas Tuduhan Pencurian Rahasia Dagang

Kabar Lifestyle

Hacker China Disebut Pakai AI untuk Melakukan Peretasan Otomatis Sekali Klik

badge-check


					Ilustrasi hacker asal China.Foto: (Getty Images) Perbesar

Ilustrasi hacker asal China.Foto: (Getty Images)

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mengotomatisasi pekerjaan manusia, ternyata membuka peluang baru bagi kelompok peretas untuk melakukan serangan siber dalam skala besar.  

Temuan terbaru mengungkap bahwa tingkat otomatisasi itu kini meningkat drastis, di mana proses peretasan bisa berjalan bahkan hanya dengan satu kali klik, tanpa memerlukan banyak kendali manusia. 

Hal ini terungkap lewat laporan terbaru Anthropic, perusahaan rintisan (startup) AI asal Amerika Serikat (AS).

Dalam laporannya, mereka mengungkap bahwa tingkat otomatisasi tersebut terjadi karena  ada sekelompok hacker yang diduga didukung pemerintah China, memanfaatkan model AI buatan Anthropic, yaitu Claude, untuk menjalankan serangan.

Dilansir outlet media Wall Street Journal, laporan Anthropic memperkirakan ada sekitar 30 serangan siber yang dijalankan secara otomatis menggunakan AI Claude selama bulan September 2025 lalu.

Hampir sepenuhnya diotomatisasi AI 

Masih dari laporan yang sama, Head of Threat Intelligence Anthropic, Jacob Klein mengatakan bahwa serangan siber yang terjadi hampir sepenuhnya diotomatisasi AI. 

Ia memperkirakan, ada sekitar 80–90 persen proses peretasan, presentase yang cukup tinggi dibanding serangan berbasis AI yang pernah mereka temui sebelumnya. 

Klein menjelaskan, proses serangan yang dilakukan pun berjalan “hanya dengan sekali klik”, tanpa banyak kendali manusia di dalamnya. 

“Hanya dengan sekali klik, dan dengan interaksi manusia yang minimal,” ujar Klein, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari TheVerge.

Ia menambahkan, keterlibatan manusia hanya muncul di beberapa titik tertentu saja, seperti ketika memberi persetujuan, menghentikan langkah tertentu, atau merespons hasil jawaban AI. 

“Manusia hanya terlibat di beberapa titik kritis, yang mengatakan, ‘Ya, lanjutkan,’ ‘Jangan lanjutkan,’ ‘Terima kasih atas informasi ini,’ ‘Oh, itu sepertinya tidak benar, Claude, kau yakin?'” tambahnya.  

China bantah tuduhan 

Meski demikian, laporan Anthropic yang menuding bahwa serangan siber yang diotomatisasi oleh AI dan disponsori oleh pemerintah, dibantah langsung oleh pihak China.

Bantahan tuduhan semacam ini sebenarnya bukan hal baru bagi China. 

Sebab, selama bertahun-tahun, pemerintah AS sudah melayangkan dugaan serupa bahwa China memanfaatkan teknologi AI untuk mencuri data warga dan perusahaan AS, tapi selalu dibantah oleh China. 

Anthropic sendiri, dalam laporan terbaru ini, tidak menjelaskan secara rinci siapa saja yang menjadi korban peretasan. Mereka hanya menyebut ada empat korban yang mengaku kehilangan data sensitif

Adapun fenomena tuduhan serangan siber berbasis otomatisasi AI juga dilaporkan terjadi di negara lain, yakni Rusia. 

Laporan menyebut, Google menemukan ada peretas asal Rusia yang menggunakan model bahasa besar (LLM) untuk menghasilkan perintah malware secara otomatis.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Di Mana Letak Kota Bizantium yang Hilang?

12 July 2026 - 19:15 WIB

OpenAI Respons Gugatan Apple yang Tuding Pencurian Rahasia Dagang

12 July 2026 - 19:11 WIB

Apple Gugat OpenAI atas Tuduhan Pencurian Rahasia Dagang

12 July 2026 - 19:07 WIB

Kipas Portabel Kini Naik Kelas Jadi Gadget Wajib Pekerja Digital

12 July 2026 - 19:03 WIB

Persaingan ISP Bergeser, Kini Tak Cuma Andalkan Kecepatan

12 July 2026 - 15:45 WIB

Trending on Kabar Lifestyle