Menu

Dark Mode
Disidak Satpol PP, Pengelola Teras Nona Manis dan Tipzy Bears Beberkan Kronologi Legalitas Wakaf Alun-Alun Empang Teruji dan Sesuai Aturan Eropa Panas Menyengat, AC Unik China Jadi Penyelamat Kisah Tragis Bocah Dihinggapi Kelelawar Berujung Meninggal Dunia Meta Dituding Pakai Cara Kotor Ganggu Kompetitor untuk Kembangkan AI Fenomena Aphelion 2026, Buat Cuaca Lebih Dingin?

Kabar Lifestyle

Yayasan Bill Gates Bantu Lepas 30 Juta Nyamuk Setiap Minggunya, Buat Apa?

badge-check


					Bill Gates saat di Yogyakarta. (Foto: Dokumentasi Bill Gates) Perbesar

Bill Gates saat di Yogyakarta. (Foto: Dokumentasi Bill Gates)

Yayasan Bill Gates membantu melepas 30 juta nyamuk setiap minggunya. Bukan jahat, justru Gates punya niat baik di baliknya.
Program ini ada di dalam Medellin, Kolombia, di mana para ilmuwan membiakkan jutaan kemudian melepaskannya ke lingkungan. Pada awalnya, hal itu mungkin terdengar aneh, terutama karena nyamuk dikenal sebagai penyebar penyakit berbahaya. Akan tetapi, peneliti mengatakan serangga ini justru untuk membantu menghentikan penyebaran penyakit seperti demam berdarah, Zika, chikungunya, dan demam kuning.

Proyek ini, sebagian didukung oleh Gates Foundation dan didukung oleh Program Nyamuk Dunia. Nyamuk-nyamuk ini membawa bakteri yang tidak berbahaya bernama Wolbachia, yang membuat virus jauh lebih sulit menyebar dari nyamuk ke manusia.

Melansir Times of India, fasilitas di Medellin ini adalah salah satu pusat pembiakan nyamuk terbesar di dunia. Para ilmuwan di sana terutama membiakkan Aedes aegypti, spesies yang dikenal menyebarkan penyakit seperti demam berdarah, Zika, dan chikungunya.

Di dalam laboratorium yang terkontrol suhunya, peneliti dengan cermat memantau setiap tahap siklus hidup serangga, dari telur dan larva hingga nyamuk dewasa, sebelum mempersiapkannya untuk dilepaskan ke masyarakat sekitar. Yang membedakan nyamuk-nyamuk ini adalah bakteri alami yang disebut Wolbachia.

Para ilmuwan menemukan bahwa ketika nyamuk Aedes aegypti membawa Wolbachia, kemungkinan mereka menyebarkan virus berbahaya ke manusia menjadi jauh lebih kecil. Nyamuk-nyamuk ini tidak dimodifikasi secara genetik. Sebaliknya, para peneliti memasukkan bakteri tersebut ke dalam telur nyamuk dalam kondisi laboratorium dan kemudian membiakkan generasi mendatang yang membawa sifat yang sama.

Setelah dilepaskan ke alam liar, nyamuk-nyamuk ini mulai kawin dengan populasi nyamuk lokal, membantu bakteri Wolbachia menyebar secara alami dari waktu ke waktu. Semakin banyak nyamuk di suatu daerah yang membawa bakteri tersebut, semakin sedikit yang mampu menularkan virus seperti demam berdarah.

Studi dari berbagai negara telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Indonesia, daerah-daerah tempat nyamuk Wolbachia dilepaskan dilaporkan mengalami penurunan signifikan dalam infeksi demam berdarah dan kunjungan ke rumah sakit.

Para peneliti di Kolombia juga melaporkan penurunan tajam kasus demam berdarah sejak program tersebut dimulai di Medellin pada tahun 2015. Para ilmuwan percaya bahwa metode ini dapat menjadi alat penting bagi negara-negara di mana penyakit yang ditularkan nyamuk mempengaruhi jutaan orang setiap tahunnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Eropa Panas Menyengat, AC Unik China Jadi Penyelamat

7 July 2026 - 13:32 WIB

Kisah Tragis Bocah Dihinggapi Kelelawar Berujung Meninggal Dunia

7 July 2026 - 13:29 WIB

Meta Dituding Pakai Cara Kotor Ganggu Kompetitor untuk Kembangkan AI

7 July 2026 - 13:24 WIB

Fenomena Aphelion 2026, Buat Cuaca Lebih Dingin?

7 July 2026 - 13:21 WIB

Bagaimana Peluang RI ‘Terpanggang’ Gelombang Panas? Ini Kata Pakar

7 July 2026 - 13:17 WIB

Trending on Kabar Lifestyle