Sleman– Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman pada Minggu 19 Oktober 2026. Sebanyak 47 lanjut usia (lansia) dari Padukuhan Murangan 7, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, tampak penuh haru saat menjalani prosesi wisuda setelah menempuh pendidikan agama selama dua tahun di Pesantren Lansia Taman Surga.

Penanggung jawab Pesantren Lansia Taman Surga, Muhammad Muslim, mengatakan bahwa
program yang berlangsung sejak Oktober 2024 hingga Oktober 2026 ini dirancang khusus untuk mendampingi para lansia dalam memantapkan ibadah di usia senja. Dimana, ada pertemuan rutin diadakan setiap hari Senin dan Kamis dari sore hingga menjelang malam.
“Alhamdulillah, setelah kurang lebih 2 tahun, kita sudah meluluskan 47 orang dengan pendidikan yang santai tapi serius. Setiap Senin dan Kamis dari asar sampai magrib, lalu ditutup dengan buka puasa sunah bersama,” ujar Muslim saat kepada media usai acara wisuda, Minggu 19 Oktober 2026.
Muslim mengungkapkan, capaian para santri lansia tersebut sangat membanggakan. Menurutnya, beberapa santri bahkan berhasil menuntaskan tadarus Al-Qur’an berkali-kali. Untuk mempercepat kemampuan membaca, pihak pesantren menerapkan metode As-Sahl yang memungkinkan santri mulai membaca Al-Qur’an dalam waktu tiga bulan.
“Capaian luar biasa menurut kami, mereka sudah bisa mengkhatam Al-Qur’an, bahkan beberapa orang 24 kali khatam. Untuk salatnya, ustaz-ustaz kami sudah memastikan bacaan dan gerakannya cukup baik,” katanya.
Bagi Muslim, masa tua merupakan “usia emas” yang sangat berharga untuk mempersiapkan diri menghadap Sang Pencipta. Hal inilah yang menjadi alasan utama pembentukan kurikulum berbasis lansia tersebut.
“Kami merasa bahwa lansia itu adalah usia emas dan ibaratnya surga sudah di depan mata. Maka kami fokus pada lansia supaya mereka berakhir khusnul khotimah,” tuturnya.
Ia menambahkan, kurikulum Pesantren Lansia Taman Surga bahkan mulai dilirik dan rencananya akan diadopsi oleh sejumlah daerah lain, seperti Solo, Balikpapan, hingga Jakarta.
“Sudah dilirik Solo, Jakarta, dan Balikpapan katanya ‘ayo kapan disini,” kata Muslim.
Baryadi (67), salah satu santri yang lulus, mengaku harus memulai segalanya dari nol karena masa mudanya dihabiskan untuk bekerja dan mengurus keluarga.
“Alhamdulillah, setelah wisuda ini rasanya sangat gembira dan puas. Dari nol, lama-lama akhirnya bisa mengikuti dan membaca Al-Qur’an. Mengenal huruf hijaiyah satu bulan, rangkaian dua bulan, tiga bulan bisa terbata-bata sampai lancar,” tutur Baryadi sembari menahan tangis harunya.
Senada, Mulati Prawarningsih (59). Baginya, hadirnya pesantren ini telah mengubah pola hidupnya menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, sekarang setiap habis salat subuh dan mau tidur kita berusaha untuk selalu mengawali dan menutup hari dengan membaca Al-Qur’an. Terima kasih kepada kru Ustaz Muslim yang telah memprakarsai ini semua,” ucap Mulati.
Mewakili Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Sleman, Wildan Solichin, menyebutkan bahwa para wisudawan merupakan jamaah di sekitar Masjid Al-Hidayah Padukuhan Murangan 7, dengan wisudawan tertua mencatatkan usia 82 tahun.
“Kami sangat berterima kasih kepada Ustaz Muslim dan jajaran pengurus yang sudah mendampingi warga Murangan 7. Mereka yang semula tidak bisa membaca Al-Qur’an dan salatnya belum sempurna, dibimbing hingga menjadi lancar. Ini hal yang luar biasa,” pungkas Wildan. K-ollv














