Menu ✖

Dark Mode
Menaker Ungkap Poin Penting UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang Wajib Diketahui Pekerja 14 Kemantren, Petugas Kebersihan, Sanggar Luar Daerah Meriahkan WJNC 2026 Rakor Pemprov Jabar Bahas Layanan Kesehatan hingga Rencana BRT Pemkot Bogor Tekankan Pentingnya Standar Higiene bagi Pengelola Depot Air Minum Kota Bogor Optimis Raih 100 Medali Emas Dalam Ajang Porprov XV Gebyar Sakura, YKI Kota Bogor Ajak Perempuan Berani Periksa Kanker Sejak Dini

Kabar Lifestyle

Studi Sebut Super El Nino Bisa Bikin Laut Makin Tinggi

badge-check


					El Nino kuat tak hanya membawa kondisi kering, tetapi juga dapat 
mempercepat kenaikan permukaan laut global. (Foto: REUTERS/Ricardo 
Moraes)
Perbesar

El Nino kuat tak hanya membawa kondisi kering, tetapi juga dapat mempercepat kenaikan permukaan laut global. (Foto: REUTERS/Ricardo Moraes)

El Nino kuat seperti yang tengah terjadi saat ini tak hanya mendorong kenaikan suhu global, tetapi juga dapat membuat permukaan laut rata-rata dunia naik lebih cepat.

Studi terbaru membandingkan dampak El Nino kuat pada 2014-2016 dan 2023-2024 terhadap permukaan laut global.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Oceans itu menemukan kedua peristiwa sama-sama menyebabkan kenaikan permukaan laut rata-rata global, tetapi mekanisme dan kecepatannya berbeda.

El Nino ditandai suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di wilayah Pasifik tropis, terutama kawasan Niño 3.4.

Jika anomali suhu permukaan laut di wilayah itu positif, kondisi ini disebut El Nino. Sebaliknya, jika indeks menunjukkan angka negatif, maka kondisinya disebut La Nina.

Peneliti menemukan kenaikan permukaan laut selama dua peristiwa tersebut terutama didorong oleh perubahan jumlah air yang berpindah dari daratan menuju laut.

Dikutip dari Phys, ada dua proses utama yang memengaruhi perubahan permukaan laut.

Pertama, perubahan sterik, yakni perubahan volume air laut akibat perubahan suhu dan kepadatan.

Kedua, perubahan baristatik, yakni perubahan jumlah air di laut akibat perpindahan air dari daratan dan es menuju laut atau sebaliknya.

Data penelitian ini menggunakan pengamatan satelit dari Copernicus Marine and Environmental Monitoring Service serta data buoy Argo.

Pada fase perkembangan El Nino 2014-2016, permukaan laut rata-rata global naik sekitar 9,16 milimeter.

Sementara pada El Nino 2023-2024, kenaikannya mencapai sekitar 7,70 milimeter.

Meski angka total pada periode kedua lebih kecil, kenaikannya terjadi dalam waktu jauh lebih singkat sehingga lajunya lebih curam.

Pada 2014-2016, perubahan baristatik menyumbang sekitar 6,20 milimeter atau 68 persen dari total kenaikan. Sementara pada 2023-2024, kontribusinya mencapai sekitar 6,26 milimeter atau 81 persen.

Artinya, sebagian besar kenaikan permukaan laut pada kedua peristiwa El Nino tersebut berasal dari air daratan yang masuk ke laut.

Pada El Nino 2023-2024, kenaikan sterik juga lebih terkonsentrasi di Samudra Hindia. Peneliti mengaitkan kondisi itu dengan menghangatnya air laut serta terjadinya Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara bersamaan dengan El Nino.

Studi tersebut menunjukkan perbedaan besar antara dua El Nino juga terlihat di Afrika dan Amerika Utara.

Afrika mengalami kehilangan air daratan yang besar pada 2014-2016, tetapi tidak pada 2023-2024.

Sementara Amerika Utara bergeser dari kontribusi baristatik positif kecil pada peristiwa pertama menjadi kontribusi negatif kuat pada peristiwa kedua.

Peneliti menyebut curah hujan menjadi faktor utama yang memengaruhi perubahan penyimpanan air di daratan. Pada 2023-2024, Amerika Selatan mengalami defisit hujan yang tajam.

Kondisi tersebut mempercepat aliran permukaan dari daratan ke laut dan meningkatkan perpindahan massa air ke samudra.

Lebih lanjut, El Nino telah terbentuk di Pasifik tropis pada 2026 dan diprediksi menguat. NOAA memperkirakan peluang sebesar 81 persen bahwa El Nino akan mencapai kategori sangat kuat pada Oktober-Desember 2026.

Kategori tersebut berarti anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 berada di atas 2 derajat Celsius. Jika kondisi itu terjadi, kenaikan permukaan laut global berpotensi berlangsung lebih cepat.

Suhu global yang sudah tinggi sejak awal tahun juga dapat meningkat lebih jauh pada akhir 2026. Kondisi ini dinilai berpeluang berkontribusi terhadap rekor baru suhu global.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

14 Kemantren, Petugas Kebersihan, Sanggar Luar Daerah Meriahkan WJNC 2026

8 October 2026 - 11:44 WIB

Kisah Rui Pinto, Hacker yang Bocorkan Skandal Finansial Manchester City

7 October 2026 - 20:26 WIB

Pencarian Bergeser ke AI, Ini 6 Pakar AI Visibility-GEO yang Perlu Dikenal

7 October 2026 - 20:20 WIB

Prancis Muncul di Tengah Pertarungan Sengit Amerika dan China

7 October 2026 - 20:16 WIB

Bukan HP, Nokia Punya Sumber Duit Baru yang Laku Keras (Foto: REUTERS/Yves Herman)

7 October 2026 - 20:12 WIB

Trending on Kabar Lifestyle