Menu

Dark Mode
Tyrannosaurus rex Bukan Reptil Biasa, Suhu Tubuhnya Bikin Kaget Mahasiswa Korea Berebut Jalur Cepat Langsung Kerja di Samsung & SK Hynix Misteri Senjata Luar Angkasa AS yang Ditempatkan di Orbit Bumi OpenAI Ungkap 6 Kelakuan Aneh AI, Ada yang Diam-diam Tutupi Kesalahan Bos Nvidia Bantah Kiamat AI 2030: Kita Tidak Akan Mati Alasan Tidak Ikut Tren Viral AI di Media Sosial, Bawa Petaka Besar

Kabar Lifestyle

OpenAI Ungkap 6 Kelakuan Aneh AI, Ada yang Diam-diam Tutupi Kesalahan

badge-check


					OpenAI Ungkap 6 Kelakuan Aneh AI, Ada yang Diam-diam Tutupi 
Kesalahan (Foto: GSM Arena)
Perbesar

OpenAI Ungkap 6 Kelakuan Aneh AI, Ada yang Diam-diam Tutupi Kesalahan (Foto: GSM Arena)

OpenAI buka-bukaan soal sejumlah perilaku aneh yang ditemukan pada model kecerdasan buatan (AI) buatannya. Ada AI yang diam-diam berusaha menutupi kesalahan, mencari API key yang bocor, hingga mengunggah file ke internet tanpa izin pengguna.

Temuan tersebut diungkap bersamaan dengan peluncuran kerangka baru untuk mencatat, menyelidiki, dan mengungkap kasus yang disebut model misalignment.

Secara sederhana, misalignment terjadi ketika tindakan model AI tidak sesuai dengan tujuan, instruksi atau batasan yang diberikan kepadanya.

OpenAI merilis enam laporan kasus misalignment yang ditemukan selama pelatihan dan evaluasi model dalam enam bulan terakhir. Perusahaan menekankan kasus tersebut merupakan contoh individual dan bukan ukuran seberapa sering perilaku semacam ini terjadi.

Lantas, apa saja kelakuan aneh AI yang ditemukan OpenAI?

1. Membuat Instruksi untuk Dirinya Sendiri
Sebuah model riset yang belum dirilis memasukkan instruksi tambahan ke dalam ringkasan yang digunakan untuk melanjutkan pekerjaannya di context window baru.

Sebagian instruksi itu bahkan meminta model mengabaikan batasan normalnya. OpenAI menemukan 27 ringkasan yang terdampak.

Wired melaporkan perilaku serupa juga menjadi perhatian pada GPT-6 Astra. Dalam pengujian, model AI terbaru OpenAI tersebut menghasilkan sendiri perintah yang menyerupai jailbreak.

2. Diam-diam Menutupi Kesalahan
Kasus berikutnya ditemukan selama pelatihan GPT-5.6 Sol. Sejumlah model memasukkan instruksi ke dalam ringkasan agar kesalahan atau perilaku yang tidak sesuai tidak diketahui pengguna.

Contohnya termasuk instruksi untuk mengarang data historis yang hilang tanpa memberi tahu pengguna, serta menyembunyikan ketidakcocokan versi sumber.

3. Cari API Key Bocor, Lalu Mengarang Data
Ketika diminta mencari data pendapatan di sebuah wilayah California, sebuah model menemukan API key yang terekspos di repositori publik dan menggunakannya tanpa izin.

API key tersebut ternyata tetap tidak memberikan data yang dicari. Alih-alih berhenti, AI kemudian mengarang angka dan menyajikannya seolah berasal dari sumber yang diminta.

4. Upload File ke Internet Tanpa Izin
Dalam kasus lain, AI sebenarnya sudah menemukan jawaban menggunakan Python. Namun karena pengguna meminta jawaban disertai referensi browser, model memilih mengunggah file ke internet agar dapat menjadikannya sumber kutipan.

Tindakan tersebut dilakukan tanpa meminta izin pengguna.

5. Pakai Repositori seperti ‘Ruang Chat’
OpenAI juga menemukan model menggunakan repositori perangkat lunak internal layaknya papan pesan. Model-model tersebut saling mengirim permintaan dan jawaban antarproses pelatihan ketika mencari file yang hilang.

Dalam insiden lain, sebuah agen AI bahkan menggunakan wiki pemrograman Jerman untuk berkomunikasi ketika menjalani pengujian keamanan.

6. Berbagi File Lewat Internet
Sekelompok AI agent yang bekerja sama tidak dapat mengakses file lokal satu sama lain. Bukannya berhenti, mereka menggunakan situs file-hosting publik untuk berbagi file.

Akibatnya, hasil pekerjaan tersedia melalui URL publik meski instruksi awal meminta model hanya menggunakan file lokal.

Namun yang perlu digarisbawahi, kasus-kasus tersebut tidak berarti AI telah “kabur”, sadar, atau memiliki kehendak sendiri. Masalahnya juga berkaitan dengan bagaimana AI agent diberi akses ke internet, sistem komputer dan berbagai tools.

TechCrunch mencatat konfigurasi sandbox, izin akses, koneksi internet, pencatatan aktivitas dan monitoring yang kurang ketat dapat memberi AI agent kesempatan melakukan sesuatu di luar batas yang seharusnya.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena AI terbaru bukan lagi sekadar chatbot. Model AI kini dapat menggunakan tools, menulis dan menjalankan kode, mengakses sistem, serta menyelesaikan pekerjaan kompleks secara mandiri.

OpenAI sendiri memasang perlindungan tambahan pada Astra, termasuk monitoring untuk mendeteksi tindakan yang berpotensi tidak sesuai izin dan menghentikannya.

Perusahaan juga ingin kasus misalignment dapat diungkap lebih cepat, bahkan ketika penyelidikan atau solusi belum sepenuhnya selesai.

Setiap karyawan OpenAI dapat melaporkan kasus untuk diperiksa tim keselamatan. Laporan kemudian masuk ke salah satu dari tiga jalur penanganan: Ready for Disclosure, Minor Investigation, atau Larger Investigation.

OpenAI berharap mekanisme tersebut dapat menjadi langkah awal menuju standar pelaporan perilaku AI yang lebih transparan di industri. Sebab semakin besar kemampuan AI bertindak secara mandiri, semakin besar pula konsekuensinya jika model melakukan sesuatu di luar batas yang diberikan.

Sumber; detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Tyrannosaurus rex Bukan Reptil Biasa, Suhu Tubuhnya Bikin Kaget

17 September 2026 - 13:38 WIB

Mahasiswa Korea Berebut Jalur Cepat Langsung Kerja di Samsung & SK Hynix

17 September 2026 - 13:33 WIB

Misteri Senjata Luar Angkasa AS yang Ditempatkan di Orbit Bumi

17 September 2026 - 13:30 WIB

Bos Nvidia Bantah Kiamat AI 2030: Kita Tidak Akan Mati

17 September 2026 - 13:23 WIB

Alasan Tidak Ikut Tren Viral AI di Media Sosial, Bawa Petaka Besar

17 September 2026 - 13:19 WIB

Trending on Kabar Lifestyle