Menu

Dark Mode
Munir Resmi Nahkodai PWI Pusat 5 Tahun ke Depan Mobil dan Rumah Ahmad Sahroni Dirusak Kemunculan ‘Kelinci Zombie’ Kagetkan Warga AS, Punya Tanduk dan Tentakel Microsoft: Bukan PHK, Ini yang Harus Ditakutkan dari AI Fakta-fakta Infeksi Bakteri Pemakan Daging di AS dari ‘Cacing Sekrup’ Apple Developer Academy Dibuka di Bali, Diikuti 100 Siswa Lokal hingga Internasional

Kabar Lifestyle

Microsoft: Bukan PHK, Ini yang Harus Ditakutkan dari AI

badge-check


					Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Foto: (WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN) Perbesar

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Foto: (WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN)

Kekhawatiran akan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) yang akan menggantikan manusia hingga menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK), masih mengemuka hingga kini. 

Meski demikian, CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman punya pandangan lain. Suleyman menepis anggapan bahwa AI membuat PHK meluas. 

Menurut bos AI Microsoft ini, justru ada kekhawatiran lain yang patut menjadi perhatian, yaitu tentang ketidakmampuan orang dalam beradaptasi dengan transformasi yang dibawa AI. 

“Kekhawatiran utama saya adalah, banyak orang tidak akan mampu beradaptasi cukup cepat dengan perubahan yang dibawa AI,” ujar Suleyman dalam sebuah wawancara dengan Business Insider baru-baru ini. 

Lebih lanjut dia menyatakan bahwa disrupsi AI mungkin tidak menghilangkan pekerjaan manusia, tetapi membentuk ulang teknis pekerjaan dengan cepat. Karena itu, Suleyman menilai para pekerja akan kesulitan mendapatkan keterampilan kerja lagi.

Contohnya saja, layanan pelanggan hingga aktivitas pemrograman (coding) yang sudah bisa ditangani oleh AI, sehingga mengubah sifat pekerjaan. Bos AI Microsoft ini menegaskan bahwa mereka yang tidak punya akses ke pelatihan atau pendidikan, mungkin tertinggal. 

Karena itu, Suleyman menyerukan pemerintah, perusahaan hingga pendidik untuk berkolaborasi membuat tindakan preventif. Misalnya dengan memprioritaskan program pelatihan keterampilan, literasi digital, hingga akses inklusif ke perangkat AI. 

Dengan begitu, dia berharap masyarakat dapat berkembang dalam ekonomi yang didukung AI, bukan hanya bertahan hidup di tengah tren kecerdasan buatan. 

Dalam kesempatan yang sama, Suleyman juga melontarkan kekhawatirannya tentang fenomena psikologis yang ia sebut “AI psychosis”. Istilah ini mengacu pada kondisi di mana seseorang mulai kehilangan kontak dengan dunia nyata, saking terlalu asyik dengan sistem AI. 

Dia bilang bahwa fenomena ini merupakan risiko nyata dan sedang berkembang, terutama bagi mereka yang interaksinya samar antara AI dengan dunia nyata. 

Untuk mengurangi risiko ini, Suleyman merekomdasikan sejumlah langkah konkret yang bisa dilakukan industri. 

Pertama, memberikan pernyataan yang jelas tentang keterbatasan AI. Kedua, memonitor tanda pola penggunaan yang tidak sehat. 

Terakhir, berkolaborasi dengan profesional bidang kesehatan mental untuk mempelajari hingga memitigasi risikonya, dihimpun KompasTekno dari Times of India, Jumat (29/8/2025).

40 pekerjaan yang paling rentan digantikan AI 

Sementara itu, untuk melihat dampak AI secara kuantitatif, Microsoft merilis data terkait pekerjaan yang paling rentan digantikan AI. Dalam laporan itu, dikatakan bahwa ada sejumlah profesi yang paling rentan tergantikan oleh teknologi AI.

Laporan ini menganalisis sekitar 100.000 percakapan pengguna dengan Bing Copilot, chatbot berbasis AI milik Microsoft. Data yang diambil berasal dari periode Januari hingga September 2024.

Data yang digunakan diambil dari pengguna di Amerika Serikat dan disesuaikan dengan data pekerjaan dari O*NET dan BLS (Bureau of Labor Statistics). Microsoft mengeklaim data tersebut bersifat anonim dan tidak disimpan atau langsung dihapus. 

Dari data ini, Microsoft mengidentifikasi aktivitas kerja yang paling sering dibantu AI serta potensi keberhasilannya dalam menyelesaikan tugas pengguna. Hasil analisis ini kemudian dikalkulasi ke dalam skor keterpaparan AI untuk tiap profesi. 

“Penelitian ini menunjukkan bahwa AI mendukung banyak tugas, khususnya dalam penelitian, penulisan, dan komunikasi, tapi tidak berarti AI mampu sepenuhnya menggantikan seluruh profesi,” kata Kiran Tomlinson, peneliti utama Microsoft Research, dikutip KompasTekno dari Fortune.

Daftar pekerjaan yang paling rentan digantikan AI 

Dari riset tersebut, diketahui bahwa profesi penerjemah dan juru bicara adalah yang paling terancam digantikan oleh AI. 

Kemudian profesi sejarawan, pramugari, sales layanan jasa, penulis, serta pengarang juga masuk dalam daftar ini.

Daftar ini disusun menggunakan skor AI applicability. Skor ini menunjukkan seberapa besar kemungkinan pekerjaan tersebut dapat dibantu atau digantikan AI.

Skor tersebut memiliki rentang 0-1. Semakin skornya mendekati angka 1, maka semakin tinggi potensi dampak dari AI terhadap profesi tersebut. 

Berikut adalah beberapa profesi yang disebut paling rentan terdampak AI:

  1. Penerjemah dan Juru Bahasa – 0,49 / 1.00 
  2. Sejarawan – 0,48 / 1.00 
  3. Pramugari – 0,47 / 1.00 
  4. Sales layanan jasa – 0,46 / 1.00 
  5. Penulis dan Pengarang – 0,45 / 1.00 
  6. Staf Layanan Pelanggan – 0,44 / 1.00 
  7. Programmer Mesin CNC – 0,44 / 1.00 
  8. Operator Telepon – 0,42 / 1.00 
  9. Agen Tiket dan Travel – 0,41/ 1.00 
  10. Penyiar Radio dan DJ – 0,41 / 1.00 
  11. Petugas Administrasi Pasar Modal (Brokerage Clerks) – 0,41 / 1.00 
  12. Pengajar Manajemen Pertanian dan Rumah Tangga – 0,41 / 1.00 
  13. Telemarketing – 0,40 / 1.00 
  14. Resepsionis Hotel – 0,40 / 1.00 
  15. Ilmuwan Politik – 0,39 / 1.00 
  16. Reporter dan Jurnalis – 0,39 / 1.00 
  17. Ahli Matematika – 0,39 / 1.00 
  18. Penulis Teknis – 0,38 / 1.00 
  19. Editor Naskah – 0,38 / 1.00 
  20. Pemandu Tamu (Host/Hostess) – 0,37 / 1.00 
  21. Editor – 0,37 / 1.00 
  22. Dosen Bisnis – 0,37 / 1.00 
  23. Humas – 0,36 / 1.00 
  24. Promotor Produk – 0,36 / 1.00 
  25. Sales Iklan – 0,36 / 1.00 
  26. Petugas Akun Baru – 0,36 / 1.00 
  27. Asisten Statistik – 0,36 / 1.00 
  28. Petugas Sewa & Konter – 0,36 / 1.00 
  29. Data Scientist – 0,36 / 1.00 
  30. Penasihat Keuangan – 0,35 / 1.00 
  31. Arsiparis – 0,35 / 1.00 
  32. Dosen Ekonomi – 0,35 / 1.00 
  33. Web Developer – 0,35 / 1.00 
  34. Analis Manajemen – 0,35 / 1.00 
  35. Ahli Geografi – 0,35 / 1.00 
  36. Model – 0,35 / 1.00 
  37. Analis Riset Pasar – 0,35 / 1.00 
  38. Operator Telekomunikasi Darurat – 0,35 / 1.00 
  39. Operator Switchboard (Petugas yang menyambungkan panggilan telepon lewat sistem telepon internal modern) – 0,35 / 1.00 
  40. Dosen Ilmu Perpustakaan – 0,34 / 1.00 

Temuan ini justru menunjukkan bahwa penggunaan teknologi AI generatif tidak lagi terbatas di sektor teknologi saja. 

Pengaruhnya telah merambah ke berbagai bidang publik yang sebelumnya dianggap aman dari disrupsi teknologi, seperti media, pendidikan, keuangan, pariwisata, hingga layanan pelanggan.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kemunculan ‘Kelinci Zombie’ Kagetkan Warga AS, Punya Tanduk dan Tentakel

30 August 2025 - 14:58 WIB

Fakta-fakta Infeksi Bakteri Pemakan Daging di AS dari ‘Cacing Sekrup’

30 August 2025 - 14:25 WIB

Roblox Kalahkan Steam, Jumlah Gamer yang Online Bersamaan Lebih Banyak

29 August 2025 - 13:31 WIB

AS Pecat Bos CDC Gegara Lawan Menkes Kennedy Jr yang Anti-Vaksin

28 August 2025 - 14:12 WIB

Bikin Tetangga Resah, Zuckerberg Bagi-bagi Headphone dan Donat

27 August 2025 - 14:52 WIB

Trending on Kabar Lifestyle