Menu

Dark Mode
Daar Edi Yoga: Insan Pers Diimbau Sajikan Berita Menyejukkan Perusahaan Ini Bawa Emas ke Dunia Digital Berbasis Blockchain Lewat Kolaborasi Bank dan Industri Kripto, Indonesia Incar Posisi Pemain Utama Keuangan Digital WhatsApp Luncurkan Fitur Bantuan Menulis Berteknologi AI Challenge-Based Learning Jadi Senjata Apple Academy Bali Cetak Inovator Muda Munir Resmi Nahkodai PWI Pusat 5 Tahun ke Depan

Kabar Lifestyle

Challenge-Based Learning Jadi Senjata Apple Academy Bali Cetak Inovator Muda

badge-check


					Cuplikan para siswa di Apple Developer Academy Bali Foto: (Kompas.com/soffyaranti) Perbesar

Cuplikan para siswa di Apple Developer Academy Bali Foto: (Kompas.com/soffyaranti)

Apple Developer Academy di Bali memiliki sejumlah mentor dengan latar belakang berbeda yang mewarnai metode pengajaran mereka. 

Tiga di antaranya, John Keating, Richard Evan Sutanto, dan Adhella Subalie, menuturkan bahwa setiap mentor memiliki ciri khas dalam mendampingi siswa. Meski berbeda, mereka sepakat bahwa proses lebih penting daripada hasil akhir dalam berinovasi. 

Menurut John, salah satu prinsip yang selalu ia tekankan adalah bahwa “making a product is progress”. Baginya, mengembangkan sebuah produk bukan soal kesempurnaan, melainkan keberanian untuk berproses dan terus melakukan perbaikan. 

Ia menambahkan bahwa para siswa perlu didorong untuk menghargai perjalanan membangun solusi. Dari proses inilah pembelajaran terbesar terjadi.

Adhella Subalie menambahkan pentingnya dimensi profesional dalam pengembangan produk. “How to make it professional, proses itu akan terus terjadi iterasi, iterasi, iterasi lagi,” ujarnya.

Adhella Subalie menekankan pentingnya dimensi profesional dalam pengembangan produk. 

“Bagaimana membuatnya profesional, prosesnya akan terus terjadi iterasi demi iterasi,” ujarnya, kepada KompasTekno di Denpasar, Bali, Jumat (29/8/2025).

Ia menekankan bahwa setiap proyek tidak pernah selesai dalam sekali coba, tetapi selalu membutuhkan pengulangan agar produk menjadi lebih matang sekaligus relevan bagi penggunanya. 

Sementara itu, Richard Evan Sutanto menyoroti penerapan metode challenge-based learning (CBL) di akademi. 

Proses ini biasanya dibagi ke dalam tiga tahapan: memahami masalah, mengeksplorasi ide, dan merancang solusi. Menurut Richard, CBL memungkinkan semua proses ini dilakukan terus-menerus dengan iterasi berulang.

Sementara itu, Richard Evan Sutanto menyoroti bagaimana metode challenge-based learning (CBL) diterapkan di akademi. 

Menurut dia, proses ini biasanya dibagi ke dalam tiga tahapan, mulai dari investigate case atau memahami masalah, lalu eksplorasi ide, hingga merancang solusi. 

“Kita pakai CBL, semua itu ada proses dan kita akan melakukan iterasi terus,” kata Richard. 

Dengan penerapan CBL, Apple Developer Academy berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif. 

Siswa tidak hanya dituntut menguasai keterampilan teknis, seperti coding dan desain, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis tentang dampak produk mereka terhadap masyarakat dan lingkungan.  

Pendekatan ini diharapkan membuat peserta akademi tumbuh menjadi pembuat solusi kreatif yang profesional, empatik, dan bertanggung jawab. 

Tidak mengherankan jika Apple Developer Academy, baik di Bali maupun lokasi lain, menjadi pilihan siswa yang ingin mengembangkan keterampilan teknologi sekaligus berkontribusi positif bagi dunia.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Perusahaan Ini Bawa Emas ke Dunia Digital Berbasis Blockchain

31 August 2025 - 14:31 WIB

Lewat Kolaborasi Bank dan Industri Kripto, Indonesia Incar Posisi Pemain Utama Keuangan Digital

31 August 2025 - 13:58 WIB

WhatsApp Luncurkan Fitur Bantuan Menulis Berteknologi AI

31 August 2025 - 13:41 WIB

Kemunculan ‘Kelinci Zombie’ Kagetkan Warga AS, Punya Tanduk dan Tentakel

30 August 2025 - 14:58 WIB

Microsoft: Bukan PHK, Ini yang Harus Ditakutkan dari AI

30 August 2025 - 14:42 WIB

Trending on Kabar Lifestyle