SEBUAH sekolah di Dubai menerapkan sebuah kebijakan tak biasa dalam dunia pendidikan. Selama ini kita mengenal adanya pekerjaan rumah atau PR sebagai tugas harian pada anak-anak.
Namun, sekolah bernama Rising School menerapkan aturan baru yaitu sekolah tanpa PR.
Dikutip dari laman Gulf News, Selasa (10/4/2018), rupanya ada alasan mendasar mengapa sekolah ini menerapkan sistem tersebut.
Pihak Rising School mengatakan, alasan utama penerapan sistem ini mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Stanford University yang menyebut bahwa PRhanya akan memberi dampak buruk bagi anak.
Mereka mempercayai jika siswa diberikan PR terlalu banyak, maka akan menimbulkan stress bagi anak-anak. Jika hal ini sudah terjadi, efeknya akan merambat ke kondisi tubuh seseorang.
Selain itu, pihaknya mengatakan bahwa tidak semua orangtua punya kemampuan cukup untuk membantu anak-anaknya.
“Ada sejumlah alasan yang sangat valid bagi kami untuk tidak memberikan pekerjaan rumah pada anak. Salah satu efek yang dirasakan yaitu anak-anak akan merasa terbebani. Sementara itu, bagi anak-anak yang cerdas dan berprestasi akan menganggap jika PR itu akan monoton dan tak merangsang otaknya,” ujar Michael Bartlett, kepala sekolah Rising School.
Bartlett mengatakan bahwa pihaknya lebih menekankan pada pendidikan pengembangan hobi dan minat anak. Anak-anak yang sudah selesai belajar di sekolah akan diberikan waktu yang cukup bersama kedua orangtua mereka.
“Dengan menghabiskan waktu bersama orangtua, anak-anak akan bisa membahas sebuah buku yang bermanfaat bagi tumbuh kembang. Sehingga kreatifitas anak-anak akan semakin terasah,” ujar Bartlett.
**
Sumber : Gulf News
Foto : liputan6














