Menu

Dark Mode
Minggu Depan Ada Gerhana Bulan Parsial, Kelihatan dari Indonesia? AI Ambil Alih Produksi Video, Lalu Apa Peran Kreator Digital? China Kirim Misi ke Bulan untuk Berburu Es, Bukan Cuma Air Robot Humanoid China Kalahkan Rekor Lari 100m Milik Usain Bolt Bersaing dengan AS, China Justru Ajak RI Dukung Inisiatif AI Global TikTok Sepakat Bayar ‘Uang Damai’ Rp7 Triliun ke Pemerintah AS

Kabar Lifestyle

Kenapa Data Wajah Jauh Lebih Berbahaya Jika Bocor Dibanding Password?

badge-check


					Registrasi pelanggan berbasis biometrik pengenalan wajah (face 
recognition) untuk nomor seluler prabayar. (Foto: Telkomsel)
Perbesar

Registrasi pelanggan berbasis biometrik pengenalan wajah (face recognition) untuk nomor seluler prabayar. (Foto: Telkomsel)

Kewajiban registrasi SIM card prabayar menggunakan biometrik wajah mulai 1 Juli 2026 membuat perlindungan data pribadi kembali menjadi perhatian publik. Nah, di antara berbagai jenis data pribadi, data biometrik ini dinilai sebagai informasi yang memiliki tingkat sensitivitas paling tinggi.
Chairman CISSReC, Pratama Persadha, menjelaskan perbedaan mendasar antara data biometrik dan data pribadi lainnya terletak pada sifatnya yang permanen.

“Password bisa diganti. Nomor telepon bisa diganti. Alamat email juga bisa dibuat baru. Tetapi wajah, sidik jari, dan iris mata tidak bisa diganti sepanjang hidup seseorang,” yang dikutip dari detikINET.

Sebagai informasi, registrasi SIM card pakai data biometrik merupakan pengembangan dari pendaftaran nomor HP baru yang sebelumnya divalidasi menggunakan data nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK).

Lebih lanjut, Pratama menyoroti jika terjadi kebocoran data biometrik, maka memiliki konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih besar dibandingkan kebocoran password atau identitas digital lainnya.

Pratama menjelaskan operator seluler seharusnya tidak menyimpan foto wajah pelanggan dalam bentuk asli. Pendekatan yang lebih aman adalah mengubah hasil pemindaian menjadi template biometrik berupa representasi matematis yang hanya digunakan untuk proses pencocokan identitas.

“Apabila basis data mengalami kebocoran, pelaku tidak langsung memperoleh foto wajah asli pengguna,” ucapnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya penerapan prinsip data minimization, yakni hanya mengumpulkan data yang benar-benar diperlukan dan segera menghapus data yang tidak lagi dibutuhkan setelah proses autentikasi selesai.

Selain itu, seluruh proses pengiriman data wajah harus menggunakan enkripsi modern agar tidak mudah disadap selama proses transmisi.

Pratama menambahkan pemerintah dan operator seluler juga perlu memisahkan penyimpanan data kependudukan, data pelanggan, dan data biometrik agar satu insiden kebocoran tidak berdampak terhadap seluruh informasi pengguna.

Menurutnya, registrasi SIM berbasis biometrik memang dapat menjadi solusi efektif dalam mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital. Namun perlindungan terhadap data wajah harus menjadi prioritas utama karena biometrik merupakan aset digital permanen yang akan melekat pada setiap individu sepanjang hidupnya.

“Keamanan sistem tidak hanya diukur dari kemampuan mengenali wajah, tetapi juga dari kemampuan melindungi data wajah tersebut dari penyalahgunaan di masa depan,” pungkasnya.

Sumbre: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Minggu Depan Ada Gerhana Bulan Parsial, Kelihatan dari Indonesia?

23 August 2026 - 23:54 WIB

AI Ambil Alih Produksi Video, Lalu Apa Peran Kreator Digital?

23 August 2026 - 23:51 WIB

China Kirim Misi ke Bulan untuk Berburu Es, Bukan Cuma Air

23 August 2026 - 23:43 WIB

Robot Humanoid China Kalahkan Rekor Lari 100m Milik Usain Bolt

23 August 2026 - 23:35 WIB

Bersaing dengan AS, China Justru Ajak RI Dukung Inisiatif AI Global

23 August 2026 - 23:25 WIB

Trending on Kabar Lifestyle