Menu ✖

Dark Mode
Tergerus AI, Deret Jurusan Ini Dihapus dari Kampus-kampus China Astronom Temukan Bukti Matahari Pernah Makan Planet di Awal Tata Surya Manta Impact Bond Disiapkan untuk Lindungi Pari Manta Raja Ampat Pemuda Ajaib Alexandr Wang Lesatkan Nilai Meta Rp 4.191 Triliun Komdigi Ultimatum 7 PSE, Rosalia Indah hingga Sriwijaya Air Terancam Diblokir Potensi Asap Karhutla Kalimantan Sampai Pulau Jawa, Bakal Berkabut?

Kabar Lifestyle

NASA Khawatir China Halangi Misi ke Kutub Selatan Bulan

badge-check


					Ilustrasi pemukiman di Bulan jika terwujud. (Foto: ICON/BIG Bjarke 
Ingels Group)
Perbesar

Ilustrasi pemukiman di Bulan jika terwujud. (Foto: ICON/BIG Bjarke Ingels Group)

Bulan lalu, China menunda peluncuran misi robotik ambisiusnya ke kutub selatan Bulan, Chang’e 7, hingga awal tahun depan. Mereka tidak memberikan penjelasan rinci mengenai penundaan jadwal tersebut, tetapi hal itu disambut baik oleh Administrator NASA, Jared Isaacman.

“Mereka menargetkan lokasi yang sama persis di kutub selatan Bulan,” kata Isaacman dalam konferensi Off World di Houston, Texas, Amerika Serikat (AS), pada Kamis (24/9), dikutip dari Ars Technica.

“Kita mungkin telah terhindar dari bencana dengan misi Chang’e 7 beberapa minggu yang lalu karena misi itu seharusnya menuju kawah Shackleton,” imbuhnya.

Sebagian besar permukaan Bulan cukup tandus, tetapi kutub selatan, dan Kawah Shackleton khususnya, menawarkan beberapa lahan paling berharga di sana.

Hal itu karena tepian kawah yang tinggi menciptakan daerah yang selalu berada dalam bayangan yang dikenal sebagai ‘perangkap dingin’, yang dipercaya mengandung air dalam bentuk es, dan bahan-bahan bermanfaat lainnya yang telah terakumulasi selama miliaran tahun.

Dalam semua rencana NASA dan China untuk pemukiman jangka panjang di Bulan, area seluas beberapa kilometer persegi di kutub selatan Bulan adalah yang paling penting.

Di sanalah kedua negara percaya bahwa mereka dapat membangun kehadiran yang berkelanjutan yang akan membantu mereka mempelajari teknik untuk ekspansi lebih jauh ke Tata Surya.

Namun, Isaacman dan pejabat AS lainnya mulai menyatakan kekhawatiran bahwa mereka gagal menetapkan zona eksklusif tempat wahana robot dan misi berawak akan mendarat. Misi Chang’e 7 sendiri akan membawa mobilitas yang cukup besar ke Bulan.

“Rencana ini mengerahkan robot penjelajah, drone pendarat seperti yang sedang kami kembangkan saat ini. Tetapi belum ada delapan bulan lalu, ada potensi (China) menghalangi akses ke beberapa tempat paling menarik,” kata Isaacman.

“Mereka ingin berinteraksi dengan es air, dan mereka ingin benar-benar menguasai keterampilan untuk ke mana mereka ingin pergi selanjutnya untuk momen seperti Neil Armstrong. Hanya saja, itu tidak akan terjadi di Bulan, melainkan di Mars,” jelasnya.

Belum ada negara yang berhasil mendaratkan wahana antariksa dengan mulus di kutub Bulan, yang lebih sulit dijangkau daripada wilayah khatulistiwa Bulan. Penundaan Chang’e 7 membuka kemungkinan bahwa NASA dapat mencapai wilayah ini terlebih dahulu, dengan peluncuran awal wahana Blue Moon Mark 1 milik Blue Origin. Wahana pendarat besar ini akan membawa dua wahana NASA ke kutub selatan, mungkin paling cepat pada musim semi 2027.

Komentar Isaacman muncul di tengah perdebatan tentang apakah benar-benar penting jika NASA kembali ke Bulan dengan membawa manusia sebelum China mendarat di sana.

China telah menetapkan target untuk mendaratkan astronaut pertamanya di Bulan pada atau sebelum 2030 dan sedang membuat kemajuan yang signifikan dalam mengembangkan pesawat ruang angkasa berawak, roket, dan wahana pendarat untuk mencapai tujuan ini.

Apakah penting jika China mencapai Bulan sebelum NASA kembali? Lagipula, China hanya akan mengulangi apa yang dilakukan AS pada 1969 dengan misi Apollo. Menurut Isaacman, hal itu penting.

“(Momen) itu akan mempertanyakan setiap negara lain di seluruh dunia,” kata Isaacman tentang pendaratan China di Bulan.

Ia memberikan contoh, pencapaian ini akan memiliki efek domino ke segala hal. Misalnya, jaminan keamanan dunia siapa yang harus saya percayai? Haruskah saya mempercayai AS dan NATO? Haruskah saya mempercayai China jika mereka adalah kekuatan super teknologi yang sedang muncul di sini? Teknologi siapa yang harus dibeli? Perangkat keras militer siapa yang harus dibeli? Standar siapa yang harus dipatuhi? Siapa yang patut didengarkan terkait AI? Semua itu, kata Isaacman, ada dalam pertimbangan negara-negara secara global.

“Ini seharusnya tidak pernah menjadi perlombaan,” kata Isaacman, seraya mencatat kegagalan kebijakan luar angkasa AS yang dimulai sejak pemerintahan Ronald Reagan.

Ia memperkirakan bahwa NASA telah menghabiskan USD 100 miliar di berbagai pemerintahan, baik Demokrat maupun Republik, yang tidak menghasilkan apa pun. Sementara itu, China baru saja melakukan penerbangan luar angkasa berawak pertamanya pada 2003 dan sejak itu telah memperluas kemampuannya hingga mencapai titik yang kini menyaingi AS di bidang luar angkasa.

“Jika Anda gagal menentukan siapa yang turun tangga lebih dulu, dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia,” kata Isaacman.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Tergerus AI, Deret Jurusan Ini Dihapus dari Kampus-kampus China

28 September 2026 - 13:29 WIB

Astronom Temukan Bukti Matahari Pernah Makan Planet di Awal Tata Surya

28 September 2026 - 13:25 WIB

Manta Impact Bond Disiapkan untuk Lindungi Pari Manta Raja Ampat

28 September 2026 - 12:54 WIB

Pemuda Ajaib Alexandr Wang Lesatkan Nilai Meta Rp 4.191 Triliun

28 September 2026 - 12:48 WIB

Komdigi Ultimatum 7 PSE, Rosalia Indah hingga Sriwijaya Air Terancam Diblokir

28 September 2026 - 12:42 WIB

Trending on Kabar Lifestyle