Menu ✖

Dark Mode
Pidato di PBB, Netanyahu Bawa Starlink Sambil Sindir Iran Mau Bikin Data Center di Luar Angkasa, Google Uji Chip AI di Orbit Komdigi Dorong Transfer AI – Cloud dalam Investasi Microsoft di RI ‘Nostradamus’ China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi Lagi Bumi Makin Panas, 12 Triliun Ton Es Meleleh dalam 47 Tahun NASA Pamer ‘Hantu’ 5 Bintang Meledak dalam Satu Foto

Headline

Premium Bakal Dihapus, Ini Alasannya

badge-check


					SPBU Pertamina (foto: tempo.co) Perbesar

SPBU Pertamina (foto: tempo.co)

Pemerintah meminta Pertamina mengurangi jumlah produk BBM yang dikeluarkan perusahaan. Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI pada Kamis (25/6) mengakui adanya rencana menghapus BBM jenis Premium.
Manager Customer & Technical Service Pertamina, Remigius Choerniadi Tomi, membeberkan bahwa BBM jenis Premium kurang ramah lingkungan.
“Premium secara ilmiah jika kita gunakan terus menerus akan lebih banyak menghasilkan kerugian, dasar ilmiahnya adalah pertama Premium hanya bisa digunakan untuk mesin bensin dengan compression ratio yang rendah,” kata Choerniadi saat diskusi secara virtual, Sabtu (27/6).
Choerniadi mengatakan bahwa untuk menghasilkan tenaga mesin mobil yang tinggi, bahan bakar harus ekonomis sehingga berdampak pada emisi yang semakin rendah. Untuk itu, ia merasa Premium sudah tidak tepat lagi digunakan karena pada umumnya pabrikan mobil sudah menggunakan compression ratio yang tinggi.
“Lalu bagaimana jika Premium dipaksakan digunakan untuk mesin mobil modern yang mempunyai compression ratio yang tinggi? Maka gejala yang kita rasakan adalah detonasi. Detonasi adalah dua tumbukan di dalam ruang bakar sehingga menyebabkan penurunan power pada mesin mobil,” ujar Choerniadi.
“Akibatnya yang lain adalah emisinya semakin tinggi polusinya, dalam jangka panjang sistem mobil akan mengalami kerusakan dan yang jelas penumpang merasa tidak nyaman,” tambahnya.
Selain itu, Premium yang memiliki research octane number (RON) 88 hanya cocok untuk compression ratio 7,5. Menurut Choerniadi mobil dengan compression ratio lebih tinggi seperti 8 sampai 11 itu sudah harus menggunakan bensin RON 92 sampai 96.SP memenuhi standar emisi gas buang euro 4 sampai euro 6. Hal itu, kata Choerniadi, paling banyak diadopsi di seluruh dunia untuk mengelola emisi gas buang.
“Euro 1 adalah yang paling polutif, makin besar euronya maka emisi gas buangnya semakin bersahabat dengan lingkungan, karbon yang diemisikan makin rendah. Celakanya Premium ini hanya cocok digunakan untuk mesin bensin dengan teknologi mesin bensin euro 1,” ungkap Choerniadi.
Choerniadi menggambarkan besarnya polusi udara yang diemisikan jika beralih dari mesin bensin standar euro 1 ke euro 2 maka akan menurunkan emisi mencapai 83 persen. Apabila dari BBM euro 1 ke euro 3 gas buangnya bisa turun mencapai 87,5 persen.
“Yang terakhir jika mesin bensin kita saat ini sudah euro 4 maka emisi gas buang mobil kita itu jika dibanding euro 1 maka penurunannya capai 93,5 persen. Dunia berharap, dunia bermimpi nanti penurunan emisinya mencapai 100 persen. Nah itu bisa dicapai dengan electrical vehicle,” tutur Choerniadi.
sumber kumparan
foto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Website PWI Terkonsolidasi di 38 PWI Daerah, Serentak Dilaunching 1 Oktober 2026

22 September 2026 - 21:47 WIB

BNN DAN AFP SEPAKAT PERKUAT KEMITRAAN LAWAN ANCAMAN NARKOTIKA LINTAS NEGARA

22 September 2026 - 21:34 WIB

Pemerintah Tetapkan 18 Hari Libur Nasional dan 8 Hari Cuti Bersama Tahun 2027

15 September 2026 - 20:36 WIB

Abu Vulkanik Menyebar, Kalbe Consumer Health dan PWI Kota Bogor Bagikan Masker 

9 September 2026 - 18:42 WIB

Galuga Kebakaran, Pemkot Bogor Gercep Padamkan

8 September 2026 - 21:24 WIB

Trending on Headline