Menu

Dark Mode
Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak HPN 2026 Banten Siap Digelar, PWI Pusat dan Panitia HPN Konsolidasi Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

Kabar Lifestyle

China Ciptakan Pulau Buatan Raksasa Setelah 12 Tahun Nimbun Pasir

badge-check


					Foto: Damascus Bite Perbesar

Foto: Damascus Bite

Jakarta – Selama 12 tahun terakhir, China menumpuk pasir dalam jumlah besar ke tengah Laut China Selatan. Upaya ini berhasil mengubah karang dangkal dan terumbu kosong menjadi pulau buatan luas yang kini berperan sebagai pangkalan strategis di kawasan yang penuh sengketa laut tersebut.

Dikutip detikINET dari Damascus Bite, transformasi yang dramatis ini memengaruhi peta geografis sekaligus mengubah dinamika politik dan ekonomi di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Perubahan itu terlihat jelas lewat citra satelit yang memperlihatkan bagaimana pulau-pulau baru dengan landasan pacu, radar, jalan, dan fasilitas lain kini berdiri di tempat yang 12 tahun lalu hanya berupa garis air dan karang yang hampir tertutup saat air pasang. Pulau-pulau yang dulunya merupakan lingkaran karang putih, kini berubah menjadi benteng beton lengkap dengan infrastruktur modern.

China kemudian secara resmi menyatakan bahwa pembangunan ini dimaksudkan untuk mendukung fasilitas ‘sipil’ seperti navigasi dan keselamatan pelayaran. Namun di lapangan, berdasarkan citra dan laporan menunjukkan keberadaan landasan pacu panjang, radar, dan fasilitas militer lain berdampingan dengan mercusuar dan stasiun cuaca.

“Kami membangun pulau ini agar kami merasa lebih aman, tetapi setiap pulau juga terasa seperti pemicu baru. Semakin banyak perangkat keras yang Anda tempatkan di pasir yang terus berubah, semakin mudah sesuatu bisa lepas kendali,” kata seorang analis keamanan dari Manila, Filipina.

Pernyataan ini menggambarkan ketegangan yang dirasakan negara-negara tetangga di kawasan akibat perluasan laut buatan tersebut.

Pembangunan yang Cepat

Pembangunan pulau buatan ini berjalan cepat. Antara 2013 hingga 2016, China menciptakan lebih dari 1.200 hektar lahan baru di Kepulauan Spratly. Luas ini setara dengan 1.600 lapangan sepak bola. Pembangunan pulau dilakukan dengan memompa pasir dari dasar laut ke karang-karang dan rata-rata menyusun permukaan daratan yang stabil.

Proses ini dimulai dengan dredger atau kapal keruk yang menyedot sedimen dari dasar laut lalu memompanya ke terumbu karang. Setelah itu, bulldozer meratakan dan memadatkan pasir, sementara tembok batu dan beton dibangun untuk melindungi pulau dari gelombang dan badai. Ketika struktur dasar sudah siap, fondasi untuk bangunan, pembangkit listrik, unit desalinasi air, dan fasilitas lain kemudian dilengkapi.

Dampaknya jauh lebih besar dari sekadar perubahan peta. Pulau-pulau ini kini menjadi titik strategis di jalur pelayaran penting yang dilintasi sekitar sepertiga perdagangan global setiap tahunnya, serta berada di wilayah yang diperkirakan menyimpan cadangan minyak dan gas yang besar.

Dampak Lingkungan

Namun, ekspansi ini juga membawa konsekuensi lingkungan yang serius. Proses reklamasi telah menyebabkan kerusakan terumbu karang dalam skala besar, dengan sedimen yang menyelimuti dan menghancurkan habitat laut, sehingga merusak tempat bertelur ikan dan habitat penyu laut.

Selain dampak ekologis, pulau-pulau buatan ini juga memengaruhi mata pencaharian nelayan lokal. Kapal-kapal penangkap ikan kini harus menghindari zona yang dulu bisa mereka layari dengan bebas, sementara kapal patroli laut negara lain kerap mengawasi perairan di sekitarnya.

Para pakar hukum internasional pun menunjukkan bahwa meskipun pembangunan pulau buatan ini menciptakan daratan baru, banyak dari struktur tersebut tidak memberikan hak zona ekonomi eksklusif yang sama seperti pulau alami menurut hukum laut internasional, meskipun China menolak keputusan tersebut.

Pernyataan ini menggambarkan ketegangan yang dirasakan negara-negara tetangga di kawasan akibat perluasan laut buatan tersebut.

Pembangunan yang Cepat

Pembangunan pulau buatan ini berjalan cepat. Antara 2013 hingga 2016, China menciptakan lebih dari 1.200 hektar lahan baru di Kepulauan Spratly. Luas ini setara dengan 1.600 lapangan sepak bola. Pembangunan pulau dilakukan dengan memompa pasir dari dasar laut ke karang-karang dan rata-rata menyusun permukaan daratan yang stabil.

Proses ini dimulai dengan dredger atau kapal keruk yang menyedot sedimen dari dasar laut lalu memompanya ke terumbu karang. Setelah itu, bulldozer meratakan dan memadatkan pasir, sementara tembok batu dan beton dibangun untuk melindungi pulau dari gelombang dan badai. Ketika struktur dasar sudah siap, fondasi untuk bangunan, pembangkit listrik, unit desalinasi air, dan fasilitas lain kemudian dilengkapi.

Dampaknya jauh lebih besar dari sekadar perubahan peta. Pulau-pulau ini kini menjadi titik strategis di jalur pelayaran penting yang dilintasi sekitar sepertiga perdagangan global setiap tahunnya, serta berada di wilayah yang diperkirakan menyimpan cadangan minyak dan gas yang besar.

Dampak Lingkungan

Namun, ekspansi ini juga membawa konsekuensi lingkungan yang serius. Proses reklamasi telah menyebabkan kerusakan terumbu karang dalam skala besar, dengan sedimen yang menyelimuti dan menghancurkan habitat laut, sehingga merusak tempat bertelur ikan dan habitat penyu laut.

Selain dampak ekologis, pulau-pulau buatan ini juga memengaruhi mata pencaharian nelayan lokal. Kapal-kapal penangkap ikan kini harus menghindari zona yang dulu bisa mereka layari dengan bebas, sementara kapal patroli laut negara lain kerap mengawasi perairan di sekitarnya.

Para pakar hukum internasional pun menunjukkan bahwa meskipun pembangunan pulau buatan ini menciptakan daratan baru, banyak dari struktur tersebut tidak memberikan hak zona ekonomi eksklusif yang sama seperti pulau alami menurut hukum laut internasional, meskipun China menolak keputusan tersebut.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein

4 February 2026 - 13:19 WIB

Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek

4 February 2026 - 13:16 WIB

Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya

4 February 2026 - 13:14 WIB

Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak

4 February 2026 - 13:11 WIB

Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

3 February 2026 - 11:47 WIB

Trending on Kabar Lifestyle