Menu ✖

Dark Mode
Target 100 Emas, KONI Minta Pelatih Ketat Awasi Fisik dan Nutrisi Atlet Mitos Kebumian Bakal Hadir Lewat Sastra Penulis Muda Pada Pesta Cerita Tutur Tumurun 2026 Menaker Ungkap Poin Penting UU Pelindungan Ketenagakerjaan yang Wajib Diketahui Pekerja 14 Kemantren, Petugas Kebersihan, Sanggar Luar Daerah Meriahkan WJNC 2026 Rakor Pemprov Jabar Bahas Layanan Kesehatan hingga Rencana BRT Pemkot Bogor Tekankan Pentingnya Standar Higiene bagi Pengelola Depot Air Minum

Kabar Wisata

Mitos Kebumian Bakal Hadir Lewat Sastra Penulis Muda Pada Pesta Cerita Tutur Tumurun 2026

badge-check


					Mitos Kebumian Bakal Hadir Lewat Sastra Penulis Muda Pada Pesta Cerita Tutur Tumurun 2026 Perbesar

Jogjakarta– Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar puncak perayaan sastra bertajuk Pesta Cerita di kompleks TBY Jumat (9/10/2026) besok, mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.

Agenda ini menjadi muara dari seluruh rangkaian penulisan dan penjelajahan kreatif Program Tutur Tumurun 2026.

Pesta Cerita sekaligus menjadi ajang penganugerahan bagi peserta sayembara yang telah berproses sejak Juli 2026. Setelah melalui lokakarya bersama Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlina Tiens, sebanyak 75 naskah karya penulis muda DIY berusia 17 – 35 tahun disaring oleh dewan juri yang terdiri dari Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana. Dari penilaian tersebut, terpilih 10 karya nomine hingga ditetapkan 5 karya terbaik.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, mengatakan bahwa acara tersebut merupakan puncak dari Kegiatan Selebrasi Sastra Seni Budaya Tahun Anggaran 2026 yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus Nonfisik-BOP Museum dan Taman Budaya.

“Tradisi lisan bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan wahana penting bagi perekaman memori kolektif suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan pengetahuan dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kita. Program Tutur Tumurun hadir sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin yang memadukan sains kebumian dengan khazanah kearifan lokal DIY lewat sudut pandang geomitologi,” ujar Purwiati.

Direktur Program Tutur Tumurun, Latief S. Nugraha, menjelaskan bahwa kekayaan bentang alam Yogyakarta berkelindan erat dengan warisan budaya serta situs kebumian yang menjadi fondasi filosofis Nagari Ngayogyakarta.

“Geomitologi mengkaji bagaimana budaya masa lalu mencatat lanskap dan fitur geologi. Di balik mitos fenomena alam, tersimpan pengetahuan serta alat komunikasi masyarakat lampau. Sastra dalam konteks ini hadir sebagai sains yang dituturkan dengan bahasa yang lain,” tutur Latief.

Sementara itu, perwakilan dewan juri, Hasta Indriyana, mengatakan bahwa membaca puluhan naskah sayembara memberi pengalaman menyusuri peta mitologis Yogyakarta.

“Tempat-tempat yang selama ini kita hafal dalam rute geografis seperti mendapatkan jiwa melalui cerita di balik batu, gunung, jalanan, tanah, air, dan roh-roh yang bertutur. Beberapa naskah menunjukkan kecakapan tak hanya dalam bercerita, tetapi juga menafsir tema ke pokok persoalan yang lebih beragam seperti identitas, kesenian, sejarah, gender, hingga kekerasan,” ujar Hasta.

Hasta pun mencontohkan beragam folklor lokal yang diangkat peserta dari lima kabupaten/kota di DIY, seperti larangan memandikan ternak di hilir Sungai Gajahwong daerah Imogiri Timur, mitos larangan mengeksploitasi tambang di sekitar Waduk Sermo Kulon Progo, folklor Merapi seperti Kyai Petruk, hingga mitos goa di Gunungkidul.

Namun, ia menekankan bahwa kekuatan karya yang keluar sebagai pemenang terletak pada kepiawaian meracik folklor menjadi narasi sastra yang relevan dengan kondisi masa kini.

“Pemenang nomor satu, bahasanya sederhana dan mengalir. Dia berani menginovasi cerita rakyat berdasarkan konteks zaman sekarang, misalnya dikaitkan dengan eksploitasi tambang atau pariwisata. Cerita rakyat itu tidak ditulis sebagai tempelan, tetapi dihidupkan untuk membuat cerita pendek yang memiliki makna baru,” jelas Hasta.

Selain itu, Hasta menyoroti pentingnya pendokumentasian geomitologi dan folklor di DIY yang dinilainya belum terhimpun dalam direktori khusus.

“Database pendokumentasian folklor di DIY sepertinya belum ada yang dijadikan satu khusus. Barangkali nanti perlu disusun direktori sendiri di DIY ini,” tandas Hasta.

Pada malam puncak besok, TBY akan menyerahkan penghargaan kepada Juara 1 – 3 serta Juara Harapan 1 – 2, sekaligus meluncurkan buku antologi Tutur Tumurun Jilid II yang berisi 5 karya pemenang dan 15 cerpen pilihan juri.

Acara ini juga akan disemarakkan oleh pertunjukan lintas disiplin, menghadirkan Komunitas Suling Bambu Nusantara di Selasar Gedung Societet, pementasan AFC Sastra, dramatisasi cerpen pemenang oleh Teater JAB x Jenar Kidjing, tari eksploratif dari Sanggar Seni Kinanti Sekar, serta penampilan musik dari Rabu dan Buktu. K-ollf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kontingen Brebes Meriahkan Pawai Budaya Nuswantoro WJNC 2026

7 October 2026 - 19:40 WIB

8 Tempat Wisata di Negara Paling Damai di Dunia, Cocok Buat Healing!

23 September 2025 - 11:30 WIB

Cuti Bersama 18 Agustus 2025, Ini Daftar Lokasi Wisata Gratis di Jakarta

12 August 2025 - 20:19 WIB

Baru 2 Tahun Diakui UNESCO, Begini Kondisi Geopark Merangin

12 August 2025 - 16:13 WIB

Agustusan, Hiu Paus Gorontalo Jadi Ikon Wisata Baru

6 August 2025 - 10:56 WIB

Trending on Kabar Wisata