Menu ✖

Dark Mode
Pakar UGM Minta RI Contoh Trik Singapura Sulap Sungai Kering Jadi Wisata Cuan Dilantik Jadi Kapolda DIY, Ini yang Akan Dilakukan Langgeng Soal Karhutla DIY Dilanda Kemarau Panjang, ini Pesan Pakar UGM Bukan Cuma GPS, Teknologi Ini Cegah Kecelakaan hingga Pangkas Biaya Red Fitness Ajak Anggota PWI Kota Bogor Jaga Kebugaran Evaluasi HUT Ke-270 Kota Jogja, DPRD DIY Minta Anggaran 2027 Harus Berpihak Rakyat

Headline

DIY Dilanda Kemarau Panjang, ini Pesan Pakar UGM

badge-check


					DIY Dilanda Kemarau Panjang, ini Pesan Pakar UGM Perbesar

Jogjakarta– Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mengalami masa kekeringan tanpa hujan selama lebih dari 130 hari. Menanggapi hal ini, Pakar Sumber Daya Air dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Maryono, menegaskan pentingnya langkah darurat sekaligus edukasi jangka panjang bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Prof. Agus menyampaikan, penanganan pertama yang mendesak adalah pemetaan wilayah terdampak kekeringan untuk kebutuhan air minum dan air bersih. Menurutnya, Bantuan penyaluran (dropping) air memang diperlukan sebagai respon darurat, namun tidak boleh menjadi satu-satunya solusi berulang setiap tahun.

“Dropping air itu harus fix untuk kebutuhan air minum dan masak melalui pemetaan. Tapi dropping air jangan sampai membuat tahun depan drop lagi. Harus dibagi, dropping air sedikit tapi yang kedua edukasi untuk memanen air hujan,” ujarnya, saat ditemui di Kampus UGM, Kamis (8/10/2026).

Ia menyarankan agar sarana penampungan air hujan tradisional berbasis kearifan lokal (local wisdom) seperti toren beton dan kolah kembali dihidupkan. Selain memanen air hujan, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau aktif mencari serta merevitalisasi sumber air yang ada.

“Sumur-sumur yang sudah tidak ada airnya bisa didalamkan lagi 1 sampai 4 meter nanti ada airnya, dipompa lagi ke atas. Mata air yang mati di-stripping dan direvitalisasi. Bahkan di sungai-sungai yang mengering, kalau dikeruk dibuat sumuran kecil, airnya masih ada di bawah situ,” jelas pionir pemanen air hujan Indonesia tersebut.

Terkait kekhawatiran masyarakat mengingat proyeksi hujan baru terjadi pada akhir November, Prof. Agus meminta aksi nyata berbasis komunitas dari tingkat RT/RW hingga pemerintah desa. Ia juga menekankan pentingnya memfungsikan kembali sumur-sumur warga yang mangkrak usai beralih ke layanan PDAM.

“Banyak sumur di perkotaan tidak dipakai karena beralih ke PDAM. Daripada tidak dipakai, air hujan masukkan ke sumur itu. Fungsinya ada dua, kualitas airnya jadi baik dan kuantitas air tanahnya naik,” jelasnya.

Di samping krisis air bersih, kemarau panjang juga berdampak pada psikologis warga yang memicu peningkatan kasus kebakaran. Menurutnya, kondisi lahan yang sangat kering membuat tindakan kecil seperti membakar sampah di pemukiman atau lahan pertanian mudah meluas menjadi kebakaran besar.

Kendati demikian, mengenai riset penanganan kemarau, Prof. Agus menyayangkan masih minimnya studi ilmiah mengenai solusi kekeringan dibandingkan dengan penelitian banjir.

“Hampir sulit sekali mencari orang meneliti kekeringan, kalau meneliti banjir banyak. Universitas harus menggerakkan penelitian kekeringan ini bagaimana solusinya, how to solve the problem,” tandasnya. K-ollf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pakar UGM Minta RI Contoh Trik Singapura Sulap Sungai Kering Jadi Wisata Cuan

9 October 2026 - 20:30 WIB

Dilantik Jadi Kapolda DIY, Ini yang Akan Dilakukan Langgeng Soal Karhutla

9 October 2026 - 20:22 WIB

Evaluasi HUT Ke-270 Kota Jogja, DPRD DIY Minta Anggaran 2027 Harus Berpihak Rakyat

8 October 2026 - 21:17 WIB

Sosiolog UGM: Jangan Musuhi Rakyat dan Mahasiswa

8 October 2026 - 21:09 WIB

Pasar Gembrong Sukasari Diganjar Sertifikat SNI Pasar Rakyat

8 October 2026 - 20:42 WIB

Trending on Headline