Henry adalah gajah terbesar di dunia yang pernah tercatat. Dia memiliki tinggi 4 meter dan beratnya mencapai 11 ton. Angka ini sangat fantastis, apalagi jika dibandingkan dengan Tyrannosaurus Rex. T. Rex diperkirakan memiliki berat mencapai 5.000-7.000 kg.
Henry telah berada lebih dari enam dekade di Smithsonian’s National Museum of Natural History di Washington DC. Awal mulanya, ia ditemukan di sebuah savana Afrika yang terik.
Meskipun biasa dipanggil ‘Henry’ atau ‘Raksasa Angola’, julukan resmi gajah raksasa ini adalah Gajah Fénykövi. Ia dinamai berdasarkan nama Josef J. Fénykövi, seorang insinyur kelahiran Hungaria yang beralih menjadi pemburu hewan buruan besar yang pertama kali menemukan jejak gajah pada tahun 1954. Saat berburu badak di wilayah Sungai Cuíto yang terpencil di Angola tenggara, ia menemukan jejak kaki gajah Afrika (Loxodonta africana) yang luar biasa besar.

“Setelah mengeluarkan pita pengukur, saya menemukan panjangnya tepat 3 kaki (1 meter) — lebih dari satu kaki lebih besar dari trofi rekor dunia. Saat saya berdiri, sedikit rasa dingin menjalari tubuh saya. Saya tahu saya sedang melihat jejak kaki hewan terbesar yang mungkin hidup di permukaan bumi,” tulis Fénykövi pada tahun 1956 untuk sebuah artikel yang diterbitkan oleh Sports Illustrated.
Terobsesi dengan penemuan tersebut, Fénykövi kembali tahun berikutnya memimpin ekspedisi khusus yang melibatkan pelacak pribumi setempat. Pada tanggal 13 November 1955, setelah berhari-hari mencari, ia dan timnya akhirnya berhadapan dengan gajah yang hampir melegenda itu dan menembaknya hingga mati dengan lebih dari selusin peluru kaliber tinggi.
Namun, ketika sampai pada pengukuran jejak kaki yang pertama kali menarik perhatiannya, tampaknya Fénykövi telah melakukan kesalahan.
Pemeriksaan mengungkapkan bahwa sebuah peluru besi tua dari senapan flintlock laras depan bersarang di kaki depan kiri gajah, bersama dengan 16 peluru yang ditembakkan oleh tim Fénykövi. Luka sebelumnya telah merusak kaki hewan itu, menyebabkannya melangkah lebih pendek dan pincang. Ketika gajah berlari, kaki belakang kiri sering mendarat sebagian di atas jejak kaki depan, menciptakan ilusi jejak yang jauh lebih besar daripada yang sebenarnya.
Meskipun demikian, pengukuran yang tersisa membuktikan bahwa individu yang besar ini memang merupakan hewan darat terbesar yang pernah mati di tangan manusia.
“Di sana gajah yang sangat besar itu terbaring miring, di tengah-tengah pembantaian darah, pohon-pohon yang patah, dan semak-semak yang terinjak-injak yang menandai perjuangan terakhirnya. Ketika saya membiarkan mata saya menjelajahi hamparan tubuhnya yang luas, saya hampir tidak percaya bahwa ada hewan yang bisa sebesar itu, dan mengerti mengapa dibutuhkan begitu banyak peluru kaliber berat untuk menghabisinya,” ujar Fénykövi.
“Dan ketika saya mengeluarkan pita pengukur dan membentangkannya untuk menutupi dimensinya yang besar, saya tahu bahwa saya tidak salah: ini adalah hewan darat terbesar yang pernah ditembak jatuh dengan senjata,” lanjutnya.
Kulit Henry bahkan seperti baju besi, beratnya masif yakni lebih dari 2 ton. Membutuhkan satu truk penuh garam untuk mengawetkannya selama perjalanan dengan truk melalui ratusan mil hutan belantara menuju jalur kereta api terdekat di Silva Porta (Cuíto modern), kemudian ke bengkel Fénykövi di Madrid.
Ketika kulit itu akhirnya tiba di AS, para ahli taksidermi di Smithsonian menghabiskan 16 bulan untuk mempersiapkan spesimen tersebut untuk dipajang dan menggunakan lebih dari 4.989 kilogram tanah liat untuk model skala penuh. Pada tahun 1959, spesimen yang telah diawetkan itu secara resmi diresmikan kepada publik di National Museum of Natural History di DC.
Gajah semak Afrika adalah hewan darat terbesar yang masih hidup hingga saat ini. Tidak mengherankan, ada beberapa kandidat bagi hewan ini untuk gelar gajah terbesar yang pernah tercatat. Guinness World Records, misalnya, mengaitkan rekor tersebut dengan gajah Angola lain yang ditembak pada November 1974, yang diperkirakan memiliki tinggi 3,96 meter. Namun, tidak ada dokumentasi ilmiah untuk memverifikasi klaim tersebut.
Sumber: detik.com













