Wisuda 609 Mahasiswa, Bibin Ingatkan Kebhinekaan

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang lahir dari kemajemukan. Kemajemukan sudah ada sejak Indonesia terbentuk, dan bhinneka tunggal ika adalah hasil penggalian panjang founding father. Untuk itu generasi sekarang dan akan datang harus tetap bisa menjaga bhineka tunggal Ika tersebut.Demikian dikatakan Rektor Universitas Pakuan Bibin Rubini saat mewisuda 609 mahasiswa dan mahasiswi yang lulus di gelombang I di Gedung Braja Mustika, Jalan Dr Semeru Kota Bogor Rabu (22/2/2017).

Ratusan mahasiswa yang diwisuda tersebut terdiri dari Program Pascasarjana S3: 2 orang, S2: 41 orang, Fakultas Hukum 26 orang, Fakultas Ekonomi S1: 98 orang, Fakultas Ekonomi D3: 2 orang, FKIP 190 orang, FISIB: 57 orang, Fakultas Teknik: 26 orang, Fakultas MIPA S1: 164 orang serta Fakultas MIPA D3: 3orang.

Bibin menambahkan, menurut data BPS  terdapat 1.158 bahasa daerah, 1.128 suku, beragam sosial, etnis, budaya dan agama.

“Semboyan Bhinneka tunggal ika yang terdapat pada lambang negara merupakan karya besar yang tak ternilai, yang dapat mempersatukan bangsa yang majemuk ini,” kata Bibin.

Kebhinnekaan yang mempersatukan bangsa ini lanjutnya, tengah dalam ujian dan badai yang berat. Atas nama demokrasi, rakyat boleh bicara sebebas-bebasnya sehingga sulit membedakan antara fakta dan hoax. Kini disadari atau tidak  betapa rapuhnya kebhinnekaan . Kebhinnekaan yang sejatinya merupakan modal sosial dan politik negeri ini sekarang  terkoyak oleh syahwat politik kekuasaan sekelompok manusia.

“Mencermati dinamika sosial dan politik yang berkembang di masyarakat baik melalui tayangan media elektronik maupun media cetak beberapa minggu terakhir ini sungguh sangat memprihatinkan, catatan aksi yang melukai kebhinnekaan cukup masif,” ujarnya.

Fakta-fakta kekerasan atas nama ideologi yang terjadi saat ini, kata Bibin tanpa disadari telah meruntuhkan nilai-nilai kebhinnekaan yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia.  Bangsa ini masih perlu kerja keras dalam membangun nasionalisme dan toleransi dalam kebhinnekaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan benteng kokoh yang merekatkan kerukunan dan pemersatu bangsa Indonesia. Jangan sampai nilai-nilai Pancasila tergerus bahkan hilang dari aspek kehidupan bangsa Indonesia karena pengaruh ideologi yang tidak sesuai dengan perikehidupan masyarakat.

IMG-20170222-WA0003

“Semakin tidak diamalkan nilai-nilai Pancasila ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka selama itu pula Indonesia akan diterpa konflik yang berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan bangsa,” terangnya.

Bibin meyakini, keberagaman di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa merupakan Sunnatullah. Islam tidak memiliki masalah dengan kebhinnekaan,bahkan Islam membuat kebhinnekaan tersebut menjadi berkah. Allah SWT sendiri menciptakan manusia dengan keberagamannya baik bersuku-suku, agama dan bangsa.Bahkan Bibin mengutip ayat Al Quran dalam Surat al-Hujurat: 13: “Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha tahu lagi Maha Mengenal”

Dalam kesempatan tersebut Bibin menyoroti tentang perkembangan teknologi di era modern yang begitu pesat. Bahkan teknologi hadir sebagai penyedia layanan yang begitu cepat. Keberadaan teknologi telah mengubah pola interaksi manusia yang awalnya terbatas dengan ruang dan waktu menjadi tidak terbatas. Hal ini menjadi anomali bagi Indonesia yang berdasarkan surveyInternet Live State tahun 2015 menduduki peringkat 12 pengguna internet di dunia, terutama teknologi yang berbasis media sosial. Hal ini harus menjadi perhatian bagi setiap elemen bangsa agar terus waspada dan bijak dalam penggunaannya.  “Mengingat media sosial dapat memberikan dampak negatif  bagi penggunanya, bahkan dapat memecah belah persatuan bangsa, khususnya memecah kerukunan berbangsa dan beragama,” katanya,

Perubahan zaman begitu cepat dan  era globalisasi tidak dapat terhindarkan dan mengakibatkan perubahantidak hanya pada teknologi semata, akan tetapi perubahan pada pendidikan. Bibin bertanya apakah kemajuan teknologi dapat diimbangi dengan perkembangan pendidikan di Indonesia? “Jawabannya ada pada diri kita masing-masing,”ujarnya.

Kata Bibin, keyakinan tersebut harus tertanam dalam diri pendidik, orangtua, masyarakat dan pemerintah. Sinergi antara sekolah/PT, masyarakat, orang tua dan pemerintah merupakan suatu keniscayaan bahwa pendidikan Indonesia harus dapat mengimbangi perkembangan teknologi. Jika sinergitas dan keyakinan tidak tertanam dalam diri kita, maka bukan tidak mungkin teknologi akan mengendalikan pendidikan bahkan manusia.

Bibin menjelaskan pendidikan di Indonesia  saat ini sedang mengarah pada pendidikan abad 21 atau yang lebih populer disebut 21st Century Learning. Hal inimengakibatkan perubahan total baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan. Karena dunia terus berubah sedemikian cepatnya maka, sejatinya sangatlah sulit untuk memastikan gambaran pendidikan di masa mendatang.Bibin mengutip pendapat seorang filsuf Amerika John Dewey mengemukakan kata-kata bijaknya“If we teach our children as we did yesterday, we rob them of the future”(Gateway, 2008: 6). “Jika kita mengajarkan anak-anak kita seperti apa yang kita lakukan kemarin, maka kita telah merampas masa depan mereka.” Artinya seorang pendidik harus mampu mendidik sesuai zamannya.

:Pernyataan ini selaras dengan perkataan sahabat Nabiullah Muhammad SAW yaitu Ali bin Ali Thalib yang diucapkan beberapa abad yang lampau bahwa “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”katanya.

Kata Bibin, perubahan paradigma pendidikan dan dinamika yang terjadi di masyarakat membawa konsekuensi logis pada tuntutan perubahan pada lembaga pendidikan. Pendidikan tidak bisa hanya mengedepankan kecerdasan intelektual semata, akan tetapi kecerdasan lainnya seperti kecerdasan spiritual, emosional, sertakecerdasan adversity yang harus dilaksanakan secaraharmoni dan terpadu, sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan mempunyai hard skill dan juga Soft Skill yang memadai.

“Dengan demikian, pembelajaran masa depanharus dapat mengintegrasikan teknologi ke dalam seluruh proses pembelajarannya,” terangnya.  Tentu saja lembaga pendidikan wajib menyediakan  lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan sikap dan rasa ingin tahunya, mengajarkan skills yang bermanfaat bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang dan memungkinkan mereka mempraktikan kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif di dalam tim untuk mencari tahu, memecahkan masalah, membuat dan mengkomunikasikan hasil pekerjaan mereka melalui wadah dan bentuk yang paling sesuai dengan kondisi dan kapasitas anak di era digital-based.

Bibin meyakini bahwa output pendidikan yang baik,hanya lahir dari sebuah proses yang baik. Dengan keyakinan itu pula Universitas Pakuan terus berbenah dengan menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik dalam hal ini mahasiswa dapat berkembang optimal yang pada akhirnya akan terbentuk insan-insan cendikia yang bukan hanya memiliki kompetensi unggul tetapi dibarengi dengan kepribadian yang baik dan adaptif terhadap perubahan.

Bibin menerangkan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraanpendidikan di Universitas Pakuan yang telah diapresiasi oleh pihak eksternal di tingkat internasional antara lain; Universitas Pakuan bekerjasama di bawah koordinasi SEAMEO telah melakukan pertukaran mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional dengan Negara Thailand dan Philippine. Adapun tempat mahasiswa Unpak yang melaksanakan PPL di Thailand adalah Valaya Alongkorn Rajabhat University, Udonthani Rajabhat University dan Phranakon Rajabhat University.

Pada tanggal 15-16 Nopember yang lalu juga, Universitas Pakuan ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasisawaan menjadi tuan rumahInternational Dialogue tentang Lesson Study yang dihadiri oleh Sembilan Negara Asia Afrika diantaranya Jepang, Myanmar, Cambodia, Burkina Faso, Nepal, Rwanda, Ghana, Vanuatu dan Zambia.

Pratama

print

You may also like...