Menu

Dark Mode
Donald Trump Malah Mau Bikin Pasukan AI Padahal Ilmuwan Minta Setop SpaceX Target Starship Meluncur ke Orbit 28 September Donald Trump Mau Ubah Istilah AI, Siapkan Tiga Usulan Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Kecoak Hybrid’, Bisa Cari Korban Bencana Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Kabar Lifestyle

Krisis Talenta Keamanan Siber Mengintai Indonesia

badge-check


					Patrick Dannacher, Presiden Direktur PT ITSEC Asia. Foto: Dok. ITSEC Asia Perbesar

Patrick Dannacher, Presiden Direktur PT ITSEC Asia. Foto: Dok. ITSEC Asia

Lonjakan serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan talenta keamanan digital di Indonesia kian mendesak.

Namun di tengah percepatan transformasi digital, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) keamanan siber yang siap pakai masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kondisi inilah yang coba dijawab ITSEC Asia lewat Cybersecurity & AI Academy sepanjang 2025.

Dalam paparan kinerja tahunannya, ITSEC menegaskan bahwa tantangan keamanan siber saat ini tidak lagi semata soal teknologi. Serangan makin kompleks, terorganisir, dan adaptif, sementara banyak organisasi masih kekurangan SDM yang mampu mengoperasikan, mengelola, dan mengembangkan sistem pertahanan siber modern.

Presiden Direktur ITSEC Asia Tbk Patrick Dannacher menilai kesenjangan talenta menjadi salah satu risiko terbesar di era digital. Menurutnya, banyak institusi sudah berinvestasi pada perangkat dan solusi keamanan, tetapi belum diimbangi kesiapan manusia yang menjalankannya.

“Pasar tidak hanya membutuhkan alat yang lebih baik, tetapi juga SDM yang mampu mengoperasikannya. Academy kami merupakan komitmen jangka panjang bagi talenta keamanan siber dan AI di Indonesia,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima detikINET.

Sepanjang 2025, ITSEC Cybersecurity & AI Academy dikembangkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menjembatani kebutuhan industri dengan kesiapan tenaga kerja. Academy ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun pemahaman praktis terhadap ancaman nyata, termasuk pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber.

Pendekatan tersebut sejalan dengan perubahan lanskap ancaman global. AI kini tidak hanya digunakan untuk pertahanan, tetapi juga dimanfaatkan penyerang untuk mempercepat eksploitasi, menyamarkan aktivitas berbahaya, hingga mengotomatisasi serangan. Tanpa SDM yang memahami dinamika ini, teknologi secanggih apa pun berisiko tidak optimal.

ITSEC memosisikan Academy sebagai pelengkap dari portofolio solusi keamanannya. Dengan pendekatan end-to-end, perusahaan tidak hanya menyediakan layanan dan teknologi, tetapi juga menyiapkan talenta yang mampu mengimplementasikan dan mempertahankan sistem keamanan dalam jangka panjang. Model ini dinilai krusial, terutama bagi sektor publik, layanan keuangan, energi, hingga industri strategis lain yang semakin bergantung pada sistem digital.

Di sisi lain, pengembangan Academy juga mencerminkan kesiapan ITSEC sebagai perusahaan terbuka yang melihat penguatan SDM sebagai investasi berkelanjutan, bukan sekadar proyek jangka pendek. Kurikulum dirancang modular dan adaptif, sehingga dapat disesuaikan dengan mandat serta profil risiko masing-masing organisasi.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Donald Trump Malah Mau Bikin Pasukan AI Padahal Ilmuwan Minta Setop

21 September 2026 - 20:44 WIB

SpaceX Target Starship Meluncur ke Orbit 28 September

21 September 2026 - 20:38 WIB

Donald Trump Mau Ubah Istilah AI, Siapkan Tiga Usulan

21 September 2026 - 20:34 WIB

Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Kecoak Hybrid’, Bisa Cari Korban Bencana

21 September 2026 - 20:30 WIB

Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas

21 September 2026 - 20:26 WIB

Trending on Kabar Lifestyle