Pemerintah terus berupaya agar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bisa bertransformasi digital, dengan mengadopsi teknologi yang sekarang sedang berkembang. Upaya ini dilakukan agar eksistensi UMKM terus terjaga dan memberi andil positif dalam pemulihan ekonomi nasional. Demikian dikatakan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto, dalam webinar ‘Solusi Peningkatan UMKM Dalam Pemulihan Nasional di Masa Pandemi Covid-19’ yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan DPR RI di Bogor Valley, kemarin.
Menurut Anton, saat ini baru 15 persen saja UMKM yang sudah digitalisasi. Padahal di era industri 4.0 degitalisasi UMKM jadi kunci penting.

“UMKM sudah harus melakukan digitaliasi, pengembangan dari UMKM tradisional ke digital adalah solusi dan penting dilakukan sehingga UMKM mesti terus didorong mengadopsi teknologi,” ujar Anton.
Anton meyakini UMKM bisa jadi penopang pemulihan ekonomi nasional dimasa pandemi sekarang ini sehingga masa pandemi ini juga jadi momentum pengembangan UMKM. “Teknologi memiliki peran penting dan pelaku UMKM pun sekarang ini banyak kaum muda,” jelas wakil rakyat dari Fraksi Partai Demokrat ini.
Sementara itu menurut Direktur Ekonomi Digital Kominfo I Nyoman Adhiarna, dirinya sependapat dengan Anton, Kominfo ini selama ini telah melakukan sejumlah program, dan pada tahun 2022 UMKM harus sudah mengadopsi teknologi.
“Tahun depan adopsi, sebenarnya tahun 2017, UMKM sudah go online dan 2020 sampai sekarang sudah active selling. Tinggal pembenahan di jumlah kendala. Ada tiga poin penting yaitu ekonomi, pemerintah dan masyarakat itu sendiri yang semuanya mesti bertransformasi ke digital,” kata I Nyoman.
I Nyoman tidak memungkiri sekarang ini sejumlah masalah seperti infrastruktur, kualitas produk, konektivitas, akses perbankan dan culture, menghambat laju UMKM. Meski demikian dia optimistis sekarang ini banyak UMKM telah berjualan dengan platform digital.
“Data BPJS sudah ada 63 juta, hanya memang masih belum punya akun di marketplace. Jadi sudah 37 persen sudah jualan di sosmed,” katanya.
Hal senada dituturkan Founder Kopi Ranger Irwan Kurnia, UMKM memiliki prospek bagus. “Inovasi bisnis bisa dilakukan di platform medsos dan memang mesti ada bantuan teknologi jika mau berkembang. Tentu produsen juga mesti menjaga kualitas produk,” jelas Irwan.
Bisnisnya tampil beda dengan kopi seduh dingin atau coldbrew. Meski diakuinya, pandemi Covid-19 telah berdampak ke coffeeshop, namun sejumlah inovasi terus dilakukan salah satunya menyajikan cita rasa kopi tiap daerah yang memiliki karakteristik rasa unik.
Penulis Pratama/rls
Editor Aldho Herman














