Jakarta – Iran secara mengejutkan dilaporkan menembakkan rudal ke pangkalan militer gabungan Inggris-Amerika Serikat, Diego Garcia, di Samudra Hindia. Meski gagal, serangan tersebut mengindikasikan rudal Iran cukup canggih untuk melakukan serangan jarak jauh melampaui dari apa yang diketahui sebelumnya.
“Serangan sembrono Iran, yang menyerang ke seluruh kawasan dan menyandera Selat Hormuz, merupakan ancaman bagi kepentingan dan sekutu Inggris,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris, membenarkan serangan yang gagal tersebut.

Iran menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke pangkalan di Kepulauan Chagos, wilayah Inggris terpencil dan terletak lebih dari 3.218 kilometer dari Teheran, menurut kantor berita semiresmi Iran, Mehr. Tidak ada rudal mengenai pangkalan tersebut, meski baik Iran maupun Inggris tidak merinci seberapa dekat rudal dengan Diego Garcia.
Jarak serangan mengindikasikan Iran punya kemampuan serangan jarak jauh yang sebelumnya mereka bantah. Jarak pangkalan dari Iran setara jarak ke sebagian besar Eropa Tengah. Namun, masih belum jelas apakah rudal-rudal tersebut membawa hulu ledak atau seberapa jauh sebenarnya daya jangkaunya, mengingat tidak ada yang mencapai target.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya sengaja menjaga jangkauan rudalnya di bawah 2.000 kilometer karena tidak ingin dianggap sebagai ancaman.
Wall Street Journal, mengutip sejumlah pejabat, melaporkan salah satu rudal ditembak jatuh kapal perang AS dan yang lainnya gagal saat masih terbang. Mehr menyebut penargetan pangkalan tersebut merupakan langkah signifikan yang menunjukkan jangkauan rudal Iran melampaui apa yang dibayangkan musuh.
Tom Karako, direktur proyek pertahanan rudal di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menyebut Iran sudah lama menguji rudal padat berukuran besar. “Jadi hal ini sama sekali tidak mengejutkan,” cetusnya.
Sebelumnya ada spekulasi Iran mungkin mampu melakukan serangan di luar batas 2.000 kilometer yang diklaimnya. “Mereka hanya belum menunjukkan kemampuan asli mereka. Serangan terhadap Diego Garcia tampaknya jadi momen pembuktian tersebut,” ungkapnya.
Serangan terjadi sesaat sebelum Inggris mengumumkan akan mengizinkan AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalannya, termasuk Diego Garcia, untuk menyerang target-target di dekat Selat Hormuz.
Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan Starmer membahayakan nyawa warga Inggris dengan mengizinkan penggunaan pangkalan-pangkalan tersebut. “Sebagian besar rakyat Inggris dak ingin ikut campur dalam perang pilihan Israel-AS terhadap Iran. Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri,” sebutnya.
Dikutip detikINET dari NBC, Pangkalan Diego Garcia berjarak sekitar 3.798 kilometer dari Iran dan merupakan rumah bagi pangkalan udara yang mampu mengakomodasi pesawat pengebom jarak jauh AS.
Kepulauan Chagos, tempat pangkalan itu berada, jadi perselisihan terpisah antara Inggris dan pemerintahan Trump, setelah Inggris setuju menyerahkan kedaulatan wilayah tersebut pada Mauritius dan menyewa kembali pangkalan tersebut. Trump mendesak Starmer tak memberikan Diego Garcia pada bulan Februari, meski Washington memberikan dukungan resminya hanya beberapa hari sebelumnya.
Dalam perkembangan terbaru, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran tidak bertanggung jawab dan tidak berada di balik serangan rudal terhadap pangkalan militer Diego Garcia.
Sumber: detik.com













