Harga mata uang kripto (cyptocurrency) populer Bitcoin (BTC) kembali turun di pekan kedua November.
Harga Bitcoin sempat menyentuh angka 104.000 dollar AS (sekitar Rp 1,73 miliar), namun turun ke angka terendah, yakni 98.757 dollar AS (sekitar Rp 1,65 miliar) pada 14 November 2025, dihimpun dari Yahoo Finance.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding minggu lalu. Pada 5 November, harga Bitcoin sempat menyentuh titik terendah di angka 98.962 dollar AS (sekitar Rp 1,65 miliar).
Situs pemantau harga Bitcoin lainnya, Bitcoin Magazine justru mencatat angka yang lebih rendah.
Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin tercatat menyentuh angka 97.983 dollar AS (Rp 1,63 miliar), turun dari level tertinggi 103.973 dollar AS (sekitar Rp 1,73 miliar). Penurunannya sekitar 2,56 persen.
Itu artinya, harga Bitcoin saat ini menjadi yang paling rendah dalam enam bulan terakhir. Awal Mei lalu menjadi pertama kalinya BTC diperdagangkan di bawah level 100.000 dollar AS.
Harga Bitcoin sempat naik di atas 100.000 dollar AS 40 hari kemudian, namun turun lagi ke angka 98.000 dollar AS bulan Juni.
Saat berita ini ditulis, harga Bitcoin perlahan mulai naik ke kisaran 99.000 dollar AS, meski belum menyentuh 100.000 dollar AS.
Penyebab harga Bitcoin anjlok
Menurut data Bitcoin Magazine Pro, salah satu faktor pemicu turunnya harga Bitcoin adalah para pemegang aset jangka panjang (long term holders) menjual Bitcoin mereka dalam jumlah besar.
Data dari CryptoQuant menunjukkan mereka menjual sekitar 815.000 Bitcoin dalam 30 hari, rekor tertinggi sejak awal 2024.
Di sisi lain, permintaan pembelian harian dan ETF/Exchange-Traded Fund (produk investasi yang diperdagangkan di bursa layaknya saham), sedang lesu.
Pembelian dari institusi besar juga turun hingga lebih rendah dari jumlah Bitcoin baru yang ditambang setiap hari. Hal ini membuat tekanan jual menguat.
Saat ini, harga Bitcoin berada di titik “365 day moving average”, yakni titik penting yang dihitung dari rata-rata harga Bitcoin selama 365 hari terakhir. Pada titik itu, harga rata-rata Bitcoin berada di angka 102.000 dollar AS.
Apabila harga gagal bertahan di level ini atau di atasnya, analis memprediksi akan ada penurunan yang lebih tajam.
Analisis Bitfinex memprediksi akan ada kenaikkan kecil dalam waktu dekat, namun untuk pemulihan besar dibutuhkan permintaan baru yang besar pula.
Analis JP Morgan mengatakan bahwa biaya produksi Bitcoin saat ini sekitar 94.000 dollar AS (sekitar Rp 1,5 miliar).
Harga ini biasanya akan menjadi batas bawah harga historis, yang artinya harga jarang turun jauh di bawah biaya produksi, sebagaimana mengutip dari Kompas.
Sumber: kompas.com














